Surabaya, Jatimmandiri.id – Di tengah dominasi layanan musik digital, Walkman, kaset pita, dan radio lawas justru menarik perhatian generasi muda. Fenomena itu terlihat di Djadoelrek, toko perangkat audio analog milik Dhani Kusuma di Jalan Semolowaru Tengah I Nomor 87, Surabaya, yang menawarkan pengalaman mendengarkan musik dengan nuansa klasik.
Usaha tersebut berawal dari ketidaksengajaan pada 2018. Saat menemani teman sesama anggota komunitas mobil tua berburu suku cadang di pasar loak, Dhani tertarik pada sebuah radio lawas dalam kondisi rusak. Ia kemudian membeli perangkat itu dan meminta bantuan rekannya yang memiliki kemampuan memperbaiki barang elektronik.
Pengalaman tersebut memantik ketertarikannya mengoleksi radio, terutama jenis boombox. Hobi itu perlahan berkembang menjadi usaha yang kini berfokus pada perangkat audio vintage, mulai dari Walkman, radio, hingga turntable atau pemutar piringan hitam.
Perjalanan bisnisnya menyimpan cerita tersendiri. Dhani pernah menjual radio boombox yang tidak berfungsi dengan harga beberapa kali lipat dari harga belinya setelah perangkat itu dibersihkan. Baginya, nilai barang lawas tidak selalu ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga karakter suara dan daya tarik nostalgia yang melekat.
“Suara vintage banget. Cenderung warm, hangat, dan juga nostalgianya kembali. Jadi teringat, oh iya zaman dulu. Waktu SMP, waktu SD, orang tua nyetel,” kenang Dhani, Minggu (11/10/2026).
Meski diminati, merawat perangkat audio analog bukan perkara mudah. Suku cadang sejumlah produk lawas semakin sulit ditemukan. Untuk mengatasinya, Dhani terkadang mengambil komponen dari perangkat lain atau mendatangkan suku cadang langsung dari Jepang agar barang koleksinya kembali berfungsi.
Menariknya, pelanggan Djadoelrek kini banyak berasal dari kalangan Gen Z. Sebagian bahkan belum pernah merasakan masa kejayaan kaset pita dan Walkman. Ketertarikan terhadap format musik fisik turut mendapat dorongan dari sejumlah musisi independen Indonesia yang kembali merilis karya dalam bentuk kaset.
Dhani pun tidak ingin Djadoelrek sekadar menjadi tempat jual beli barang antik. Ia berupaya mengenalkan karakter perangkat analog kepada pelanggan sekaligus membangun apresiasi terhadap sejarah teknologi musik.
Ke depan, ia berharap dapat menghadirkan ruang komunal di Surabaya sebagai tempat berkumpulnya para penikmat musik untuk berbagi koleksi dan menikmati suara analog bersama.
“Saya tidak hanya menjual barang, tetapi menjual memori yang dilalui oleh pendengar,” pungkasnya












