Tujuh Tahun Tanpa Dynand Fariz, JFC Tetap Bercahaya untuk Dunia
Matahari pagi baru menghangatkan Jalan Sudarman. Di sepanjang jalan itu, ribuan orang telah menunggu. Musik mulai terdengar. Jarum-jarum terakhir masih merapikan kostum. Relawan memanggul rangka raksasa dengan wajah penuh semangat.
Hari ini, Jember Fashion Carnaval (JFC) kembali dimulai. Bagi ribuan penonton, ini adalah pesta budaya. Namun bagi banyak warga Jember, ini juga menjadi saat untuk mengenang seseorang yang pernah mengubah jalan raya biasa, menjadi panggung yang dikenal dunia.
Namanya Dynand Fariz. Sudah tujuh tahun ia berpulang, tepatnya pada 17 April 2019. Namun setiap kali parade dimulai, banyak orang merasa seolah sang maestro masih berjalan paling depan, mengamati setiap kostum yang melintas dengan senyum khasnya.
Sulit membayangkan semua ini pernah dianggap mustahil. Sebab Jember bukanlah Paris. Jember juga bukan Milan. Dulu, kota ini bahkan tidak pernah membayangkan dirinya menjadi tujuan pecinta fesyen dunia.
Namun Dynand Fariz melihat sesuatu yang tidak dilihat banyak orang. Dia melihat harapan. Baginya, panggung dunia tidak selalu lahir dari ibu kota. Dia yakin mimpi kelas dunia dapat tumbuh dari kota kecil, dari gang-gang sederhana, bahkan dari orang-orang yang tidak pernah dianggap penting.
Keyakinan itulah yang melahirkan JFC pada 2003. Saat itu, idenya sempat menuai penolakan. Runway di tengah jalan raya terdengar aneh. Sebagian orang menganggapnya tidak masuk akal. Sebagian lainnya memilih menertawakannya.
Namun Dynand Fariz tidak berhenti. Dia pernah berkata ”Kalau aku menunggu semua orang percaya, mimpi tidak akan pernah dimulai.”
Kalimat itu kemudian menjadi nafas panjang perjalanan JFC. Semuanya bermula dari sekitar lima puluh peserta. Mereka datang dengan langkah yang gemetar. Sebagian takut ditertawakan. Sebagian merasa dirinya tidak cukup pantas untuk tampil.
Mereka tidak pernah menyangka, dari langkah sederhana kelak mengubah sejarah. Lima puluh orang pertama itu bukan sekadar membuka parade. Mereka membuka jalan bagi ribuan mimpi yang datang sesudahnya.
Di antara mereka ada Rani yang datang dengan rasa minder, lalu pulang membawa kepercayaan diri. Ada juga Bu Sari, tangannya yang dulu hanya menjahit pakaian sehari-hari, kini melahirkan kostum yang dikagumi banyak orang. Ada Bima yang pernah ditolak, kini justru dipercaya menjadi kreator. Ada pula Pak Hasan, yang dulu memandang JFC dengan penuh keraguan, kini berdiri deretan terdepan setiap kali parade dimulai. Mata Pak Hasan tak lagi mampu menyembunyikan rasa bangganya.
Itulah yang sebenarnya dibangun Dynand Fariz. Bukan hanya festival. Bukan hanya kostum. Melainkan keyakinan bahwa setiap orang berjuang atas nama mimpi. Dia sering mengatakan bahwa panggung bukan hanya untuk mereka yang dianggap sempurna.
Panggung itu untuk siapa saja yang berani percaya pada dirinya sendiri. Perlahan, mimpi itu tumbuh melampaui batas. Jalan raya berubah menjadi runway. Kota berubah menjadi panggung. Media internasional mulai menoleh terkesima.
Nama Jember mulai disebut di berbagai belahan dunia. Salah satu karya binaan Dynand Fariz bahkan mengantarkan wakil Indonesia meraih Best National Costume pada Miss Universe 2014 di Florida, Amerika Serikat.
Tapi ketika dunia mulai mengenalnya, Dynand Fariz tetap tidak mengejar kemewahan, tidak pula membangun istana. Dia memilih tetap di ruang kecil yang mengiringi perjuangannya. Ya, ruangan kecil yang sama dan menjadi saksi lahirnya mimpi-mimpi besar.
Tentang anak muda. Tentang penjahit. Tentang relawan. Tentang kota kecil yang berdiri sejajar dengan dunia. Ia pernah mengucapkan kalimat yang kini menjadi warisan paling berharga. “Karena yang harus terlihat megah bukan hidupku. Yang harus terlihat megah adalah mimpi mereka.”
Kalimat itu menjelaskan siapa dirinya. Dia rela hidup sederhana agar orang lain memiliki kesempatan untuk tumbuh. Dynand Fariz memilih membesarkan mimpi orang-orang kecil daripada membesarkan namanya sendiri.
Lalu tibalah hari ketika Jember kehilangan sosok itu. Pada 17 April 2019, Dynand Fariz berpulang. Mesin-mesin jahit seakan ikut berhenti. Suasana mendadak sunyi.
Pertanyaan yang sama muncul di banyak hati. Apakah keajaiban JFC akan berakhir bersama kepergian sang maestro? Jawabannya ternyata lahir dari orang-orang yang pernah ia percaya.
Mesin jahit kembali berbunyi. Jarum kembali menari. Peserta baru terus berdatangan. Relawan muda kembali memanggul rangka-rangka kostum. Anak-anak muda kembali memenuhi ruang kreatif.
Mereka melanjutkan mimpi yang dahulu dititipkan Dynand Fariz. Hari ini, JFC bukan lagi milik satu orang. JFC telah menjadi milik seluruh masyarakat. Ia menjadi detak jantung kota. Ia menjadi kebanggaan Indonesia.
Setiap kostum yang melintas membawa lebih dari sekadar keindahan. Di balik yang terlihat, ada keberanian, ada kerja keras, ada air mata, ada doa para orang tua. Ada tangan-tangan penjahit yang bekerja hingga larut malam. Ada relawan yang mengangkat beban tanpa pernah meminta tepuk tangan.
Dan di balik semua itu, masih ada satu mimpi yang terus berjalan. Mimpi seorang anak Jember yang percaya bahwa dunia akan datang apabila sebuah kota berani menghargai budayanya sendiri.
Hari ini, ketika langkah-langkah baru kembali memenuhi runway, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan sekedar parade kostum. Yang sedang berjalan adalah harapan atas mimpi terpendam.
Karena mimpi yang benar-benar besar tidak pernah mati bersama pemimpinnya. Ia akan terus hidup di hati orang-orang yang memilih untuk percaya. Dari Jember. Untuk Indonesia. Untuk dunia. Dynand Fariz, ribuan orang dalam JFC hari ini sedang melanjutkan nafasmu. (*/ibn)












