Ekbis

Pelemahan Rupiah Bisa Picu Kenaikan Harga, Ekonom Bagikan Langkah Bijak Kelola Keuangan

×

Pelemahan Rupiah Bisa Picu Kenaikan Harga, Ekonom Bagikan Langkah Bijak Kelola Keuangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id, –  Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai belum menjadi alasan bagi masyarakat untuk mengalihkan seluruh aset ke instrumen yang dianggap lebih aman. Sebaliknya, kondisi ini perlu disikapi dengan memperkuat ketahanan keuangan pribadi, mengelola pengeluaran secara bijak, serta menyesuaikan strategi investasi sesuai kebutuhan dan profil risiko masing-masing.

Pandangan tersebut disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede. Menurutnya, menjaga fondasi keuangan rumah tangga jauh lebih penting dibanding mengambil keputusan investasi secara emosional akibat gejolak nilai tukar. Ia menekankan bahwa pelemahan rupiah tidak selalu menimbulkan dampak harga secara instan karena terdapat berbagai faktor yang memengaruhi proses penyesuaiannya di pasar.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Pelemahan rupiah perlu direspons dengan penguatan ketahanan keuangan pribadi, bukan dengan perpindahan aset secara ekstrem,” ujar Josua di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah paling cepat dirasakan pada barang-barang yang memiliki kandungan impor tinggi. Produk seperti gawai, elektronik, kendaraan beserta suku cadangnya, obat-obatan tertentu, hingga komoditas pangan impor seperti gandum, kedelai, gula, dan susu berpotensi mengalami kenaikan harga karena importir harus mengeluarkan biaya lebih besar dalam rupiah untuk membeli barang yang sama menggunakan dolar AS.

Meski demikian, kenaikan harga tersebut umumnya tidak langsung terjadi pada hari yang sama. Pelaku usaha biasanya masih memiliki stok lama, kontrak harga yang masih berlaku, atau memilih menahan sebagian kenaikan biaya agar daya beli masyarakat tidak langsung tertekan.

Namun apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang, menurut Josua, kenaikan biaya impor hampir pasti akan diteruskan secara bertahap kepada konsumen melalui penyesuaian harga jual.

Dampaknya juga tidak hanya dirasakan pada barang impor. Berbagai produk yang diproduksi di dalam negeri tetap berpotensi mengalami kenaikan harga karena masih menggunakan bahan baku maupun komponen impor dalam proses produksinya. Selain itu, biaya energi, transportasi, pupuk, pakan ternak, kemasan, hingga biaya produksi lainnya turut dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar.

Baca Juga  Ekonom Usul Program MBG Dihentikan Sementara demi Audit dan Evaluasi Total

“Jadi, barang yang terlihat lokal pun bisa ikut naik bila bahan bakunya masih mengandung komponen impor. Misalnya makanan olahan berbasis gandum, produk susu, daging tertentu, makanan kemasan, kosmetik, obat, sampai barang kebutuhan rumah tangga,” ungkapnya.

Menurut Josua, kondisi tersebut semakin relevan pada Juni 2026. Bank Indonesia mencatat inflasi pada Mei 2026 meningkat menjadi 3,08 persen. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok harga pangan bergejolak yang mencapai 6,24 persen serta kelompok harga yang diatur pemerintah sebesar 2,07 persen.
Kenaikan itu dipengaruhi penyesuaian harga LPG, bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, dan avtur yang mengikuti tren kenaikan harga energi global.

Meski begitu, ia menegaskan tidak semua barang konsumsi akan mengalami kenaikan dengan besaran yang sama. Barang yang memiliki kandungan impor tinggi dan tingkat persaingan rendah cenderung lebih cepat mengalami kenaikan harga, sedangkan produk yang diproduksi secara luas di dalam negeri dengan pasokan yang memadai relatif lebih stabil.

Khusus untuk kebutuhan pokok atau sembako, Josua mengatakan pelemahan rupiah bukan satu-satunya faktor penentu harga. Produksi hasil panen, distribusi, kondisi cuaca, stok yang dimiliki pemerintah, hingga kebijakan harga juga memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga di pasar.

