EkbisMetropolitan

Manisnya Cuan Dawet Blauran Surabaya: Berawal dari Keliling, Kini Kantongi Omzet Puluhan Juta

×

Manisnya Cuan Dawet Blauran Surabaya: Berawal dari Keliling, Kini Kantongi Omzet Puluhan Juta

Sebarkan artikel ini
Nunuk, pedagang dawet di Pasar Blauran tengah melayani pembeli.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id — Pasar Blauran telah lama dikenal sebagai salah satu pusat kuliner legendaris di Kota Surabaya.

Di balik hiruk-pikuk pasar tradisional ini, tersimpan kisah-kisah inspiratif dari para pedagang yang menggantungkan hidupnya dari segarnya segelas dawet kuliner khas nusantara.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

​Salah satu sosok ikonik di Pasar Blauran adalah Nunuk, seorang penjual dawet yang telah menekuni profesinya selama 25 tahun.

Perjalanan ibu separuh baya ini tidak lah instan.

Sebelum menetap di lokasinya yang sekarang, ia merupakan seorang pedagang keliling yang dinamis.

​Nunuk kerap berpindah tempat memanfaatkan momen-momen keramaian besar, seperti konser musik atau bazar.

Menu yang ia jual dahulu selalu menyesuaikan lokasi, mulai dari aneka camilan hingga makanan berat.

Bagi Nunuk, pasang surut dalam dunia perdagangan adalah hal yang lumrah.

​”Suka duka dalam berjualan itu seimbang, ada kalanya ramai dan ada kalanya sepi,” ungkap Nunuk, (Selasa/30/2026).

Namun, berkat ketekunannya, belakangan ini lapak dawetnya terus dibanjiri pembeli hingga mampu mengantongi omzet lebih kurang Rp20 juta dalam satu bulan.

​Tidak jauh dari lapak Nunuk, cerita sukses lain datang dari penjual dawet muda, Dwi Afani.

Fokus pada penjualan dawet, Dwi mengaku merasa sangat nyaman menjalani profesi ini.

​Meski menyadari bahwa daya tarik lokasi sangat bergantung pada tren kunjungan di mana jika suasana sedang disukai maka akan sangat ramai, sebaliknya Dwi Afani mencatatkan angka penjualan yang fantastis.

Di tengah kondisi Pasar Blauran yang akhir-akhir ini sedang ramai pengunjung, omzet harian Dwi mampu mencapai Rp2 juta sehari.

Jika diakumulasikan, omzet bulanannya bisa menyentuh kisaran Rp30 juta.

“Tapi saya bersyukur, akhir-akhir ini omzet harian bisa menyentuh dua juta rupiah. Jadi kalau dihitung-hitung sebulan lebih kurang bisa dapat sekitar tigapuluh juta rupiah,” beber Dwi.

Baca Juga  Strategi Regenerative Tourism Jawa Timur “Bromo Mendunia"

​Kondisi Pasar Blauran yang belakangan ini kembali bergeliat membawa angin segar bagi para pedagang lokal.

Dwi menaruh harapan besar agar pasar legendaris ini bisa terus dipromosikan dan ditata dengan baik.

Sehingga kunjungan wisatawan maupun warga lokal semakin meningkat di masa depan.

“Harapan saya ke depan, semoga pasar ini bisa makin ramai lagi dan didatangi banyak pengunjung,” tambahnya.

​Kisah Nunuk dan Dwi menjadi bukti nyata bahwa kuliner tradisional seperti dawet tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi yang menjanjikan di sudut Kota Pahlawan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *