Surabaya, Jatimmandiri.id – Besarnya kebutuhan tembakau Virginia untuk industri hasil tembakau (IHT) Jawa Timur membuka peluang perdagangan dengan Pakistan. Namun, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menginginkan kerja sama tersebut tidak berhenti pada impor bahan baku, melainkan berkembang menjadi kemitraan budidaya, pengembangan bibit, dan transfer teknologi bagi petani serta industri dalam negeri.
Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto menyampaikan hal itu saat menerima kunjungan industri Pakistan di Graha Kadin Jatim, Rabu (20/10). Menurutnya, kolaborasi teknologi dapat menjadi jalan untuk memperkuat produksi Virginia lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.
“Boleh-boleh saja mereka masuk ke sini. Namun, kami berharap ada tukar teknologi. Jadi, tidak hanya membawa tembakau dari negara tertentu, tetapi juga ada kerja sama budidaya, pengembangan bibit, dan teknologinya,” ujar Adik.
Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam industri tembakau nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi tembakau Jatim pada 2025 mencapai 148,77 ribu ton dari luas panen 125,54 ribu hektare. Angka itu menyumbang 46,22 persen dari produksi nasional sebesar 321,90 ribu ton.
Provinsi ini juga mengembangkan beragam varietas, antara lain Besuki Na Oogst dari Jember dan Bondowoso untuk cerutu ekspor, Kasturi dan Virginia di sejumlah wilayah termasuk Madura dan Situbondo, serta White Burley dari Lumajang untuk rokok putih mesin.
Besarnya pasar turut ditopang 1.352 unit industri hasil tembakau di Jatim berdasarkan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) Kementerian Perindustrian hingga akhir 2024. Selain Pakistan, Brasil dan Zimbabwe selama ini menjadi negara pemasok Virginia bagi Indonesia karena produksi di negara tersebut relatif melimpah, sementara pasokan lokal belum mencukupi kebutuhan industri.
“Ini bisa menjadi bahan kajian bagi kampus yang memiliki basis pertanian, balai penelitian, maupun lembaga riset lainnya. Bagaimana menghasilkan tembakau Virginia yang benar-benar bisa dibudidayakan di Indonesia,” katanya.
Adik menambahkan, Kadin Jatim juga menjajaki kerja sama dengan negara lain yang belum dapat disebutkan namanya. Pembahasannya meliputi budidaya, penyediaan bibit, transfer teknologi, hingga peluang pembangunan pabrik di Jatim. Menurutnya, pola ini berpotensi memperluas investasi sekaligus meningkatkan kemampuan petani dan industri lokal.
Sementara itu, CEO Nsyniyaz Tobacco Company, Shaheer Kham, mengatakan perusahaannya telah menjalin komunikasi bisnis dengan Indonesia selama sekitar dua tahun. Kunjungan terbarunya bertujuan mempererat hubungan dengan calon pembeli dan membuka peluang perdagangan jangka panjang.
“Kami sangat senang dengan upaya yang telah dilakukan untuk menjalin hubungan dengan pembeli di sini. Kami menantikan peluang bisnis dengan pasar Indonesia, khususnya pembeli di industri tembakau,” ujarnya.
Shaheer menilai pasar Indonesia menjanjikan, tetapi tembakau Pakistan masih perlu memperluas pengenalan produknya. Harga menjadi tantangan dalam persaingan dengan produk India dan Bangladesh. Ia mengklaim kualitas tembakau Pakistan lebih baik serta menyebut perbedaan harga atau nilai produk dengan tembakau Bangladesh dapat mencapai 25–30 persen, bergantung jenis, kualitas, dan spesifikasi.
“Kami ingin membangun hubungan dengan pembeli Indonesia. Masyarakat di sini sangat ramah dan menyambut kami dengan baik. Kami berharap dapat mengembangkan bisnis bersama mereka,” katanya.
Bagi Kadin Jatim, perdagangan impor diharapkan menjadi pintu masuk kemitraan strategis yang memperkuat kemampuan produksi tembakau nasional, bukan sekadar memenuhi kebutuhan bahan baku.












