Jateng

Dapur MBG di Rembang Mulai Gunakan Gas CNG, Gandeng BUMD untuk Efisiensi Energi

×

Dapur MBG di Rembang Mulai Gunakan Gas CNG, Gandeng BUMD untuk Efisiensi Energi

Sebarkan artikel ini
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang menggunakan bahan bakar CNG (Compressed Natural Gas) atau gas alam terkompresi.
Example 468x60

Rembang, Jatimmandiri.id – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang mulai memanfaatkan bahan bakar gas CNG (Compressed Natural Gas) atau gas alam terkompresi dalam operasional dapurnya.

Langkah ini dinilai sebagai solusi tepat untuk mengatasi kendala kelangkaan gas LPG yang kerap terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Penggunaan CNG tersebut merupakan hasil kerja sama antara SPPG dengan PT Rembang Migas Energi (RME), salah satu badan usaha milik daerah (BUMD) Pemerintah Kabupaten Rembang.

Wakil Bupati Rembang, Moch. Hanies Cholil Barro’, turut hadir dalam kegiatan bertajuk “Nyala Perdana CNG” yang digelar di SPPG Dorokandang, Senin (1/6/2026).

Dalam kesempatan itu, Hanies menyampaikan bahwa saat ini terdapat 72 SPPG yang telah beroperasi di Kabupaten Rembang. Namun, baru tujuh SPPG yang menjalin kerja sama dengan PT RME dalam penggunaan CNG.

“Masih ada lebih dari 60 SPPG yang berpotensi untuk diajak bekerja sama. Pemerintah daerah siap memfasilitasi komunikasi tersebut,” ujarnya.

Ia berharap inisiatif ini dapat menjadi langkah strategis bagi BUMD untuk berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD), sekaligus menjawab harapan masyarakat terkait kinerja BUMD.

Menurutnya, program MBG seharusnya mampu membangun ekosistem ekonomi lokal melalui kolaborasi antar pihak, termasuk melibatkan BUMD dalam penyediaan kebutuhan operasional.

Sementara itu, Direktur PT Rembang Migas Energi, Rizal Wijaya, menjelaskan bahwa penggunaan CNG memiliki sejumlah keunggulan dibanding LPG, terutama dari sisi efisiensi dan biaya.

“Pemakaian CNG bisa lebih hemat sekitar 25 hingga 30 persen, dan harganya juga lebih murah,” jelasnya.

Ia juga memastikan ketersediaan pasokan CNG dalam kondisi aman karena pihaknya telah menjalin kerja sama dengan produsen di Semarang. Selain itu, penggunaan CNG dinilai memiliki tingkat risiko yang sangat rendah selama digunakan sesuai standar operasional.

Baca Juga  Tradisi Unik Warga Lereng Merapi Boyolali, Sapi Kurban Dimandikan Air Bunga 7 Rupa Jelang Iduladha

Rizal menambahkan, apabila sekitar 50 persen dapur MBG di Rembang menggunakan CNG dari RME, pihaknya optimistis pada tahun depan BUMD tersebut sudah dapat memberikan kontribusi deviden bagi PAD.

“Ke depan, kami fokus mengembangkan bisnis CNG terlebih dahulu sebelum memperluas ke sektor lainnya,” pungkasnya.

Penggunaan CNG di dapur MBG ini diharapkan dapat menjadi inovasi dalam mendukung efisiensi energi sekaligus memperkuat peran BUMD dalam pembangunan daerah.

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *