BeritaJatim

Bakteri Ditemukan, Sistem Dibenahi

Penulis: DickyEditor: ibn
×

Bakteri Ditemukan, Sistem Dibenahi

Sebarkan artikel ini
Seorang petugas sedang bekerja BBLabkesmas Surabaya. Hasil penelitian kasus MBG di Sidoarjo memastikan makanan tiga bakteri sebagai menjadi penyebab gangguan kesehatan.
Example 468x60

Sidoarjo, Jatim Mandiri

Pemeriksaan laboratorium menemukan E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus pada sampel makanan serta muntahan dalam kasus MBG di Sidoarjo, akhir pekan lalu. Temuan itu mendorong pembenahan komando dapur, waktu memasak, pemeriksaan bahan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan, dan pengiriman makanan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dinas Kesehatan Sidoarjo menegaskan, temuan tersebut belum membuktikan ketiga bakteri menjadi penyebab tunggal gangguan kesehatan. Sumber kontaminasi dan kaitannya dengan gejala para korban masih diselidiki.

Sampel diperiksa Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya. Pemeriksaan mencakup satu baki makanan dari bank sampel SPPG, muntahan dua pelajar, dan dua ikat sayuran mentah jenis pakcoy.

Empat parameter mikrobiologi diperiksa, yaitu Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Vibrio cholerae. Keterangan pemerintah menyebut satu sampel dinyatakan positif bakteri.

Namun, ringkasan yang dipublikasikan belum menjelaskan bakteri yang ditemukan pada setiap sampel. Jumlah atau konsentrasi bakteri dan perbandingannya dengan ambang aman juga belum diumumkan.

Pemeriksaan kimia dilaporkan menemukan parameter nitrit. Namun, jenis sampel, kadar nitrit, dan nilai batas pembanding belum dibuka sehingga temuan itu belum dapat disimpulkan sebagai penyebab.

Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan kontaminasi dapat terjadi pada sejumlah tahapan. Penelusuran diperlukan untuk menentukan titik masuk bakteri.

“Bisa dari air, bisa dari bahannya, bisa dari cara pengolahannya, bisa juga dari penjamahnya,” kata Lakhsmie.

Menurut dia, kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) tidak otomatis menjamin makanan selalu bebas kontaminasi. Pengelola harus konsisten menjalankan standar operasional setelah sertifikat diterbitkan.

Pengawasan diperlukan sejak bahan diterima, disortir, diolah, disimpan, dan dikemas. Waktu pengiriman serta jeda antara makanan matang dan dikonsumsi juga harus dikendalikan.

Wakil Koordinator BGN Regional Jatim Teguh Bayu Wibowo mengatakan investigasi pusat akan menentukan kelanjutan operasional dapur tersebut. BGN juga mencatat perlunya perbaikan sarana, prasarana, dan instalasi pengolahan air limbah.

Baca Juga  42 Penerbangan Juanda Batal

“Proses investigasi masih berlangsung. Bahan yang diduga menjadi penyebab juga masih kami dalami,” kata Teguh.

Pemkab Sidoarjo membentuk satuan tugas untuk memperkuat pengawasan seluruh SPPG. Pemeriksaan akan dilakukan sejak bahan baku tiba hingga makanan dikirim kepada penerima manfaat.

Kepala SPPG juga diminta berani menolak bahan yang tidak layak. Langkah tersebut diharapkan mencegah bahan bermasalah masuk ke proses pengolahan.

Kasus Sidoarjo menjadi perhatian karena ratusan santri dan pelajar mendapatkan penanganan medis. Sebagian santri juga sempat kembali dibawa ke rumah sakit setelah mengalami keluhan lanjutan. (dea/ibn)

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Peneliti Dhani Irwanto mengembangkan pendekatan semiotik-linguistik untuk membaca kisah Atlantis sebagai rangkaian petunjuk geografis yang dapat…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Ratusan truk dan kendaraan towing dari Gerakan Sopir Truk Jawa Timur (GSJT) memblokade dua lajur Jalan Jagir…