Jakarta, Jatimmandiri.id – PT Bank BCA Syariah membukukan laba setelah pajak sebesar Rp109,4 miliar pada semester I 2026. Capaian tersebut tumbuh 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur PT Bank BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengatakan, capaian tersebut patut dipertahankan di tengah tantangan ekonomi makro yang masih cukup besar.
“Dengan saat ini, di mana challenge makro ekonomi kita sadari sangat besar, apa yang kita capai di semester I itu selayaknya sesuatu yang harus kita pertahankan, dan bagaimana caranya supaya kita semua siap untuk menyongsong akhir dari semester II yang penuh tantangan,” kata Yuli Melati Suryaningrum dalam taklimat media di Jakarta, Selasa.
Menurut Yuli, pertumbuhan laba tersebut salah satunya ditopang peningkatan pendapatan dari penyaluran pembiayaan perseroan.
Ia merinci, financing income BCA Syariah mencapai Rp512,9 miliar per Juni 2026. Angka itu meningkat 16,6 persen secara tahunan dibandingkan Rp439,8 miliar pada Juni 2025.
Pertumbuhan pendapatan tersebut sejalan dengan pembiayaan yang meningkat menjadi Rp13,58 triliun atau tumbuh 20,5 persen secara tahunan.
Sementara itu, Direktur PT Bank BCA Syariah Pranata mengatakan pendapatan margin perseroan mencapai Rp422,3 miliar. Nilai tersebut tumbuh 13,4 persen secara tahunan dari Rp372,4 miliar pada Juni 2025.
Dari sisi kualitas pembiayaan, Pranata menyebut rasio non-performing financing (NPF) gross berada di level 1,84 persen pada Juni 2026. Sedangkan NPF net tercatat sebesar 0,41 persen.
“Untuk pembiayaan bermasalah atau NPF itu rasio di BCA Syariah masih tetap terjaga di kisaran 1,8 persen, kemudian untuk net-nya berada di angka 0,4 persen. Kemudian dari FAR kita juga relatif baik, cukup rendah, sampai dengan Juni tercatat di angka 5,38 persen,” ujar Pranata.
Transaksi Digital Melesat
Selain pembiayaan, pendapatan berbasis biaya atau fee income BCA Syariah juga menunjukkan pertumbuhan. Hingga Juni 2026, fee income perseroan tercatat tumbuh 30,4 persen.
Pranata mengatakan, pertumbuhan tersebut berkaitan dengan meningkatnya biaya administrasi dari pertumbuhan pembiayaan, jumlah rekening tabungan, serta transaksi melalui mobile banking. Transaksi tersebut antara lain Real Time Gross Settlement (RTGS), Sistem Kliring Nasional (SKN), QRIS, dan BI-Fast.
“Kenaikan transaksi juga cukup baik, transaksi mobile banking kita tumbuh 138 persen secara keseluruhan. Ini kalau kita bagi, transfer-transfer seperti RTGS, SKN itu tumbuh 74 persen,“ kata Pranata.
“Kemudian QRIS, yang memang sekarang lagi menjadi primadona, ini tumbuh 280 persen di BCA Syariah. Dan tentunya transaksi BI-Fast pun cukup baik, tumbuhnya 135 persen. Nah ini tentunya akan berdampak kepada peningkatan fee yang kita terima,” ujarnya menambahkan.