Ia menilai tekanan terhadap keuangan rumah tangga justru lebih mungkin berasal dari akumulasi kenaikan berbagai pengeluaran dalam skala kecil. Dampak tersebut dapat dirasakan melalui meningkatnya harga makanan olahan, biaya transportasi, listrik akibat kenaikan biaya operasional usaha, cicilan, hingga harga barang tahan lama.

Dari sisi konsumsi masyarakat, Josua melihat adanya kecenderungan rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Survei Konsumen Bank Indonesia pada Mei 2026 memang masih menunjukkan optimisme masyarakat dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 120,9, tetapi angkanya menurun dibandingkan April yang mencapai 123,0.
Penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini juga turun menjadi 112,2 dari sebelumnya 116,5.

Baca Juga  Harga Produk Ritel Mulai Naik Saat Rupiah Melemah, Konsumen Diminta Bersiap

Di sisi lain, penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan masih mengalami kontraksi sebesar 3,2 persen secara tahunan, meskipun mulai menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya.

“Artinya, konsumsi belum jatuh, tetapi rumah tangga mulai lebih berhati-hati, terutama untuk barang sekunder dan barang tahan lama,” ujar Josua.

Selain pelemahan rupiah, masyarakat juga perlu mencermati kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,75 persen. Menurut Josua, kebijakan tersebut merupakan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus membatasi tekanan inflasi impor, meski di sisi lain berdampak pada meningkatnya biaya pendanaan dan kredit.

Berdasarkan asesmen suku bunga perbankan, suku bunga kredit rupiah memang masih turun tipis. Namun, suku bunga kredit baru mulai meningkat sebagai bentuk penyesuaian terhadap risiko dan kondisi pendanaan perbankan. Kondisi ini menyebabkan rumah tangga menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan harga barang impor sekaligus meningkatnya biaya pembiayaan baru.

Dalam situasi tersebut, Josua mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memindahkan seluruh dana ke emas, properti, atau aset lain yang dianggap aman. Menurutnya, penyusunan portofolio investasi sebaiknya tetap disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, kebutuhan likuiditas, dan kemampuan menanggung risiko.

Apabila kebutuhan dana dalam waktu dekat masih menggunakan rupiah, sebagian dana tetap sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan dan memiliki risiko rendah.

“Jika ada kebutuhan masa depan dalam dolar AS seperti pendidikan luar negeri, perjalanan, atau kewajiban impor, barulah wajar menambah sebagian aset berbasis mata uang asing secara bertahap, bukan sekaligus,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa emas memang dapat berfungsi sebagai pelindung nilai ketika ketidakpastian global dan pelemahan rupiah meningkat. Namun, emas bukanlah instrumen investasi yang bebas risiko.

Baca Juga  Strategi Regenerative Tourism Jawa Timur “Bromo Mendunia"

Dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 mencatat harga emas sempat mencetak rekor karena meningkatnya permintaan investor global terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski demikian, data pasar terbaru juga menunjukkan harga emas masih berpotensi mengalami koreksi dalam jangka pendek meskipun tetap berada pada level tinggi.

Berdasarkan kondisi tersebut, Josua menyarankan agar emas hanya dijadikan sebagai pelengkap dalam strategi investasi untuk menjaga nilai kekayaan, bukan sebagai tempat menempatkan seluruh dana.

Ia pun memberikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk menghadapi pelemahan rupiah, yakni memastikan dana darurat tetap tersedia, menunda pembelian barang impor yang tidak mendesak, mempercepat pembelian kebutuhan impor yang benar-benar penting sebelum harga meningkat lebih tinggi, serta menghindari pengambilan utang baru dengan bunga mengambang apabila belum benar-benar diperlukan.

“Untuk investasi, lakukan penyesuaian bertahap: sebagian tetap pada aset rupiah yang aman dan mudah dicairkan, sebagian kecil pada emas sebagai pelindung nilai, sebagian pada instrumen pendapatan tetap bila sesuai tujuan, dan properti hanya bila kemampuan cicilan serta arus kas benar-benar kuat,” kata dia.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *