Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Laut Jawa menyimpan jejak Sundaland. Yakni daratan purba yang pernah menghubungkan Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya ketika muka laut jauh lebih rendah. Dari lanskap yang kini tenggelam itu, peneliti Dhani Irwanto menyusun hipotesis Atlantis di Laut Jawa dengan memadukan data batimetri, citra satelit, model elevasi digital, serta kajian geologi.
Pada zaman es, muka laut Asia Tenggara lebih rendah sekitar 120–130 meter dari kondisi sekarang. Paparan dangkal yang kini menjadi dasar laut kemudian berubah menjadi daratan luas yang dikenal sebagai Sundaland.
Perubahan muka laut tersebut membuat garis pantai purba berada jauh dari garis pantai modern. Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya pernah terhubung dalam satu bentang daratan.
Jejak lanskap itu masih dapat dibaca melalui bentuk dasar laut. Lembah, cekungan, dan alur tertentu dapat menjadi petunjuk keberadaan jaringan sungai purba yang pernah mengalir ketika wilayah tersebut masih terbuka.
Namun, keberadaan Sundaland tidak serta merta menjadi bukti Atlantis. Fakta paleogeografi hanya menunjukkan bahwa kawasan yang kini tenggelam memang pernah menjadi daratan.
Membaca Dasar Laut
Rekonstruksi dilakukan dengan menggabungkan data topografi dan batimetri. Topografi menunjukkan ketinggian daratan, sedangkan batimetri menggambarkan kedalaman serta bentuk dasar laut.
Data tersebut kemudian disusun menjadi Digital Elevation Model (DEM). Dengan model ini, permukaan laut dapat diturunkan secara digital untuk memperkirakan wilayah yang dahulu menjadi daratan.
Data batimetri global tidak seluruhnya berasal dari pengukuran langsung menggunakan sonar. Di wilayah yang minim survei kapal, kedalaman dasar laut juga diperkirakan melalui data altimetri satelit.
Karena itu, peneliti Dhani Irwanto memperkuat data tersebut untuk membaca bentuk besar dasar laut. Tetapi belum memadai untuk memastikan keberadaan struktur kecil seperti jalan, kanal, tembok, atau bangunan.
Ketika Peta Bertemu Hipotesis
Rekonstruksi Sundaland dilakukan dengan menyatukan data elevasi daratan dan kedalaman laut. Setelah sistem koordinat serta resolusi diseragamkan, data diproses menjadi DEM komposit.
Peneliti kemudian memilih skenario muka laut tertentu. Kontur sekitar minus 120 meter, misalnya, dapat digunakan untuk memperkirakan garis pantai ketika muka laut berada pada kondisi sangat rendah.
Dari model tersebut terlihat dataran luas yang mencakup sebagian Laut Jawa. Bentuk lembah dan alur dasar laut juga dapat digunakan untuk memperkirakan jaringan sungai purba. Namun, model digital bukan akhir penelitian. Hasil rekonstruksi perlu dibandingkan dengan data sedimen, inti bor, survei seismik, pemeruman multibeam, dan bukti geologi lainnya.
Penurunan daratan, sedimentasi, erosi, dan aktivitas tektonik juga perlu diperhitungkan karena dapat mengubah garis pantai dan jaringan sungai dari waktu ke waktu.
Sejumlah kajian menunjukkan Paparan Sunda mengalami penurunan sehingga bagian tertentu kini berada sekitar 50–120 meter di bawah muka laut modern. Temuan tersebut memperkuat fakta bahwa Sundaland pernah menjadi daratan, meski tetap belum membuktikan adanya Atlantis di kawasan tersebut.
Dhani sendiri memulai penelitiannya dengan membaca dialog Plato, Timaeus dan Critias. Ia kemudian mencocokkan uraian Atlantis dengan kondisi geografi, hidrologi, geologi, sejarah, dan mitologi Asia Tenggara. “Hasil penelitian saya. Kotanya, ibukota Atlantis itu ada di Laut Jawa,” kata Dhani dalam laporan Mongabay.
Dalam laporan ANTARA, Dhani juga menjelaskan dasar geografis hipotesis tersebut. “Plato menyebut Atlantis terletak dalam sebuah selat yang mempunyai pelabuhan. Itu berada di Laut Jawa,” kata Dhani.
Dalam hipotesisnya, dataran Kalimantan Selatan dianggap memiliki sejumlah karakter yang dapat dikaitkan dengan narasi Plato. Pegunungan Muller-Schwaner dan Meratus juga ditafsirkan sebagai kemungkinan bagian dari gambaran pegunungan Atlantis.
Dhani turut menghubungkan sejumlah sungai besar, seperti Barito, Kapuas, Kahayan, Murung, dan Sebangau, dengan sistem perairan dalam kisah Atlantis. Untuk lokasi ibu kota, ia menunjuk Gosong Gia atau Annie Florence Reef, sekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean.
Dhani menafsirkan bentuk terumbu dan kedalaman kawasan tersebut sebagai kemungkinan kecocokan dengan gambaran kota berlapis lingkaran dalam tulisan Plato.
Namun, lokasi tersebut masih merupakan kandidat yang memerlukan penelitian lebih lanjut, bukan situs Atlantis yang telah terbukti.
Nah, perangkat seperti Google Earth sejatinya dapat membantu memvisualisasikan posisi Gosong Gia, Bawean, Kalimantan Selatan, serta bentang Laut Jawa dalam satu tampilan. Tetapi Google Earth bukan instrumen pembuktian arkeologis. Platform tersebut hanya membantu visualisasi, sedangkan pembuktian memerlukan survei lapangan dan metode ilmiah yang dapat diuji.
Citra satelit juga memiliki keterbatasan. Kekeruhan, kedalaman, sedimentasi, dan resolusi citra membatasi kemampuan pengamatan langsung terhadap dasar Laut Jawa. Pada perairan dangkal, citra satelit dapat membantu memperkirakan batimetri melalui warna dan pantulan cahaya. Hasilnya tetap perlu dibandingkan dengan data dari proses pengukuran kedalaman air dan pemetaan bentuk permukaan atau topografi dasar perairan (pemeruman). (ibn)












