Intisari Berita:
China mengembangkan sistem peringatan dini bencana berbasis AI bernama Mazu, yang memadukan teknologi canggih dan mitologi budaya dewi laut.
Mengintegrasikan data satelit Fengyun serta model AI (Fenglei, Fengqing, Fengshun) untuk memprediksi badai, banjir, dan cuaca ekstrem secara presisi.
Telah diadopsi oleh lebih dari 40 negara secara cloud-based, memicu lompatan besar pada mitigasi bencana global lintas sektor.
Shanghai, Jatimmandiri.id – Di tengah pesatnya eskalasi perubahan iklim global, Administrasi Meteorologi China (China Meteorological Administration/CMA) meluncurkan terobosan mutakhir berupa sistem peringatan dini bencana berbasis Kecerdasan Buatan (AI) bernama Mazu.
Uniknya, nama Mazu diserap dari tokoh mitologi budaya lokal, yakni dewi pelindung laut yang dipercaya menjaga keselamatan para pelaut—sebuah refleksi simbolis bagi peran sistem ini dalam melindungi masyarakat dari ancaman bencana alam.
Diperkenalkan secara resmi pada ajang World AI Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, sistem ini dirancang untuk membaca dan menganalisis potensi bencana ekstrem seperti badai tropis, banjir, hingga kenaikan suhu ekstrem secara presisi.
Integrasi Data Satelit Fengyun dan Model Prediksi Berbasis AI
Staf Biro Meteorologi Shanghai, You Yang, memaparkan bahwa kekuatan utama sistem Mazu terletak pada kemampuannya mengonsolidasikan data secara terpadu dari berbagai sumber mutakhir.
Sistem ini menyerap transmisi data real-time dari jejaring satelit meteorologi Fengyun milik China. Data tersebut kemudian diolah secara intensif menggunakan sederet model prediksi AI khusus:
-
Model Fenglei: Berfokus pada analisis dinamika dan intensitas badai.
-
Model Fengqing: Memprediksi pergerakan serta pola cuaca ekstrem.
-
Model Fengshun: Memetakan indikator kondisi atmosfer, tekanan udara, jarak pandang, hingga dinamika suhu.
“Sistem Mazu mampu melacak berbagai indikator meteorologi secara real-time untuk memberikan peringatan dini akurat agar masyarakat lebih siap menghadapi cuaca ekstrem yang tidak menentu,” ulas You Yang.
Diadopsi 40 Negara: Dari Sektor Pertanian Hingga Pelabuhan Internasional
Fleksibilitas sistem Mazu membuatnya sangat adaptif terhadap profil geografis, infrastruktur, dan risiko bencana di berbagai negara. Pemanfaatannya mencakup sektor perhubungan/transportasi, ketahanan energi, pertanian, hingga kawasan ekonomi dataran rendah (low-altitude economy).
Hingga saat ini, sistem berbasis komputasi awan (cloud-based) tersebut telah menjangkau lebih dari 40 negara dan wilayah di dunia. Salah satu bentuk implementasi nyatanya terlihat di Djibouti sejak Juli 2025 melalui model Mazu-Urban. Model ini difungsikan khusus sebagai benteng mitigasi multi-bahaya untuk memantau gelombang panas (heatwave) serta deteksi angin kencang di kawasan pelabuhan.
Tantangan Edukasi dan Peluang Aksesibilitas Masa Depan
Meskipun keandalan teknologi Mazu menawarkan lompatan besar dalam mitigasi bencana, penerapannya di lapangan masih dihadapkan pada tantangan pemerataan akses teknologi serta edukasi literasi bencana bagi masyarakat awam.
Namun demikian, perpaduan kolaboratif antara pemerintah, komunitas ilmuwan, dan masyarakat luas dinilai menjadi kunci utama dalam mengubah data prediksi AI menjadi aksi nyata penyelamatan jiwa. Mazu menjadi bukti konkret bahwa kecanggihan AI dan kearifan nilai budaya lokal dapat berjalan bersisian dalam membangun ketahanan iklim global.










