Louisiana, Jatimmandiri.id – Meta mengubah strategi penyediaan energi untuk mendukung operasional pusat data yang menjadi tulang punggung layanan digital perusahaan. Induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu mulai mengandalkan gas alam sebagai sumber listrik utama di tengah meningkatnya kebutuhan energi akibat ekspansi pusat data.
Perubahan strategi tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya Meta dikenal sebagai salah satu perusahaan teknologi yang mendukung penggunaan energi bersih. Namun, lonjakan kebutuhan komputasi, terutama untuk pengembangan layanan digital dan kecerdasan buatan, membuat kebutuhan listrik perusahaan meningkat signifikan.
Pusat data saat ini menjadi infrastruktur vital bagi industri teknologi. Ribuan server yang beroperasi tanpa henti membutuhkan pasokan listrik stabil agar layanan digital tetap berjalan normal. Di banyak negara, penyediaan energi terbarukan dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara penuh sehingga sebagian perusahaan mulai melirik gas alam sebagai solusi sementara.
Langkah Meta memunculkan perdebatan di kalangan pemerhati lingkungan. Mereka menilai penggunaan bahan bakar fosil berpotensi memperlambat target pengurangan emisi karbon yang selama ini didorong berbagai perusahaan teknologi global.
Di sisi lain, Meta menyatakan tetap berkomitmen mengembangkan pusat data yang lebih efisien dan mendukung investasi teknologi rendah emisi sebagai bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan.
Kebutuhan energi pusat data diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Selain dipengaruhi pertumbuhan pengguna layanan digital, perkembangan komputasi berbasis AI juga membuat konsumsi listrik industri teknologi naik tajam.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Channel Television, perubahan strategi Meta mencerminkan tantangan baru yang dihadapi perusahaan teknologi global dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan infrastruktur digital dan target keberlanjutan lingkungan.












