Lumajang, Jatimmandiri.id – Terputusnya jembatan penyeberangan akibat banjir lahar Gunung Semeru membuat ratusan warga di kawasan Kali Regoyo, Kabupaten Lumajang, terisolasi. Dampak paling memprihatinkan dirasakan para siswa SD Negeri Jugosari 03. Demi tetap mengikuti pelajaran, mereka harus menembus derasnya arus sungai dengan bantuan orang tua, meski keselamatan jiwa menjadi taruhannya.
Peristiwa itu terjadi Rabu (4/11/2026), ketika sejumlah siswa bersama orang tua mereka berupaya mencapai sekolah yang berada di seberang Kali Regoyo. Putusnya akses jembatan limpas setelah diterjang banjir lahar pada Senin sebelumnya membuat jalur penyeberangan tidak lagi bisa dilalui secara normal.
Dalam kondisi tersebut, para orang tua terpaksa menggendong anak-anak mereka menerobos aliran sungai yang masih deras. Langkah berisiko itu ditempuh karena tidak tersedia akses alternatif yang memungkinkan anak-anak berangkat ke sekolah dengan aman.
Bagi para wali murid, keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Mereka khawatir anak-anak kehilangan kesempatan belajar apabila terlalu lama tidak masuk sekolah akibat terputusnya akses transportasi.
“Tidak ada pilihan lain, Mas. Sebab, kalau terlalu lama tidak sekolah karena jalannya terdampak banjir, anak saya bisa ketinggalan pelajaran,” ungkap Dewi, salah satu wali murid SDN Jugosari 03, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Persoalan akses pendidikan ini berdampak lebih luas. Sedikitnya 140 keluarga atau sekitar 480 jiwa masih terisolasi akibat banjir lahar yang memutus jalur penyeberangan di kawasan Kali Regoyo.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Anggota Komisi X DPR RI, H. Muhamad Nur Purnamasidi. Politikus yang akrab disapa Bang Pur itu mengapresiasi kegigihan para siswa yang tetap berusaha memperoleh pendidikan meskipun berada di tengah situasi bencana.
Menurutnya, kondisi darurat tidak boleh menghilangkan hak anak untuk mendapatkan layanan pendidikan. Pemerintah harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung sekalipun infrastruktur dan akses masyarakat mengalami gangguan.
“Pelayanan pendidikan harus tetap jalan, apalagi siswanya justru semangat untuk belajar,” ungkap Bang Pur.
Ia juga mengingatkan pemerintah agar penanganan bencana tidak berhenti pada upaya tanggap darurat. Diperlukan kebijakan jangka panjang untuk menjamin pendidikan di kawasan yang berulang kali terdampak bencana alam.
“Pola dan waktu bencana yang sama ini kan terus berulang, harus dijadikan pegangan perumusan kebijakan pendidikan berbasis kesiapsiagaan bencana,” pungkasnya.
Bang Pur menyatakan siap mendorong keterlibatan pemerintah pusat melalui komunikasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Langkah tersebut diharapkan dapat membuka dukungan dan penanganan lebih lanjut terhadap persoalan akses pendidikan siswa terdampak banjir lahar Semeru.
Peristiwa di Kali Regoyo menjadi peringatan penting bahwa pendidikan di wilayah rawan bencana membutuhkan sistem pembelajaran alternatif dan kesiapsiagaan yang terencana. Semangat siswa untuk bersekolah harus mendapat perlindungan, bukan justru memaksa mereka mempertaruhkan keselamatan saat menempuh perjalanan menuju ruang kelas.












