Dalam NegeriJatimKota BesarPendidikan

Kasus Kematian Bocah Difabel di Surabaya Akibat Bullying, DPR RI Dorong Penanganan Hukum dan Pemulihan Komprehensif 

Penulis: Alif Bintang
×

Kasus Kematian Bocah Difabel di Surabaya Akibat Bullying, DPR RI Dorong Penanganan Hukum dan Pemulihan Komprehensif 

Sebarkan artikel ini
Reni Astuti menyampaikan duka cita kepada keluarga korban.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id — Kasus perundungan yang berujung pada wafatnya seorang bocah berkebutuhan khusus (disabilitas) di kawasan Rungkut, Surabaya, menuai keprihatinan mendalam dari berbagai pihak.

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Reni Astuti, melakukan kunjungan belasungkawa ke rumah duka keluarga korban pada Minggu (18/10/2026).

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dalam kunjungan tersebut, Reni yang secara kebetulan hadir bersama Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, menyampaikan duka cita secara langsung kepada ayah korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Reni mengungkapkan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui dinas terkait untuk mengonfirmasi detail peristiwa yang sejatinya telah terjadi sejak September lalu tersebut.

Ia menegaskan bahwa tragedi ini tidak boleh dipandang sebelah mata atau dianggap selesai begitu saja.

“Ini mengenai seorang anak difabel yang harus kehilangan nyawa akibat perundungan. Kejadian ini tidak boleh kita anggap selesai begitu saja, tetapi harus dimaknai secara mendalam. Ada persoalan mendasar terkait perilaku anak sebaya yang dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pola pengasuhan, pengaruh lingkungan, hingga tontonan. Hal ini harus didalami secara serius agar kejadian serupa tidak terulang,” tegas Reni.

Politisi PKS tersebut menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai empati dan kasih sayang sejak dini di lingkungan masyarakat maupun sekolah.

Menurutnya, anak-anak berkebutuhan khusus seharusnya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari lingkungan sekitarnya.

“Siapa pun itu, terlebih anak difabel, mestinya disayangi dan ditolong. Bagaimana kita menanamkan jiwa welas asih, rasa tolong-menolong, dan kasih sayang antar sesama teman harus benar-benar tertanam. Di sinilah peran penting orang tua menjadi sangat krusial,” tambahnya.

Terkait proses hukum, Reni mengapresiasi langkah kepolisian yang telah menangani kasus ini dan berharap seluruh proses berjalan sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku.

Baca Juga  Meriah! Ribuan Warga Wonokromo Surabaya Padati Festival Lontong Balap dan Semarak Budaya

Ia juga mendorong Pemkot Surabaya serta kementerian terkait untuk memberikan pendampingan psikologis dan perhatian berkelanjutan, baik kepada keluarga korban maupun keluarga pelaku.

Mengingat terduga pelaku penganiayaan masih tergolong anak di bawah umur. Yakni, berusia sekitar 10 tahun, maka Reni memberikan penekanan khusus terkait pentingnya pembinaan sejak dini.

“Pelakunya masih berusia 10 tahun. Jika tidak ditangani dan dibina secara tepat sejak dini, kita khawatir ini akan membahayakan masa depannya kelak. Kami berharap orang tua pelaku kooperatif dan bersedia agar anaknya mendapatkan pendampingan serta pendidikan pembinaan yang layak dari pemerintah. Ini demi keselamatan sang anak dan membantu orang tua dalam mendidik,” jelas doktoral Unair tersebut.

Selain memberikan perhatian pada proses hukum dan pembinaan, Reni juga menaruh perhatian pada keberlanjutan masa depan keluarga korban.

Ia mendorong adanya bantuan pendidikan bagi kakak korban yang saat ini sedang menempuh jenjang SMK, serta perhatian bagi kondisi kesehatan orang tua korban.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *