Sportainment

BRIDA Surabaya Ubah Sampah Plastik Mangrove Menjadi Bahan Bakar Lewat Teknologi Pirolisis

×

BRIDA Surabaya Ubah Sampah Plastik Mangrove Menjadi Bahan Bakar Lewat Teknologi Pirolisis

Sebarkan artikel ini
BRIDA Surabaya mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik di kawasan mangrove menjadi bahan bakar bagi nelayan. Inovasi ini juga melibatkan perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya terus menghadirkan inovasi dalam pengelolaan lingkungan.

Salah satu terobosan yang kini dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik yang menumpuk di kawasan mangrove menjadi minyak bakar yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Program tersebut diharapkan mampu menjadi solusi atas persoalan sampah plastik yang selama ini sulit didaur ulang sekaligus membantu meningkatkan nilai manfaat limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi.

Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menjelaskan bahwa sampah di kawasan mangrove tidak hanya berasal dari aliran sungai, tetapi juga terbawa arus laut saat air pasang.

Menurutnya, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) telah memasang penyaring sampah di saluran Kebon Agung.

Namun, keberadaan sampah plastik di kawasan mangrove masih menjadi persoalan karena terbawa gelombang laut dan tersangkut di akar-akar mangrove.

“Ketika air laut pasang, sampah justru masuk ke kawasan mangrove dan tersangkut pada akar napas mangrove,” ujar Agus, Jumat (26/6/2026).

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar sampah berada di sela-sela akar mangrove sehingga proses pembersihannya tidak mudah dilakukan.

Untuk mengatasi persoalan itu, BRIDA menggagas kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pelajar, komunitas, hingga masyarakat untuk mengumpulkan sampah plastik yang sudah tidak memiliki nilai jual.

Agus menjelaskan bahwa plastik seperti botol bekas masih memiliki nilai ekonomi karena dapat didaur ulang.

Sebaliknya, plastik kresek yang rusak atau tercemar umumnya tidak lagi dimanfaatkan dan justru banyak ditemukan mengambang maupun tersangkut di kawasan mangrove.

“Sampah plastik yang tidak bernilai inilah yang ingin kami kumpulkan untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” katanya.

Baca Juga  Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pemkab Jepara Pelopori Gerakan Bersih Pantai 

Selanjutnya, limbah plastik tersebut akan diproses menggunakan teknologi pirolisis hingga menghasilkan minyak bakar.

Hasil pengolahan tersebut direncanakan akan dikembalikan kepada para nelayan sebagai bahan bakar mesin perahu atau motor tempel.

Menurut Agus, skema tersebut diharapkan mampu menciptakan siklus ekonomi sekaligus mendorong masyarakat pesisir ikut menjaga kebersihan kawasan mangrove.

“Ketika nelayan tidak melaut, mereka dapat mengumpulkan sampah plastik di kawasan mangrove. Sampah itu kemudian diproses menjadi minyak bakar yang nantinya bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar motor tempel,” jelasnya.

Meski demikian, pengembangan alat pirolisis saat ini masih membutuhkan dukungan pendanaan agar dapat segera direalisasikan secara optimal.

Sementara itu, Sekretaris BRIDA Kota Surabaya, Mamik Suparmi, menuturkan bahwa teknologi pirolisis difokuskan untuk mengolah limbah plastik yang selama ini sulit didaur ulang dan tidak memiliki nilai ekonomi.

Menurutnya, plastik berkualitas rendah yang biasanya hanya menjadi limbah dapat diubah kembali menjadi minyak sehingga memiliki manfaat baru.

“Botol plastik masih dapat didaur ulang. Namun, plastik yang kualitasnya sudah buruk dan tidak bernilai itulah yang akan diproses melalui pirolisis hingga menghasilkan minyak,” ujar Mamik.

Saat ini BRIDA menggandeng Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dalam riset sekaligus pengembangan alat pirolisis.

Selain fokus pada inovasi pengelolaan sampah, BRIDA juga membuka peluang kolaborasi riset melalui platform digital BRIGHT (BRIDA Research, Internship Growth and Holistic Training).

Platform tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa, dosen, peneliti, maupun masyarakat yang ingin melakukan penelitian, magang, serta mengembangkan inovasi dengan lokasi penelitian di Kota Surabaya.

Mamik menambahkan, berbagai program magang yang difasilitasi BRIDA telah menghasilkan sejumlah inovasi dari mahasiswa. Berbagai karya tersebut juga didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sehingga dapat meningkatkan daya saing lulusan ketika memasuki dunia kerja.

Baca Juga  Harry Kane Pecahkan Rekor Gol Piala Dunia Inggris, Three Lions Melaju ke Babak Gugur

“Harapannya, riset dan program magang tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga menjadi bekal bagi mahasiswa agar memiliki kompetensi dan daya saing yang lebih baik saat memasuki dunia kerja,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *