Jakarta, Jatimmandiri.id – Upaya penyelamatan Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, akan diarahkan pada pemulihan kondisi bangunan sekaligus penelusuran struktur candi yang diduga masih terpendam di luar kawasan utama. Kementerian Kebudayaan menyiapkan restorasi, revitalisasi, dan ekskavasi untuk mengungkap cakupan kompleks peninggalan sejarah Buddha yang berkaitan dengan peradaban Sriwijaya tersebut.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau langsung situs itu dan berdialog dengan para arkeolog guna mengetahui kondisi terkini bangunan bersejarah tersebut. Kompleks Candi Muara Takus pernah dipugar pada 1978 hingga 1987, tetapi kini sejumlah bagian bangunannya mengalami degradasi akibat pelapukan dan penggaraman.
“Upaya konservasi tidak cukup dilakukan melalui perbaikan fisik semata, tetapi perlu disertai sistem perlindungan material yang sesuai dengan kondisi lingkungan situs,” katanya, sebagaimana dikutip dari keterangan pers Kementerian Kebudayaan di Jakarta, Senin.
Menurut Fadli, penanganan kerusakan membutuhkan pengaturan tata air, pengendalian kelembapan, serta kajian stabilisasi kimiawi material. Langkah tersebut diperlukan untuk mengatasi penggaraman sekaligus memperlambat pelapukan batu penyusun candi.
Ekskavasi Dibidik untuk Ungkap Struktur Tersembunyi
Selain persoalan konservasi, peninjauan juga menemukan indikasi struktur candi di luar pagar utama kompleks yang ada saat ini. Kawasan Candi Muara Takus sekarang terdiri atas empat candi, tetapi penelitian arkeologis menunjukkan kemungkinan terdapat bangunan lain di sekitarnya.
“Kompleks ini semestinya memiliki cakupan yang lebih besar daripada yang ditemukan sekarang, yakni terdiri atas empat candi. Mungkin terdapat candi-candi lain,” kata Menteri Kebudayaan.
“Berdasarkan penelitian, pada jarak sekitar 100 meter di luar pagar juga ditemukan candi lain yang lokasinya sekarang menjadi kebun. Area ini nantinya akan kita coba ekskavasi sehingga mungkin dapat ditemukan struktur-struktur lainnya,” ia menjelaskan.
Tim peneliti menyiapkan ekskavasi untuk mengungkap objek yang terpendam dan memetakan kawasan candi secara menyeluruh. Hasilnya akan menjadi dasar penentuan batas situs, strategi perlindungan, serta rencana pengembangan kawasan.
Berdasarkan kajian historis dan arkeologis, Candi Muara Takus memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Buddha di Nusantara serta keterkaitannya dengan perkembangan Sriwijaya dan jejaring budaya Buddhis di Asia.
Fadli menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, arkeolog, dan tenaga ahli konservasi. Restorasi dan penelitian lanjutan tidak hanya bertujuan mencegah kerusakan, tetapi juga memperkaya pengetahuan tentang sejarah dan peradaban Nusantara.












