Budayaꦧꦸꦢꦪ

600 Penari Remo Hidupkan Warisan Munali Fatah di Sidoarjo

Penulis: Dicky DeaEditor: Ayn
×

600 Penari Remo Hidupkan Warisan Munali Fatah di Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Kemeriahan penari Remo pada Festival Munali Patah di Alun Alun Sidoarjo.
Example 468x60

Sidoarjo, Jatimmandiri – Sebanyak 600 penari dari berbagai generasi memadati Alun-Alun Sidoarjo dalam Festival Munali Patah 2026, Sabtu malam hingga Minggu dini hari (17–18/10/2026). Pergelaran massal ini menjadi upaya nyata menjaga Tari Remo Gagrak Munali Fatah tetap hidup sebagai warisan budaya sekaligus menanamkan nilai keberanian dan patriotisme kepada generasi muda.

Festival tahunan yang digelar Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) bersama Komunitas Kabut Malam tersebut melibatkan peserta dari berbagai sanggar, sekolah, dan kalangan mandiri se-Jawa Timur. Jumlah peserta belum mencapai target simbolis 1.000 penari, tetapi ratusan penampil tetap menghidupkan alun-alun sepanjang malam. Mereka mengenakan selendang dan udeng pacul gowang khas Sidoarjo.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Tari Remo Gagrak Munali Fatah telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional. Festival ini menjadi ruang untuk meneruskan tradisi melalui pertunjukan publik, pembinaan sanggar, dan keterlibatan lintas generasi.

Jejak Maestro dari Panggung Ludruk hingga Tari Remo

Munali Fatah lahir di Sidoarjo pada 17 Mei 1924 dari pasangan seniman ludruk Fatah dan Sutiah. Meski tumbuh tanpa kemampuan membaca dan menulis, ia memiliki kedekatan kuat dengan seni tradisi. Pada 1938, ia memulai karier profesional bersama kelompok Ludruk Rukun Makno.

Dalam masa perjuangan kemerdekaan 1945–1950, Munali bergabung dengan laskar Alap-Alap dan berjuang bersama tokoh ludruk Cak Durasim. Kiprahnya kemudian membawa perubahan penting pada Tari Remo.

Pada 1963, ia memadatkan tarian pembuka ludruk yang semula berdurasi hingga 45 menit menjadi 10–15 menit. Tiga pakem geraknya tetap dipertahankan, yakni budhalan (keberangkatan), sekaran (inti gerakan), dan ulihan (kepulangan). Versi tersebut direkam RRI Surabaya dan menjadi acuan pengajaran Tari Remo gaya Surabayan secara nasional.

Munali pensiun sebagai pegawai negeri sipil pada 1983, tetapi tetap membina seniman muda di kediamannya, Desa Banjarkemantren, Buduran. Ia menerima penghargaan dari PLKJ Surakarta dan Festival Cak Durasim pada 2002 sebelum wafat pada 2004. Warisannya dikenal melalui karakter gerak yang tenang, tegas, dan berwibawa.

Baca Juga  Dari Multibeam ke Bentuk Kota

Dekesda Hubungkan Tradisi dengan Semangat Santri

Penyelenggaraan festival pada pertengahan Oktober, menjelang Hari Santri Nasional 22 Oktober, juga membawa pesan kebangsaan. Karakter Tari Remo sebagai tarian prajurit mencerminkan keberanian, patriotisme, dan falsafah ngelana, yakni perjalanan spiritual kehidupan. Gerak gedrug yang tegas dipandang selaras dengan semangat perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

Ketua Umum Dekesda, Ribut Wijoto, S S, menegaskan festival bukan sekadar pertunjukan musiman, melainkan ruang pertemuan antargenerasi untuk menjaga kesinambungan tradisi.

“Festival Munali Patah tahun ini bukan sekadar panggung pertunjukan musiman bagi kami. Ini adalah ruang kolaborasi sakral lintas generasi tempat bertemunya para maestro tua dan anak-anak muda. Keberhasilan Tari Remo Munali Patah menjadi WBTb nasional tidak boleh berhenti di atas kertas SK kementerian saja. Ia harus terus berdenyut secara nyata melalui latihan rutin di sanggar-sanggar, ketekunan para pelatih, dan apresiasi kolektif di ruang publik seperti malam ini,” tegas Ribut Wijoto di sela-sela perhelatan kolosal tersebut, Sabtu (17/10/2026) malam.

Dalam rangkaian festival, Dekesda juga memberikan Munali Patah Award 2026 kepada 67 insan dan komunitas seni yang dinilai konsisten menjaga tradisi Sidoarjo di tengah modernisasi.

Pergelaran ini diharapkan mendorong pemerintah daerah terus menempatkan kebudayaan lokal sebagai bagian penting pembangunan karakter generasi muda yang mandiri, berbudaya, dan religius.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Kedalaman dan bentuk dasar laut Gosong Gia tidak dapat dijelaskan hanya melalui kenaikan permukaan laut, karena…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Kenaikan permukaan laut setelah zaman es mengubah Sundaland dari bentang daratan luas menjadi wilayah yang sebagian…

Berita

Malang, Jatim Mandiri Semarak Hiburan Nostalgia Malang Classic sukses menjembatani pelaku UMKM dengan masyarakat melalui pameran produk lokal, kuliner, kendaraan…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Bentuk melingkar di dasar Laut Jawa yang dikaitkan dengan kota Atlantis oleh Insinyur Teknik Sipil Hidro,…