Intisari Berita:
Anggota DPRD Jatim, Lilik Hendarwati, mendesak penanganan komprehensif menyusul rekor kasus HIV/AIDS Jawa Timur tertinggi secara nasional.
Data menunjukkan akumulasi 65.238 ODHIV di Jatim (data Kemenkes/Dinkes 2025) dengan tambahan 2.599 kasus baru pada Triwulan I 2025.
Mendorong 3 langkah strategis: edukasi usia produktif, perluasan akses skrining tanpa stigma, serta kolaborasi lintas sektor & penguatan ketahanan keluarga.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Tingginya temuan kasus Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS), yang menempati peringkat kasus HIV/AIDS Jawa Timur tertinggi secara nasional mendapat perhatian serius dari kalangan wakil rakyat.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur, Lilik Hendarwati, mengimbau pemerintah daerah untuk tidak sekadar melihat fenomena ini dari sudut pandang medis semata, melainkan sebagai persoalan multidimensi.
“Meningkatnya kasus HIV di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, harus menjadi perhatian serius semua pihak. Ini bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial, pendidikan, dan ketahanan keluarga,” tegas Lilik di Surabaya.
Lonjakan Kasus HIV/AIDS di Jawa Timur
Berdasarkan data integrasi Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2025, angka akumulasi Orang dengan HIV (ODHIV) di Jawa Timur telah menyentuh angka 65.238 orang. Pergerakan temuan kasus baru juga menunjukkan tren signifikan, di mana sepanjang periode Januari hingga Maret 2025 saja telah terdeteksi 2.599 kasus baru.
Tiga Langkah Strategis Penanganan HIV/AIDS
Guna menekan laju penyebaran infeksi sekaligus memutus rantai penularan, DPRD Jawa Timur mendorong Pemprov Jatim dan Pemkab/Pemkot untuk segera memperkuat tiga pilar penanganan:
-
Edukasi dan Literasi Masif: Mengeskalasi sosialisasi pencegahan yang menyasar kelompok remaja dan usia produktif sebagai populasi paling rentan.
-
Perluasan Akses Layanan Kesehatan: Mempermudah jangkauan fasilitas skrining, konseling, serta akses pengobatan terapi ARV (Antiretroviral) secara aman tanpa rasa takut.
-
Pemberantasan Stigma dan Diskriminasi: Menggandeng tokoh agama, lembaga pendidikan, ormas, dan keluarga untuk mengikis stigma negatif terhadap ODHIV yang kerap menjadi penghambat utama deteksi dini.
Penguatan Ketahanan Keluarga sebagai Benteng Utama
Lilik menambahkan bahwa penanganan HIV/AIDS harus berjalan seimbang antara intervensi medis dengan penguatan moral spiritual. Pembinaan karakter generasi muda serta penguatan fungsi keluarga dinilai menjadi benteng pertahanan paling mendasar.
“Stigma justru dapat menghambat deteksi dini dan pengobatan. Karena itu, masyarakat yang hidup dengan HIV harus mendapatkan layanan kesehatan yang layak tanpa diskriminasi. Kita berharap ini menjadi momentum sinergi bersama melindungi generasi mendatang,” tutupnya.












