Intisari Berita:
- Keluarga Darminto di Barata Jaya Surabaya mengasuh dua anak sekolah inklusi dan satu balita hidrosefalus dengan penghasilan ojol yang tak menentu.
- Bansos PKH sempat terhenti akibat persoalan indikasi verifikasi, namun kini telah berstatus hijau pascaklarifikasi pendamping dan kelurahan.
- Anggota Komisi D DPRD Surabaya Ajeng Wira Wati turun langsung mengawal pencairan PKH tahap empat, akses terapi kesehatan, hingga bantuan permakanan.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Di balik padatnya permukiman RW 3 Kelurahan Barata Jaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya, sepasang suami istri setiap hari berkejaran dengan waktu merawat masa depan buah hatinya. Darminto, seorang pengemudi ojek online (ojol) dengan pendapatan harian yang tidak menentu, harus menopang kebutuhan tiga anak dengan kebutuhan khusus. Dua anaknya menempuh pendidikan di sekolah inklusi, sementara anak bungsunya berjuang melawan hidrosefalus dan memerlukan terapi serta penanganan medis rutin.
Beban hidup kian berat ketika Program Keluarga Harapan (PKH) yang menjadi sandaran keluarga ini sempat mandek akibat kendala verifikasi data. Persoalan tersebut mencuat saat reses jaring aspirasi Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Ajeng Wira Wati, di RW 3 Barata Jaya.
Merespons aduan itu, Ajeng langsung mendatangi kediaman keluarga Darminto pada Rabu (7/10/2026) sore untuk memastikan verifikasi data tuntas dan hak jaring pengaman sosial warga segera pulih.
“Yang pertama, kita akan terus menyampaikan kepada Dinas Sosial Pemerintah Kota Surabaya, bahwa memang warga tersebut sangat membutuhkan bantuan, tidak bisa terputus,” tegas Ajeng.
Klarifikasi Data Rampung: Status PKH Menghijau Menuju Pencairan Tahap 4
Mandeknya bantuan PKH keluarga Darminto sebelumnya sempat terjadi akibat adanya indikasi data yang belum sinkron dalam sistem administrasi kependudukan. Namun, hasil verifikasi faktual lapangan yang dilakukan oleh pendamping PKH bersama jajaran perangkat Kelurahan Barata Jaya kini telah menuntaskan status kepesertaan tersebut.
“Yang kemarin terputus adalah karena ada indikasi itu. Tapi sudah diklarifikasi dan sudah oleh pendamping PKH dan juga pihak kelurahan sudah muncul tanda hijaunya,” terang politisi perempuan tersebut.
Dengan rampungnya pemutakhiran data tersebut, Ajeng memastikan keluarga rentan ini kembali masuk dalam daftar penerima manfaat bansos pada periode penyaluran triwulan akhir tahun.
“Nah, ini tinggal pada saat tahap keempat Oktober, November, Desember, insyaallah akan menerima,” tutur Ajeng optimistis.
Dua Anak Sekolah Inklusi, Satu Hidrosefalus: Butuh Intervensi Lintas Sektor
Perjuangan keseharian Darminto dan sang istri menjadi potret nyata kerentanan pekerja sektor informal di perkotaan. Sembari Darminto mengaspal menjemput orderan ojek, sang istri berikhtiar membuka warung kelontong kecil di rumah sembari menjaga ketiga anaknya yang masih membutuhkan pendampingan intensif.
Ketiadaan anggota keluarga lain yang dapat bergantian merawat memaksa kedua orang tua ini bekerja serabutan di sekitar rumah. Menyadari kompleksitas persoalan tersebut, Ajeng mendorong sinergi lintas instansi di lingkungan Pemkot Surabaya — mulai dari pihak kelurahan, kecamatan, hingga Dinas Kesehatan — guna memfasilitasi perawatan medis rutin anak ketiga Darminto.
