Jateng

Harga Telur di Sragen Anjlok ke Rp19 Ribu: Peternak Tertekan, UMKM Diuntungkan

×

Harga Telur di Sragen Anjlok ke Rp19 Ribu: Peternak Tertekan, UMKM Diuntungkan

Sebarkan artikel ini
Aktivitas ternak ayam di Bumdes Kaliwedi, Sragen.
Example 468x60

Sragen, Jatimmandiri.id – Harga telur ayam ras di Kabupaten Sragen mengalami penurunan signifikan pada awal Juli 2026.

Di tingkat peternak, harga tercatat turun hingga Rp19.000 per kilogram, sementara di tingkat pedagang pasar tradisional berada di kisaran Rp22.000 per kilogram.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kondisi tersebut menjadi kabar kurang menggembirakan bagi peternak karena harga jual berada di bawah harapan.

Sebaliknya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor kuliner, justru memperoleh keuntungan karena biaya produksi menjadi lebih rendah.

Berdasarkan pemantauan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumindag) Kabupaten Sragen, harga telur di pasar tradisional turun dari kisaran Rp25.000-Rp26.000 per kilogram menjadi sekitar Rp22.000 per kilogram.

Di sejumlah minimarket dan toko modern, telur bahkan dijual mulai Rp21.500 per kilogram.

Pengawas Perdagangan Diskumindag Sragen, Kunto Widyastuti, mengatakan penurunan harga berlangsung cukup cepat dalam beberapa pekan terakhir.

“Harga sebelumnya sekitar Rp25.000 per kilogram, sekarang turun menjadi Rp22.000 per kilogram. Dengan kondisi pasar yang relatif sepi, harga masih berpotensi turun lagi. Hingga saat ini kami belum menemukan indikasi pasti penyebab penurunan harga tersebut,” ujarnya, Rabu (8/7).

Saat ditanya mengenai dugaan pengaruh liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap penurunan harga telur, Kunto menyatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dan masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan pasar.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jawa Tengah, Parjuni, menilai turunnya harga dipicu oleh melimpahnya pasokan telur di pasar sehingga melebihi kebutuhan.

Menurutnya, persoalan tersebut merupakan masalah yang telah berulang selama bertahun-tahun dan membutuhkan langkah penanganan yang lebih komprehensif dari pemerintah.

“Ini bukan persoalan hari ini saja. Masalah ini sudah bertahun-tahun dan terus berulang. Artinya fokus pemerintah pada penanganan sektor perunggasan masih perlu diperkuat,” katanya.

Baca Juga  Sragen Jadi Andalan Serapan Gabah Bulog Surakarta, Sumbang 38 Ribu Ton

Parjuni mengungkapkan pihaknya telah menyampaikan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat melalui koordinasi dengan Wakil Menteri dan Direktur Jenderal terkait.

Ia juga berharap adanya kebijakan yang lebih fokus untuk menjaga keseimbangan produksi dan kebutuhan pasar sehingga harga telur tetap stabil.

Di sisi lain, penurunan harga disambut positif oleh pelaku UMKM yang menggunakan telur sebagai bahan baku utama.

Mulyani, pelaku usaha kuliner di Sragen, mengaku biaya produksinya kini lebih ringan sehingga margin usaha meningkat.

Meski demikian, ia mengaku turut prihatin terhadap kondisi yang dihadapi para peternak.

“Kalau pelaku UMKM tentu senang karena harga telur turun. Yang kasihan justru peternaknya. Sekarang masih ada yang menjual Rp22.000 per kilogram, padahal dulu harga eceran bisa sampai Rp29.000 per kilogram,” ujarnya.

Penurunan harga telur dinilai paling menguntungkan bagi industri rumahan pembuat kue dan roti yang setiap hari membutuhkan telur dalam jumlah besar.

Hingga kini, para peternak berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga telur, mengingat biaya pakan dan operasional kandang masih relatif tinggi.

Dengan begitu penurunan harga jual berpotensi mengurangi keuntungan bahkan menimbulkan kerugian.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *