ꦧꦸꦢꦪ

Menghidupkan Warisan Tayuban Mbah Roekoen di Simo Kalangan, Surabaya

×

Menghidupkan Warisan Tayuban Mbah Roekoen di Simo Kalangan, Surabaya

Sebarkan artikel ini
Ritual adat Umbul Dungo melalui gelaran Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Nuansa khidmat yang sarat akan nilai spiritual berpadu selaras dengan eksotistem kekayaan budaya Jawa di sudut Kota Pahlawan. Kawasan Simo Kalangan, Surabaya, mendadak riuh oleh gema gamelan dalam penyelenggaraan ritual adat Umbul Dungo yang dirangkai dengan gelaran Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro.

Gelaran kebudayaan yang diinisiasi oleh keluarga besar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo pada Rabu (15/07) ini menjadi wujud penghormatan, bakti, sekaligus kirim doa bagi sosok sesepuh yang semasa hidupnya dikenal sangat mencintai seni tradisional serta menjunjung tinggi nilai kebersamaan antardesa.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Rangkaian acara ini didesain tidak hanya untuk menghadirkan hiburan pertunjukan budaya semata, melainkan membawa substansi makna teologis yang mendalam. Ritual Umbul Dungo memegang posisi sentral sebagai inti kegiatan, di mana doa bersama dipanjatkan oleh keluarga, kerabat, sahabat, hingga masyarakat sekitar agar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo memperoleh ampunan serta tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Seni Tayuban dan Reog Sebagai Tenger Warisan Leluhur

Suasana peringatan sasi Suro di Simo Kalangan kian semarak ketika alunan gamelan ditabuh. Dentuman gong dan petikan karawitan dalam Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro sengaja dikombinasikan dengan pakem tari tayuban serta atraksi dinamis seni Reog.

Pertunjukan seni visual ini dihadirkan bukan tanpa alasan, melainkan menjadi simbol hidup untuk merefleksikan kecintaan mendalam almarhum terhadap kebudayaan asli tanah Jawa semasa hidupnya.

Agus Mulyo, SH, salah satu keturunan langsung dari almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo, menjelaskan bahwa ketukan instrumen gamelan tersebut sengaja disajikan sebagai tenger atau penanda historis bagi generasi muda.

“Semasa hidup, Mbah Roekoen sangat menyukai musik tayuban. Karena itu, keluarga menghadirkan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro sebagai tenger atau pengingat akan kecintaan beliau terhadap seni tayuban,” tuturnya.

Baca Juga  Menguak Sanepo 'Wahyu Kamulyan Jati': Menjemput Kemuliaan Hidup Lewat Seni Wayang Kulit

Melalui untaian doa yang diaminkan secara massal tersebut, pihak keluarga berharap tumpahan berkah dapat mengalir menjadi amal jariyah yang tak terputus bagi almarhum di alam keabadian.

“Namun yang paling utama adalah Umbul Dungo, yaitu doa yang kami persembahkan untuk almarhum,” ujar Agus di sela-sela acara.

Keluarga besar almarhum Mbah Roekoen Rekso Mulyo.

Harmoni Sosial di Bulan Suro

Bertepatan dengan momentum bulan Suro (Muharram) yang dalam kosmologi Jawa dikenal sarat akan muatan refleksi diri dan kesucian spiritual, kegiatan kolosal ini sukses menyedot antusiasme ratusan warga.

Di luar aspek ritus keagamaan, pelataran Simo Kalangan bertransformasi menjadi ruang komunal yang mempertemukan simpul silaturahmi lintas generasi.

Agus menambahkan, figur Mbah Roekoen Rekso Mulyo memang melekat di hati warga sebagai sosok yang membumi, dekat dengan masyarakat, dan konsisten pasang badan demi lestarinya kebudayaan lokal di era gempuran modernisasi kota.

Melalui perpaduan sakral antara rapalan doa, gerak tari tradisi, dan ketukan ritmis karawitan, perhelatan ini menjadi saksi bisu bahwa penghormatan tertinggi kepada para leluhur dapat diwujudkan secara elegan. Yakni dengan menjaga warisan budaya tetap membumi sekaligus mempererat tali persaudaraan horizontal di tengah kemajemukan masyarakat urban Surabaya.

“Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kerukunan serta keberkahan,” pungkas Agus

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Keberadaan artefak-artefak kuno yang dikoleksi Suyanto tidak hanya memunculkan pertanyaan mengenai usia dan asal-usulnya. tetapi juga…