Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Teka-teki Atlantis kini tidak hanya menyangkut lokasi kota yang hilang, tetapi juga jalur masuk menuju kawasan tersebut. Dalam kajian terbaru, insinyur teknik sipil hidro senior Dhani Irwanto membaca istilah “mouth” dalam teks Plato sebagai gerbang laut, lalu menguji tiga kemungkinan arah, yakni timur, selatan, dan barat.
———————————-
Dhani Irwanto menyusun pembacaan itu dengan menelusuri urutan perjalanan seorang pelaut dalam dialog Timaeus dan Critias. Rutenya bergerak dari laut luar menuju “mouth”, kemudian masuk ke laut dalam, kanal, hingga perairan yang mengelilingi pusat kota.
Dalam kajiannya, Dhani menggunakan istilah Yunani stoma yang berarti mulut, bukaan, atau pintu masuk. Menurut dia, istilah tersebut tidak harus diterjemahkan secara sempit sebagai selat.
“The point is the function, not a fixed latitude,” tulis Dhani dalam kajiannya mengenai “mouth” Atlantis. Artinya, perhatian utama berada pada fungsi geografis sebagai pintu masuk, bukan penetapan lokasi berdasarkan istilah tersebut.
Pembacaan itu menghasilkan pertanyaan penting. Jika “mouth” merupakan gerbang laut, dari arah mana kapal datang, apa yang dilihat pelaut, dan ke mana jalurnya berlanjut?
Dhani kemudian menyusun tiga model berdasarkan orientasi mata angin, yaitu East-Mouth Model, South-Mouth Model, dan West-Mouth Model. Ketiganya ditempatkan sebagai kemungkinan struktur geografis, bukan kesimpulan lokasi Atlantis.
Dalam model itu, arah utara sulit digunakan sebagai posisi “mouth”. Karena Plato menggambarkan kawasan pegunungan berada di sisi utara dataran. Karena itu, tiga arah lain diuji berdasarkan hubungan antara laut luar, laut dalam, dataran, pegunungan, pulau-pulau, dan benua di seberang.
Pada model timur, “mouth” berada di sebelah timur laut dalam. Laut luar dengan pulau-pulau lain berada di sisi tersebut, sedangkan dataran berada di utara laut dalam.
Model selatan menempatkan gerbang langsung di selatan laut dalam. Sementara model barat menempatkan gerbang di sebelah barat, dengan laut luar dan pulau-pulau berada pada kawasan yang sama.
Dhani menilai model-model tersebut harus diuji melalui kecocokan berbagai petunjuk dalam teks. Dalam rekonstruksinya, model timur menunjukkan konsistensi lebih tinggi setelah digabungkan dengan sejumlah kendala lingkungan dan paleogeografi.
Namun, penilaian tersebut tetap merupakan hasil rekonstruksi Dhani. Kajian itu sendiri menyebut ketiga model sebagai “structural possibilities”, sehingga belum dapat diperlakukan sebagai bukti Atlantis berada di Laut Jawa.
Teks Plato memang memberikan sejumlah petunjuk mengenai akses laut. Dalam Critias, kota Atlantis digambarkan memiliki kanal yang menghubungkan laut dengan kawasan lingkaran air di sekitar pusat kota.
Kanal ini disebut memiliki ukuran yang memungkinkan kapal besar melewatinya. Gambaran itu berbeda dari “mouth” yang menjadi ambang antara perairan luar dan kawasan internal.
Sementara itu, dalam Timaeus, Plato menggambarkan keberadaan “mouth” sebelum bagian dalam kawasan Atlantis. Struktur narasi tersebut memungkinkan pembacaan bahwa perjalanan menuju Atlantis melewati suatu ambang perairan sebelum mencapai wilayah internal.
Di sinilah persoalan paleogeografi menjadi penting. Jika hipotesis Laut Jawa hendak diuji, arah gerbang harus dibandingkan dengan bentuk daratan Sundaland pada masa ketika sebagian besar Paparan Sunda masih berupa daratan.
Peneliti geologi dan kebencanaan BRIN Danny Hilman Natawidjaja menyebut Sundaland memiliki sejarah geologi dan paleogeografi yang unik. “Sundaland merupakan satu-satunya daratan yang tenggelam di kawasan tropis,” kata Danny dalam lokakarya penemuan ilmiah Paparan Sunda.
Menurut Danny, pada zaman es terakhir permukaan laut sekitar 130 meter lebih rendah dibanding kondisi sekarang. Sekitar 9.600 SM, permukaan laut masih sekitar 60 meter lebih rendah sebelum proses pencairan es menyebabkan kenaikan muka laut.
Kondisi tersebut membuat peta modern tidak dapat langsung digunakan untuk membaca geografi masa lalu. Garis pantai, selat, teluk, dan jalur perairan masa lalu perlu direkonstruksi menggunakan data geologi, batimetri, dan paleogeografi.
Karena itu, pertanyaan tentang “mouth” Atlantis bukan sekadar mencari pintu masuk sebuah kota. Pertanyaan tersebut menyangkut bagaimana seorang pelaut mungkin bergerak dari laut terbuka menuju kawasan perairan yang lebih terlindung.
Pengujian selanjutnya dapat membandingkan tiga arah tersebut dengan data dasar laut, bentuk paparan benua, bekas garis pantai, jalur perairan purba, serta posisi pulau dan pegunungan.
Jika pola-pola itu menunjukkan kecocokan konsisten, hipotesis geografis dapat memperoleh dasar pengujian yang lebih kuat. Namun, selama bukti independen belum tersedia, “mouth” tetap menjadi petunjuk penelitian, bukan bukti akhir Atlantis.
Dari sinilah misteri Atlantis memperoleh sisi baru. Bukan hanya kota yang dicari, melainkan juga pintu geografis yang mungkin pernah dilalui manusia menuju sebuah lanskap yang kini telah berubah. (*/ibn)












