Nganjuk, Jatimmandiri.id – Kabar baik datang dari Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nganjuk, jumlah penduduk miskin di wilayah ini menunjukkan tren penurunan yang konsisten hingga Maret 2026.
Kepala BPS Kabupaten Nganjuk, Wahyu Purnamahadi, menyampaikan bahwa jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat sebanyak 103,65 ribu jiwa.
Angka ini menyusut 3,65 ribu jiwa jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, Maret 2025, yang mencapai 107,30 ribu jiwa.
Sejalan dengan jumlahnya, persentase penduduk miskin juga mengalami perbaikan, turun dari 10,06 persen menjadi 9,70 persen.
Meski demikian, BPS mencatat adanya peningkatan Garis Kemiskinan, yakni dari Rp561.807 naik menjadi Rp607.303 per kapita per bulan
Hal ini menunjukkan bahwa standar kebutuhan pengeluaran minimum, baik untuk makanan maupun kebutuhan dasar lainnya, semakin besar.
Di sisi lain, kualitas kesejahteraan penduduk miskin menunjukkan sinyal positif. Indeks Kedalaman Kemiskinan tercatat turun dari 1,45 menjadi 1,18, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan melandai dari 0,32 ke angka 0,25.
Penurunan kedua indikator ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin kini semakin mendekati Garis Kemiskinan, disertai kesenjangan antar-penduduk miskin yang semakin menyempit.
Dinamika penurunan angka kemiskinan ini tidak terlepas dari kondisi makroekonomi Nganjuk yang kian bergeliat.
Sepanjang Triwulan I 2026, ekonomi Kabupaten Nganjuk tumbuh impresif sebesar 6,03 persen secara year-on-year (y-on-y), melampaui pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 5,96 persen.
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) di Nganjuk juga ikut terdongkrak naik sebesar 5,11 persen secara y-on-y, mencerminkan adanya aktivitas ekonomi yang hidup serta potensi daya beli masyarakat yang semakin menguat.
Dari sektor ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Nganjuk pada Agustus 2025 turut mengalami perbaikan, turun tipis menjadi 3,84 persen dari 3,87 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menanggapi berbagai indikator tersebut, Wahyu Purnamahadi menjelaskan bahwa perbaikan ini merupakan hasil dari banyak faktor penunjang yang saling berkaitan.
“Pertumbuhan ekonomi, peningkatan konsumsi rumah tangga, dan penurunan tingkat pengangguran merupakan faktor-faktor yang relevan dalam menganalisis dinamika kemiskinan,” ujarnya, Kamis (22/10/2026).
Kendati demikian, Wahyu mengingatkan bahwa berbagai indikator tersebut tidak serta-merta membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Oleh sebab itu, strategi pengentasan kemiskinan di Nganjuk masih memerlukan kerja bersama yang berkelanjutan.
Upaya ini perlu terus diperkuat melalui perluasan kesempatan kerja, pemerataan hasil pembangunan, penguatan daya beli, serta eksekusi kebijakan yang tepat sasaran demi melindungi kelompok rentan dan penduduk miskin.