“Kemudian juga kita menyampaikan kepada mungkin dari pihak kelurahan, kecamatan, bahkan juga dari Dinas Kesehatan bahwa anak tersebut juga membutuhkan terapi sehingga juga bisa dibantu untuk transportasi ke dinas kesehatan ataupun rumah sakit yang tepat untuk bisa dibantu terapinya rutin setiap tiga bulan sekali,” jelas Ajeng.
Ia menambahkan, absennya jejaring pengasuh alternatif membuat keluarga pekerja informal berada dalam posisi riskan tanpa proteksi sosial yang kokoh.
“Karena anak tersebut kasihan, keluarga tersebut tidak punya anggota keluarga lainnya untuk menjaga sehingga mau tidak mau para orang tua tersebut bekerja informal atau serabutan sehingga sambil menjaga anaknya di rumah, kemudian bekerja yang seadanya dan ini tidak ada perlindungan sosial secara maksimal,” ungkapnya.
Selain sokongan medis, Ajeng berharap Pemkot Surabaya dapat memperluas bantuan permakanan bagi keluarga ini sesuai kemampuan anggaran daerah guna meringankan beban gizi harian.
Urgensi Pembaruan Data Valid agar Warga Tak Tereliminasi
Bercermin dari kasus yang dialami Darminto, Ajeng menegaskan pentingnya akurasi dan pembaruan data kemiskinan secara berkala di tingkat kelurahan. Validasi data yang dinamis dinilai mutlak agar warga yang benar-benar membutuhkan tidak menjadi korban kesalahan sistem pencatatan.
“Nah, ini kita jadi DPRD juga ingin memastikan updating data supaya warga Kota Surabaya yang membutuhkan, khususnya yang mungkin salah dalam artian salah verifikasi seperti ini bisa segera dapat pembenaran. Dapat koreksi secepatnya dan warga yang membutuhkan benar-benar bisa dapat bantuannya,” tegasnya.
Asa Darminto: Butuh Rutinitas Susu, Popok, dan Kelanjutan Pantauan
Ditemui di kediamannya, Darminto tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya atas pendampingan yang diberikan. Di tengah pendapatan narik ojek yang fluktuatif, ia berharap dana PKH dapat segera cair untuk menutup kebutuhan esensial anak bungsunya yang sakit.
“Ya, harapan saya terutama PKH-nya bisa cepat cair. Itu yang pertama, yang kedua ya mungkin ada tambahan bantuan lain. Terutama untuk susu sama pampersnya,” kata Darminto.
Darminto turut mengapresiasi langkah konkret Ajeng yang tidak sekadar menampung keluhan formal di forum reses, melainkan hadir langsung memberikan bantuan pangan serta dana darurat.
“Terima kasih banyak sudah dari awal waktu di reses itu, kemudian saat kunjungan ke sini, terus dia juga ngasih bantuan juga berupa sembako, berupa uang,” tuturnya seraya berharap persoalan kesehatan anaknya terus dipantau dinas terkait.
Apresiasi Perangkat RW 3 Barata Jaya
Ketua RW 3 Kelurahan Barata Jaya, Suyono, menyambut positif kepedulian parlemen kota terhadap dinamika warganya. Menurutnya, intervensi cepat dari anggota dewan menjadi angin segar bagi warga yang memiliki hak namun terkendala alur birokrasi.
“Saya berterima kasih atas kunjungan dewan yang kiranya memperhatikan dari hal-hal yang paling kecil sampai semua itu terlaksana. Jangan sampai warga itu merasa kesulitan, dalam artian yang seharusnya mendapatkan hak… Harapan saya ke depannya mudah-mudahan bisa diperhatikan,” ucap Suyono.
Suyono pun menambahkan rasa bangga warga atas kepedulian perwakilan rakyat yang terjun langsung ke gang permukiman.
“Kami merasa bangga dengan adanya anggota dewan yang berkenan untuk berkunjung ke warga RW 3 Kelurahan Barata Jaya,” pungkasnya.












