Mojokerto, Jatimmandiri.id – Seorang warga lanjut usia asal Dusun Jlopo, Desa Curahmojo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, terpaksa dievakuasi menggunakan truk usai ditemukan tergeletak di dasar bekas galian C Desa Randuharjo, Kecamatan Pungging, Senin (27/7/2026) sore.
Korban bernama Doso (69) tersebut sebelumnya sempat dilaporkan hilang sejak Minggu (26/7/2026).
Pencarian intensif yang melibatkan pihak keluarga, warga, hingga perangkat desa akhirnya membuahkan hasil setelah hampir 24 jam.
Menantu korban, Muhaimin, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan Doso yang mengalami penurunan daya ingat menjadi salah satu faktor yang menyulitkan proses pencarian.
“Bapak ini memang sudah pikun, terus hilangnya hampir satu hari ketemunya di lokasi bekas galian C,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Selasa (28/7/2026).
Korban berhasil ditemukan sekitar pukul 15.00 WIB di area bekas tambang yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumahnya.
Mengingat medan galian C yang cukup curam dan korban mengeluhkan sakit luar biasa pada bagian pinggang, warga harus memutar otak untuk melakukan evakuasi.
Terbatasnya fasilitas sarana evakuasi darurat membuat warga akhirnya memanfaatkan truk milik pengusaha lokal yang berada di sekitar lokasi.
“Karena pinggangnya sakit jadi dinaikkan ke kursi kayu terus dinaikkan ke truk,” tambah Muhaimin.
Proses evakuasi dari dasar galian C tersebut berlangsung cukup dramatis.
Sunaryo, salah seorang warga yang ikut membantu di lokasi, menyebutkan bahwa medan yang terjal membuat proses pengangkatan berjalan lambat dan memakan waktu hingga dua jam.
“Kemarin ada truk milik pengusaha. Saya minta bantuan sama yang punya. Proses evakuasinya sangat sulit sekitar dua jam,” tutur Sunaryo.
Setelah berhasil diangkat ke permukaan, Doso langsung dilarikan ke rumahnya menggunakan truk tersebut untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Insiden ini sekaligus menyingkap minimnya fasilitas kesehatan darurat di wilayah setempat.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Desa Curahmojo, Sutrisno, membenarkan bahwa hingga kini desanya memang belum memiliki mobil siaga maupun ambulans desa.
“Memang belum ada kalau mobil siaga desa. Masyarakat biasanya kalau sakit itu diantar dari mobil warga biasa kadang minta tolong saya,” pungkasnya.












