Surabaya, Jatimmandiri.id – Sebanyak 171 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN BBK) Universitas Airlangga (UNAIR) diterjunkan ke Kabupaten Ngawi untuk mendukung percepatan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus membantu pengentasan kemiskinan di wilayah pedesaan. Program ini tidak hanya berlangsung selama masa KKN, tetapi dirancang berkelanjutan hingga tiga tahun melalui pengembangan desa binaan.
Mahasiswa dari berbagai fakultas tersebut akan ditempatkan di seluruh desa di Kecamatan Pitu dan Kecamatan Kasreman, dua wilayah yang menjadi fokus pembangunan karena masih menghadapi persoalan kesejahteraan masyarakat.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR M. Muttaqien mengatakan, KKN tahun ini mengusung empat fokus utama, yakni pendidikan, ekonomi, lingkungan hidup, dan kesejahteraan masyarakat. Pada tahap awal, mahasiswa akan melakukan pemetaan potensi dan permasalahan wilayah selama satu bulan sebagai dasar penyusunan program pemberdayaan.
“Mereka sebelumnya juga sudah kami berikan pembekalan intensif secara daring dan luring. Meliputi, gambaran kondisi wilayah dan karakteristik masyarakat Kabupaten Ngawi,” ujarnya.
Meski masa KKN berlangsung selama satu bulan, Muttaqien menegaskan kolaborasi antara UNAIR dan Pemerintah Kabupaten Ngawi tidak berhenti setelah mahasiswa ditarik dari lapangan.
“Program ini akan terus berlangsung selama 3 tahun ke depan, sehingga tercipta kontinuitas program desa binaan UNAIR di Ngawi,” tuturnya.
Kehadiran mahasiswa UNAIR disambut Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, yang menyebut Kecamatan Pitu dan Kasreman termasuk kawasan prioritas karena masih menjadi kantong kemiskinan yang dipengaruhi kondisi geografis.
“Secara topografi kewilayahan, wilayah Ngawi terbagi menjadi tiga, yakni utara, tengah, dan selatan. Kecamatan Pitu dan Kasreman ini masuk dalam wilayah utara bersama Karanganyar, Ngawi, Bringin, dan Karangjati,” ujar Ony.
Ia menjelaskan kawasan utara Ngawi didominasi pegunungan kapur yang memiliki kondisi lahan kering dan beriklim panas. Meski persoalan krisis air bersih saat musim kemarau mulai teratasi melalui berbagai program pemerintah, mayoritas warga masih menggantungkan hidup sebagai petani penggarap lahan Perhutani melalui skema perhutanan sosial.
“Masyarakat di wilayah utara ini demografinya hampir sama, mayoritas adalah petani penggarap lahan hutan (Perhutani) melalui program perhutanan sosial. Mereka menanam jagung, ketela, hingga tembakau. Karena bukan petani sawah, taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di wilayah utara ini relatif rendah,” tambahnya.
Menurut Ony, program KKN UNAIR sejalan dengan arah pembangunan dalam RPJMD Kabupaten Ngawi tahap kedua. Setelah pembangunan infrastruktur dasar, layanan kesehatan melalui Universal Health Coverage (UHC), pendidikan, dan pertanian ramah lingkungan mencapai lebih dari 90 persen pada periode sebelumnya, pemerintah kini memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Di misi yang kedua, orientasi kita lebih kepada penguatan sumber daya manusia yang berkarakter, berbudi pekerti baik, dan membangun peradaban secara holistik. Tidak hanya fisik dan ekonomi,” katanya.
Ia juga melihat banyak peluang kolaborasi antara mahasiswa dan pemerintah daerah melalui transfer pengetahuan yang dapat langsung diterapkan di masyarakat. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu diharapkan mampu memberikan solusi sesuai bidang keahliannya, mulai dari pengelolaan keuangan hingga edukasi kesehatan.
“Bagi mahasiswa ekonomi, misalnya, bisa membantu membuatkan manajemen keuangan atau sistem akuntansi sederhana bagi para petani jagung dan tembakau di Pitu dan Kasreman agar pengelolaan keuangan mereka lebih baik. Mahasiswa kesehatan dan sosial bisa masuk ke ranah edukasi pola hidup sehat dan wawasan lainnya. Masukan dan strategi presisi dari mahasiswa di lapangan akan sangat membantu kami di Pemerintah Daerah,” pungkasnya.












