BeritaDalam NegeriGaya Hidup

Angkat Perjalanan Ibu Pertiwi dari Egoisme hingga Pemulihan

×

Angkat Perjalanan Ibu Pertiwi dari Egoisme hingga Pemulihan

Sebarkan artikel ini
Seorang kontestan defile berpose di sela Jember Fashion Carnaval. Hafid/Jatim Mandiri
Example 468x60

Konsep “HEAL” di Story Parade JFC 2026

Puncak Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 dikemas berbeda dari tahun sebelumnya pada Minggu (26/7). Untuk pertama kalinya, Grand Carnival tidak hanya menghadirkan parade kostum, tetapi juga dikemas dalam alur cerita besar bertema “HEAL” yang menghadirkan Dewi Bumi atau Ibu Pertiwi.

 

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Sejak pagi, suasana di balik panggung Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 dipenuhi kesibukan. Ratusan peserta dari berbagai provinsi menyempurnakan kostum, memasang aksesori, merapikan riasan, dan memeriksa setiap properti.

Di balik kemegahan kostum yang akan melintasi lintasan karnaval, tersimpan proses kreatif panjang. Para desainer, seniman, dan tim pendukung telah bekerja selama berbulan-bulan demi menghadirkan penampilan terbaik.

Salah satu peserta asal Padang, Sumatera Barat, Asril Dani, mengatakan persiapan menuju JFC 2026 dimulai sekitar enam bulan lalu. “Persiapan untuk mengikuti JFC 2026 sudah kami lakukan sejak setengah tahun yang lalu. Mulai dari menyusun konsep, membuat kostum, latihan, hingga memastikan seluruh detail siap saat tampil di Jember. Semua proses itu membutuhkan kerja keras dan kekompakan tim,” ujar Asril Dani kepada Jatim Mandiri.

Menurutnya, JFC bukan sekadar ajang menampilkan busana karnaval. Festival itu juga menjadi ruang memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat dunia. “Kami bangga bisa mewakili Padang dan budaya Minangkabau di JFC. Harapannya, karya yang kami tampilkan dapat memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus melestarikan seni dan tradisi,” tambahnya.

Semangat serupa juga terlihat dari peserta daerah lain. Mereka membawa karya yang terinspirasi budaya lokal, legenda, kekayaan alam, hingga isu lingkungan dan kemanusiaan. Di balik panggung, para peserta saling membantu merapikan kostum dan memberikan dukungan. Kebersamaan itu menjadi salah satu ciri khas JFC sebagai festival budaya bertaraf internasional.

Baca Juga  Skandal Dugaan Perselingkuhan Oknum Kepala SMP dan Guru TK Disorot, Advokat: Delik Aduan Absolut

Spirit kolaborasi ini berpadu dengan konsep baru yang dihadirkan pada puncak penyelenggaraan JFC 2026, Minggu (26/7). Untuk pertama kalinya, Grand Carnival tidak hanya menghadirkan parade kostum. Seluruh pertunjukan dikemas dalam sebuah story parade yang mengangkat tema besar “HEAL”.

Ketua Jember Fashion Carnaval, Budi Setiawan, mengatakan konsep itu menjadi pembeda utama dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. “Secara konsep, Grand Carnival berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau dulu hanya parade, sekarang diawali dengan satu cerita besar dari tema ‘Heal’, baru setelah itu masuk ke parade delapan subtema,” ujar Budi.

Menurutnya, konsep story parade menjadi inovasi baru dalam sejarah penyelenggaraan JFC. Cerita yang diangkat menggambarkan perjalanan Dewi Bumi atau Ibu Pertiwi. Narasi dimulai dari keindahan alam yang penuh keberagaman, kemudian bergerak menuju berbagai dinamika kehidupan manusia.

Penonton diajak menyaksikan fase egoisme, pencarian jati diri, perpecahan, hingga masa-masa sulit seperti pandemi. Seluruh perjalanan itu kemudian bermuara pada proses refleksi untuk kembali kepada akar budaya, kepedulian, dan nilai kemanusiaan.

“Kesimpulannya, keindahan dan kesempurnaan sejati bukan hanya dari penampilan, tetapi bagaimana manusia peduli dan berbagi kepada sesama. Itu makna yang ingin kami sampaikan melalui tema ‘HEAL’,” jelasnya.

Tema HEAL, singkatan dari Humanity, Earth, and Life, menjadi benang merah seluruh rangkaian pertunjukan. Melalui karya seni, JFC 2026 mengajak masyarakat memaknai pentingnya kemanusiaan, kepedulian terhadap lingkungan, dan menjaga kehidupan.

Selain menghadirkan konsep baru, panitia juga mengantisipasi lonjakan jumlah penonton pada malam puncak. Pendataan pengunjung masih dilakukan bersama Badan Pusat Statistik, Universitas Jember, sejumlah perguruan tinggi, dan berbagai instansi terkait.

Evaluasi dua hari pertama menjadi dasar penyempurnaan pengaturan area penonton. Grand Carnival diperkirakan menarik lebih banyak pengunjung dibandingkan hari sebelumnya. “Ada evaluasi terkait pengaturan tempat duduk. Grand Carnival dipastikan lebih padat karena banyak penonton yang datang. Selain itu, kami juga menyiapkan zona VVIP karena akan banyak tamu penting yang hadir,” kata Budi.

Baca Juga  Prakiraan Cuaca Hari Ini di Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Jawa Timur: Waspadai Hujan Ringan hingga Petir pada Sore Hari

JFC 2026 kembali menunjukkan bahwa kemegahan sebuah pertunjukan tidak hanya lahir dari kostum yang memukau. Kesuksesan itu juga dibangun melalui proses panjang, disiplin, kreativitas, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Melalui format baru ini, JFC tidak sekadar menghadirkan parade yang memanjakan mata. Festival ini juga menyampaikan sebuah cerita tentang perjalanan manusia untuk kembali menghargai bumi, sesama, dan kehidupan. (mhe/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Jember, Jatimmandiri.id Penutupan rangkaian Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 berlangsung meriah meski diguyur hujan deras, Minggu (26/7/2026) sore. Cuaca yang…

Berita

Aktris dan presenter Enzy Storia menyampaikan keprihatinannya atas dugaan korupsi pengelolaan keuangan Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS…