Intisari Berita:
- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin ziarah ke makam Gubernur pertama Jatim, RMTA Soerjo, di Magetan menjelang peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jatim.
- Prosesi tabur bunga yang dihadiri jajaran Forkopimda dan OPD ini menjadi ruang refleksi untuk menghidupkan kembali nilai kepemimpinan kuat dan pengabdian pahlawan.
- Khofifah menyoroti keteguhan RMTA Soerjo saat menghadapi tentara sekutu pascaproklamasi sebagai teladan nyata keberanian mengambil keputusan kritis bagi para pemimpin masa kini.
Magetan, Jatimmandiri.id — Menjelang peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung prosesi ziarah dan tabur bunga di makam Pahlawan Nasional sekaligus Gubernur pertama Jawa Timur, Raden Mas Tumenggung Ario (RMTA) Soerjo. Acara penghormatan kenegaraan tersebut berlangsung secara khidmat di Kelurahan Kepolorejo, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, pada Selasa (6/10/2026).
Ziarah ke peristirahatan terakhir tokoh perintis kepemimpinan Jawa Timur ini merupakan tradisi yang konsisten digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Momentum sakral dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Provinsi Jawa Timur ini ditujukan untuk mengenang, menghormati, dan menyerap kembali nilai-nilai luhur perjuangan, pengabdian, serta kepemimpinan RMTA Soerjo dalam menjaga keutuhan bangsa.
Prosesi Khidmat Bersama Forkopimda dan Pimpinan Daerah
Upacara diawali dengan apel penghormatan militer, mengheningkan cipta, peletakan karangan bunga di pusara makam pahlawan, hingga penaburan bunga oleh rombongan pimpinan daerah. Khofifah tampak didampingi oleh Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiati beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jawa Timur dan Forkopimda Kabupaten Magetan.
Sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Jawa Timur serta elemen masyarakat yang hadir turut memanjatkan doa bersama di area makam demi kelapangan arwah sang pejuang.
“Hari ini dalam rangkaian Hari Jadi ke-81 Pemprov Jatim, kami melakukan ziarah ke Gubernur dan Wakil Gubernur yang sudah mendahului kita semua. Kita berada di area maqbarah atau makam beliau, harapan kita napas kejuangan dan keberanian untuk membela kemerdekaan itu akan menjadi refleksi bersama sebagai warga bangsa,” ungkap Gubernur Khofifah di sela agenda ziarah.
Rekam Jejak RMTA Soerjo: Birokrat Visioner dan Pahlawan Bangsa
Sosok RMTA Soerjo menempati posisi sentral dalam catatan sejarah Republik Indonesia, khususnya di bumi Jawa Timur. Ia mengemban amanah sebagai Gubernur Jawa Timur pertama pada rentang masa genting kemerdekaan periode 1945–1948, termasuk saat menghadapi agresi militer pascaproklamasi kemerdekaan.
Perjalanan Dedikasi Sebelum Menjadi Gubernur
Sebelum memimpin Jawa Timur, figur kelahiran Magetan ini memiliki pengalaman kepemimpinan teritorial yang matang. RMTA Soerjo tercatat pernah memangku jabatan sebagai Bupati Magetan kurun waktu 1938–1943 serta menjabat sebagai Residen Bojonegoro pada 1943–1945.
Konsistensi Penghormatan Tradisi Pemprov Jatim
Khofifah mengungkapkan bahwa sejak pertama kali dipercaya memegang mandat kepemimpinan di Pemprov Jawa Timur, dirinya secara konsisten memimpin langsung agenda ziarah ke makam RMTA Soerjo tanpa pernah mewakilkannya.
“Sejak kami mendapat mandat di Pemprov, yang memimpin ziarah ke Gubernur pertama, RMTA Soerjo itu selalu saya. Ini bagian dari penghormatan sekaligus bagaimana kita merefleksikan kejuangan beliau di dalam konteks kejuangan hari ini,” jelasnya.
Pelajaran Kepemimpinan Tegas: Keteladanan Menghadapi Krisis
Dalam refleksi sejarahnya, Gubernur Khofifah menitikberatkan pada karakter strong leadership atau kepemimpinan yang tangguh yang dimiliki mendiang RMTA Soerjo. Kepemimpinan yang kokoh dipandang sebagai syarat mutlak agar suatu institusi atau wilayah tidak terombang-ambing ketika didera krisis besar.
“Terima kasih kita kepada RMTA Soerjo yang sudah memiliki strong leadership, jadi kepemimpinan yang sangat kuat, hari itu kalau kepemimpinan tidak kuat itu bisa oleng,” tegas Khofifah.
Khofifah mengajak seluruh elemen pemangku kebijakan, pemangku kepentingan, hingga aparatur sipil di lingkungan Jawa Timur untuk meneladani keteguhan prinsip tersebut di ranah pengabdian masing-masing.
“Mari kita lakukan refleksi untuk kita semua menjadi bagian dari kepemimpinan yang kuat di sektor dan bidang kita masing-masing,” ujarnya.
Ujian Sejarah Pascaproklamasi dan Keberanian Eksekusi Keputusan
Di akhir rangkaian ziarah, Khofifah menguraikan situasi rumit yang dihadapi RMTA Soerjo ketika tentara sekutu Inggris berlabuh di Surabaya pascaproklamasi 1945. Pada masa kritis tersebut, Presiden pertama RI Ir. Soekarno menyerahkan mandat penuh kepada RMTA Soerjo selaku pimpinan wilayah Jawa Timur untuk menentukan langkah strategis daerah.
“Jadi kalau saat itu tentara Inggris datang, dan Bung Karno menyerahkan kepada RMTA Soerjo pada saat itu, untuk mengambil keputusan, itu bukan sesuatu yang sederhana,” tutur Khofifah.
Momentum genting kala itu, menurut Khofifah, membuktikan bahwa mempertahankan kemerdekaan nasional menuntut kombinasi antara semangat pengorbanan batiniah dan nyali intelektual dalam menetapkan keputusan genting di bawah tekanan tinggi.
“Karena di situlah pertaruhan mempertahankan kemerdekaan di awal-awal kita merdeka, kalau kita melihat dari kejuangan dan keberanian yang luar biasa itu, hari ini refleksi kritis harus kita lakukan untuk kita semua bahwa mempertahankan kemerdekaan RI perlu keberanian selain semangat juang,” pungkasnya.












