Ekbis

Rupiah Melemah, BI Pantau Gejolak Pasar

Penulis: AyundaEditor: Ayn
×

Rupiah Melemah, BI Pantau Gejolak Pasar

Sebarkan artikel ini
ilustrasi
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id – Pelemahan rupiah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian Bank Indonesia (BI). Bank sentral memastikan terus memantau pergerakan nilai tukar dan mencermati penyebab gejolak pasar, tanpa merencanakan perubahan strategi intervensi untuk saat ini.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Karena itu, pemantauan dilakukan secara berkelanjutan untuk memahami faktor yang memengaruhi nilai tukar.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Ya, kita (BI) tetap ada di pasar. Ya, ini tergantung supply demand hari ini, ya mungkin lagi. Ya, pokoknya tetaplah.. Tetap ya, tetap kita monitor pergerakannya,” kata Destry seusai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin.

Menurut Destry, volatilitas yang terjadi masih tergolong dinamika pasar yang dapat dipantau. BI belum melihat kebutuhan untuk mengubah strategi intervensi, tetapi tetap menelusuri faktor penyebab pergerakan nilai tukar.

“Enggak, enggak. Ini kita ya (menghadapi) volatility biasa, ya. Tapi kita kan ada terus monitor, ya. Kita lihat root-cause-nya juga,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika rupiah tercatat melemah 0,30 persen ke level Rp18.135 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini berlangsung di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi eskalasi konflik geopolitik di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik turut memengaruhi pasar energi global. Mengutip Xinhua, harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak akhir April seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap perkembangan konflik di kawasan tersebut.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember ditutup pada Sabtu (24/10) di level 116,72 dolar AS per barel, menguat 3,14 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember berakhir di posisi 103,27 dolar AS per barel, naik 3,82 persen.

Baca Juga  Ekonomi Banyumas Raya Tumbuh, BI Waspadai Risiko Kekeringan

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu perkembangan eksternal yang perlu dicermati karena gejolak energi global dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan. Namun, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh satu faktor, melainkan juga kondisi permintaan dan penawaran valuta asing serta perkembangan ekonomi global.

BI menegaskan pemantauan pasar akan terus dilakukan untuk mengidentifikasi sumber tekanan dan mengikuti perubahan kondisi keuangan. Dengan pendekatan tersebut, bank sentral berupaya menjaga respons kebijakan tetap sesuai dengan perkembangan pasar.(

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *