Jateng

Tradisi Kirab Wahyu Kliyu Kembali Digelar, Ribuan Apem Jadi Simbol Syukur di Jatipuro

×

Tradisi Kirab Wahyu Kliyu Kembali Digelar, Ribuan Apem Jadi Simbol Syukur di Jatipuro

Sebarkan artikel ini
Ribuan Apem dan Doa Menyatu dalam Kirab Wahyu Kliyu.
Example 468x60

Karanganyar, Jatimmandiri.id, – Udara malam di Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, Rabu (1/7/2026) terasa berbeda. Riuh rendah suara warga, wangi kemenyan yang samar, dan pendar lampu kota menyatu menciptakan atmosfer yang magis. Ribuan warga tumpah ruah memadati sepanjang rute jalan.
Mereka bukan sekadar menonton hiburan, melainkan sedang menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah dari sebuah tradisi luhur yang menolak punah: Kirab Budaya Wahyu Kliyu.

Tradisi yang digelar setiap bulan Sura dalam penanggalan Jawa ini kembali membuktikan taringnya sebagai perekat sosial. Di tengah gempuran modernitas, Jatipuro malam itu seolah melempar mesin waktu, membawa semua orang kembali pada akar identitas mereka.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Suasana semakin khidmat dengan kehadiran Bupati Karanganyar, H. Rober Christanto, S.E., M.M., bersama Sekretaris Daerah dan jajaran OPD serta BUMD. Mengenakan pakaian adat, para pemimpin daerah ini lebur bersama rakyat, berjalan beriringan mengawal jalannya kirab yang menampilkan berbagai atraksi seni tradisional dan arak-arakan budaya dari berbagai desa.

“Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk terus mencintai budaya sendiri, menjaga tradisi leluhur, serta mewariskannya kepada generasi penerus agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman,” ujar Bupati Rober Christanto dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan riuh warga.

Bagi Pemerintah Kabupaten Karanganyar, Wahyu Kliyu bukan lagi sekadar kalender wisata tahunan. Ini adalah aset spiritual, sejarah, dan ekonomi. Bupati menegaskan bahwa kerumunan massa yang hadir adalah roda penggerak ekonomi kreatif dan UMKM lokal yang nyata malam itu. Namun di atas segalanya, gotong royong warga, seniman, dan tokoh masyarakat Jatipuro lah yang menjadi bintang utama pertunjukan ini.

Makna Filosofis di Balik Tradisi Wahyu Kliyu

Kirab Wahyu Kliyu bukan sekadar arak-arakan tanpa makna. Di balik kemeriahan ribuan warga yang melempar kue apem, terdapat kedalaman falsafah hidup masyarakat Jawa:

Baca Juga  Residivis Asal Ngabenrejo Ditangkap Usai Curi Motor di Brati, Masuk Rumah Lewat Atap

1. “Wahyu Kliyu” – Bisikan Doa untuk Keberkahan

Secara etimologi rakyat (kerata basa), kata “Wahyu” berarti petunjuk atau anugerah Tuhan, sedangkan “Kliyu” kerap dikaitkan dengan kata *ayu atau hayu yang berarti selamat atau lestari. Secara filosofis, tradisi ini adalah bentuk ritual permohonan kolektif kepada Sang Pencipta agar masyarakat Jatipuro dan Karanganyar pada umumnya diberikan keselamatan, keberkahan, serta dijauhkan dari marabahaya (tolak bala) di tahun yang baru.

2. Filosofi Kue Apem – Simbol Permohonan Maaf (Afwan)

Identitas utama dari Wahyu Kliyu adalah ribuan kue apem yang dikirab dan didoakan. Dalam filosofi Jawa, kata “Apem” diserap dari bahasa Arab, yakni Afwan, yang berarti ampunan atau maaf.
Makna: Prosesi ini menjadi simbol kerendahan hati manusia yang menyadari tempatnya yang penuh salah. Dengan membagikan atau melempar apem, masyarakat diajak untuk saling memaafkan, membersihkan diri dari dendam, dan memulai lembaran baru yang suci.

3. Gunungan dan Hasil Bumi – Manifestasi Syukur dan Ekologi

Arak-arakan gunungan yang berisi hasil bumi mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan (Hamemayu Hayuning Bawana). Ini adalah bentuk rasa syukur atas tanah Jatipuro yang subur yang telah memberi penghidupan, sekaligus pengingat agar manusia tetap menjaga kelestarian alam sekitar.

4. Gotong Royong – Modal Sosial yang Mewujud

Persiapan kirab yang melibatkan seluruh elemen desa, mulai dari remaja hingga sesepuh, merupakan wujud nyata dari Manunggaling Rasa (persatuan rasa). Di era digital yang cenderung individualis, Kirab Wahyu Kliyu menjadi ruang fisik ketika ego dilebur demi sebuah harmoni dan kebersamaan.

Malam boleh saja larut dan lampu-lampu jalan di Jatipuro mulai padam seiring berakhirnya acara. Namun, esensi Wahyu Kliyu malam itu telah tertanam hangat di dada generasi muda Karanganyar, bahwa merawat masa lalu adalah cara terbaik untuk melangkah dengan gagah menuju masa depan.

Baca Juga  Bupati Karanganyar Lantik 75 Pejabat Eselon III dan IV, Tekankan Sinergi Tingkatkan Pelayanan Publik

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *