Metropolitan

Lapor Pak Wo, Pertamax Naik! Yang Sesak Bukan Cuma Tangki, Tapi Dada Rakyat

×

Lapor Pak Wo, Pertamax Naik! Yang Sesak Bukan Cuma Tangki, Tapi Dada Rakyat

Sebarkan artikel ini
Eko Yudiono Pemred jatimmandiri.id.
Example 468x60

PERTAMAX naik.

Yang bilang hanya Pertamax yang naik mungkin tidak pernah belanja ke pasar. Atau mungkin tidak pernah mengantar anak sekolah sambil menghitung sisa uang di dompet.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Katanya, yang terdampak hanya kalangan menengah.

Benarkah?

Di negeri ini, kalau BBM naik, yang ikut naik bukan cuma harga di SPBU. Ongkos angkut naik. Harga sayur naik. Beras naik. Cabai ikut naik. Ujung-ujungnya, harga makan siang di warung pun ikut menyesuaikan.

Yang tetap? Gaji.

Pemerintah punya alasan. Dolar Amerika menyentuh angka Rp18 ribu. Beban subsidi membengkak. APBN harus dijaga.

Masyarakat juga punya alasan.

Dapur harus tetap menyala.

Demo pun terjadi. Dari Jakarta sampai Kendari. Ada yang bertanya, kenapa demo? Toh yang naik Pertamax.

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Jawabannya juga sederhana.

Kalau Pertamax naik, sebagian orang pindah ke Pertalite. Permintaan bertambah. Antrean bertambah. Beban subsidi bertambah. Lalu apa jaminannya Pertalite tidak ikut menyesuaikan?

Yang ditakutkan rakyat sebenarnya bukan kenaikan hari ini.

Tapi kenaikan berikutnya.

Efek domino itu nyata.

Pedagang kecil tahu.

Sopir angkutan tahu.

Nelayan tahu.

Petani tahu.

Ibu rumah tangga paling tahu.

Sebab mereka yang setiap hari berhadapan dengan harga-harga.

Pak Wo…

Rakyat ingin bertanya.

Bukankah Indonesia sedang baik-baik saja? Bukankah investasi terus berdatangan? Bukankah setiap kunjungan luar negeri selalu membawa kabar kerja sama bernilai triliunan rupiah?

Kalau memang demikian, mengapa yang pertama kali diminta berkorban justru rakyat?

Kami mungkin tidak paham rumus ekonomi makro.

Kami hanya paham uang belanja yang makin tipis.

Kami hanya paham tahun ajaran baru sudah di depan mata.

Seragam harus beli.

Sepatu harus beli.

Buku harus beli.

Baca Juga  Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Truk Sampah untuk Cegah Kebocoran Air Lindi

Uang saku juga harus disiapkan.

Belum lagi kebutuhan sehari-hari yang pelan-pelan ikut merangkak naik.

Pak Wo…

Rakyat masih ingat janji-janji itu.

Tentang kesejahteraan.

Tentang hidup yang lebih layak.

Tentang negara yang hadir.

Kesejahteraan tentu lebih luas daripada sekadar program bantuan. Lebih besar daripada sekadar makan bergizi gratis.

Kesejahteraan adalah ketika orang tua tidak cemas setiap kali harga BBM naik.

Kesejahteraan adalah ketika pedagang tidak takut barang dagangannya sepi.

Kesejahteraan adalah ketika sopir tidak menghitung rugi sebelum berangkat bekerja.

Mungkin pemerintah punya hitungan.

Tapi rakyat juga punya perasaan.

Dan sering kali, perasaan itu lahir dari pengalaman.

Pengalaman bahwa setiap BBM naik, harga-harga ikut berbaris naik di belakangnya.

Karena itu, Pak Wo…

Ini bukan sekadar keluhan.

Ini laporan.

Kalau memang masih ada ruang untuk dihitung ulang, hitunglah lagi.

Kalau masih ada ruang untuk dikaji ulang, kajilah lagi.

Sebab yang naik hari ini mungkin hanya Pertamax.

Tetapi yang berpotensi turun adalah daya beli rakyat.

Dan ketika daya beli sudah jatuh, yang susah bangkit bukan hanya ekonomi.

Melainkan harapan banyak keluarga Indonesia.

Lapor, Pak Wo.

Suara kecil dari bawah masih menunggu jawaban.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *