Jatim

Dorong Kemandirian, Persagi Cetak Lulusan Gizi Jadi Wirausaha hingga Kawal Program MBG

×

Dorong Kemandirian, Persagi Cetak Lulusan Gizi Jadi Wirausaha hingga Kawal Program MBG

Sebarkan artikel ini
Persagi resmi menggandeng Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membuka keran peluang usaha di sektor pangan dan layanan makanan.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Semakin ketatnya persaingan untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) menuntut terobosan baru.

Menjawab tantangan tersebut, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) kini mengambil langkah strategis dengan menyiapkan lulusan gizi untuk mandiri lewat jalur kewirausahaan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Komitmen ini mengemuka dalam ajang Temu Ilmiah Nasional (TIN) II Persagi yang digelar di Surabaya, Sabtu (4/7/2026).

Sebagai wujud nyata, Persagi resmi menggandeng Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membuka keran peluang usaha di sektor pangan dan layanan makanan (food service).

Ketua Umum Persagi, Ir Doddy Izwardy MA PhD memaparkan bahwa kolaborasi ini merupakan jalan keluar bagi para lulusan baru agar tidak hanya terpaku pada seleksi penerimaan abdi negara.

“Saat ini menjadi ASN maupun PPPK tidak mudah. Karena itu kami sudah melakukan MoU dengan Kementerian UMKM melalui Deputi Kewirausahaan agar lulusan gizi bisa masuk ke bidang food service maupun produk pangan. Kami ingin sejak masih fresh graduate mereka memiliki inovasi dan mampu mandiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Doddy mendorong sinergi dari pihak perguruan tinggi dan tenaga pengajar untuk terus menstimulasi inovasi mahasiswa yang berpotensi dikembangkan menjadi ladang usaha menjanjikan di bidang gizi dan pangan.

Di tengah dorongan untuk mencetak wirausaha, Persagi juga menyoroti realitas paradoks di lapangan.

Yakni, Indonesia masih kekurangan tenaga nutrisionis dan dietisien.

Minimnya tenaga ahli ini menjadi batu sandungan dalam menyukseskan berbagai program strategis nasional, termasuk penyelenggaraan makanan bergizi skala besar.

“Lulusan profesi nutrisionis dan dietisien masih sangat kurang di Indonesia. Ketika ada kebutuhan tenaga pengawas gizi dalam jumlah besar, kami masih kesulitan memenuhinya,” keluh Doddy.

Baca Juga  Mahasiswa FISIPOL UGM Kritik Pemerintahan Prabowo-Gibran, Tegaskan “Kami Menolak Bungkam”

Ia menegaskan, idealnya sebuah satuan penyelenggara makanan berskala besar harus dikawal oleh lebih dari satu ahli gizi demi menjamin mutu dan keamanan layanan.

Untuk menjawab kebutuhan program nasional, Ketua Asosiasi Nutrisionis Indonesia, Taufik Marisma, menyatakan bahwa fokus organisasinya saat ini adalah pemerataan kapasitas para tenaga ahli gizi.

Hal ini dinilai krusial, terutama bagi mereka yang terjun langsung mengawal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) garapan pemerintah.

“Kami ingin kompetensi nutrisionis di seluruh daerah memiliki standar yang sama sehingga pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan optimal,” kata Taufik.

Tidak hanya di ranah masyarakat umum, peningkatan kompetensi juga ditekankan di sektor gizi olahraga.

Ketua Indonesia Sport Nutritionist Association (Isna), Mirza Hapsari, menyebut bahwa pihaknya terus menggembleng para dietisien agar adaptif terhadap dinamika layanan kesehatan yang kian kompleks.

“Kami menyiapkan dietisien agar mampu mengakselerasi penerapan regulasi dan meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan saat ini,” ujar Mirza.

Secara spesifik, Persagi juga membidik penyediaan gizi bagi para atlet muda.

Mirza menggarisbawahi perlunya intervensi di institusi pendidikan olahraga, khususnya yang beroperasi tanpa fasilitas asrama.

“Prioritas kami adalah sekolah olahraga yang tidak berasrama karena kebutuhan makan mereka belum seluruhnya terpenuhi seperti di sekolah berasrama,” jelasnya.

Sebagai penutup, Persagi membuka pintu sinergi selebar-lebarnya dengan pemerintah untuk mendampingi program Sekolah Rakyat.

Dukungan ini nantinya akan difokuskan pada penyediaan makanan bergizi dan pendampingan komprehensif oleh tenaga ahli gizi.

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *