Langkah intervensi pasar bermodel bantuan langsung ini dinilai krusial untuk menahan laju penurunan daya beli. Pekerja sektor informal, terutama para pengendara ojol.
Dinilai sebagai salah satu kelompok yang paling rentan terdampak apabila terjadi lonjakan harga barang kebutuhan pokok akibat pendapatan harian mereka yang fluktuatif.
“Saat ini yang diperlukan adalah kepekaan sosial, utamanya bahwa fluktuasi harga kebutuhan pokok dapat langsung berdampak pada kesejahteraan keluarga mereka, para ojol, nelayan, dan masyarakat yang tergolong rentan,” urai Gubernur Jatim.
Sinergi Multisektor Dorong Stabilitas Nasional
Guna memastikan rantai perlindungan sosial ini berjalan masif, Khofifah mengingatkan pentingnya menjaga hubungan kemitraan segitiga emas antara Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Pemprov Jatim, dan korporasi negara (BUMN) di daerah.
Program gerakan pangan murah yang dijalankan di berbagai kota di Indonesia ini diharapkan tidak hanya menjadi pemadam kebakaran ekonomi sesaat.
Melainkan mampu memberikan stimulus psikologis pasar guna menjaga stabilitas harga bahan pokok dalam skala nasional.
“Uang yang sedianya dialokasikan untuk membeli beras, minyak, dan gula, kini dapat dialihkan untuk kebutuhan mendesak lainnya, seperti biaya pendidikan anak atau perawatan kendaraan,” imbuh Khofifah.
Di lokasi yang sama, Menko Pangan RI Zulkifli Hasan memberikan apresiasi tinggi atas respons taktis kegesitan jajaran Pemprov Jatim dan manajemen PT Petrokimia Gresik.
Zulhas menyebut Jawa Timur selalu sukses mempertahankan posisinya sebagai parameter sekaligus barometer utama nasional dalam hal tata kelola ketersediaan stok pangan dan kelancaran jalur logistik.
“Lewat kegiatan Hajatan ini, kita ingin semuanya makmur, semuanya senang. Terima kasih atas kolaborasi dari seluruh pihak yang telah sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakat Gresik khususnya,” pungkas Zulhas.












