Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Gosong Gia memperlihatkan pola melingkar di dasar Laut Jawa yang menarik perhatian karena menyerupai susunan cincin. Tetapi bentuk itu belum membuktikan keberadaan struktur buatan manusia, atau gambaran kota bercincin dalam kisah Atlantis.
——————–
Insinyur Teknik Sipil Hidro (hydro civil engineer), Dhani Irwanto menempatkan pola tersebut sebagai petunjuk yang harus diuji melalui pemetaan dasar laut, geologi terumbu, dan penelitian lapisan bawahnya, Gosong Gia, Jatim Mandiri.
Bentuk lingkaran menjadi bagian penting dari pengamatan terhadap Gosong Gia. Dalam bahan penelitian Irwanto, survei batimetri menunjukkan adanya tonjolan kecil di bagian tengah dan cekungan berbentuk cincin pada kedalaman sekitar 55–60 meter.
Pola itu kemudian dibandingkan dengan gambaran kota bercincin dalam kisah Atlantis. Namun, posisi lingkaran sebagai data awal berbeda dengan kesimpulan bahwa pola itu merupakan sisa kota. Di sinilah persoalan ilmiahnya dimulai.
“Tonjolan di bagian tengah dan cekungan berbentuk cincin pada kedalaman sekitar 55–60 meter,” sebut Dhani.
Menurut Dhani, kombinasi tonjolan tengah, cekungan melingkar, dan karakter terumbu menjadi tiga penanda yang dapat dirangkai dalam rekonstruksi lebih luas. Akan tetapi, lingkaran di dasar laut tidak otomatis berarti tembok, kanal, atau bangunan.
Bentuk melingkar dapat muncul melalui proses geomorfologi, pertumbuhan organisme pembentuk karbonat, sedimentasi, erosi, maupun perubahan lingkungan laut dalam waktu panjang.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah pola tersebut mirip rancangan kota.
Pertanyaannya adalah apakah proses alam mampu menghasilkan bentuk, relief, tekstur, dan posisi relatif yang sama tanpa campur tangan manusia.
Bahan penelitian Irwanto sendiri menempatkan kemungkinan tersebut dalam sejumlah hipotesis pembanding. Di antaranya gosong lumpur, gundukan pasir atau delta pasang surut, tonjolan batuan tanpa pertumbuhan terumbu, struktur antropogenik, serta endapan sementara akibat tsunami.
Dalam kerangka itu, interpretasi yang diajukan adalah reef-mantled high, yakni bagian dasar laut yang tertutup pertumbuhan karbonat dan mampu mempertahankan puncaknya relatif dekat permukaan ketika muka laut berubah. Interpretasi ini disebut masih bersifat sementara dan memerlukan pemeriksaan material serta kronologi secara langsung.
Penjelasan ini penting karena terumbu bukan sekadar lapisan penutup. Pertumbuhan organisme pembentuk karbonat dapat meninggalkan kerangka dan tekstur tertentu yang dapat dibedakan melalui penelitian geologi.
Jika pola lingkaran memang merupakan bentukan terumbu, karakter batuan dan sedimennya semestinya memberikan petunjuk. Sebaliknya, jika di bawah lapisan karbonat ditemukan struktur yang berbeda secara material, pertanyaan baru muncul. Apakah terdapat batu yang dikerjakan manusia, lapisan konstruksi, mortar, atau jejak aktivitas manusia lainnya?
Dhani mengusulkan pemeriksaan lebih lanjut melalui multibeam dan sonar untuk membaca relief, side-scan sonar untuk melihat tekstur permukaan, serta sub-bottom profiling dan pengambilan inti sedimen. Sampel kemudian dapat diperiksa menggunakan analisis petrografi dan SEM/EDS.
Dengan pendekatan itu, bagian yang sudah diketahui dapat dipisahkan dari bagian yang masih menjadi hipotesis. Keberadaan pola batimetri menjadi titik awal, sedangkan asal-usulnya, umur pembentukannya, dan kemungkinan adanya material antropogenik masih membutuhkan pembuktian.
Justru di sinilah nilai penelitian Gosong Gia. Lingkaran tersebut tidak harus segera diberi label sebagai kota kuno untuk menjadi objek penelitian penting. Jika ternyata terbentuk secara alami, hasilnya tetap memperkaya pemahaman tentang evolusi dasar Laut Jawa.
Sebaliknya, apabila penelitian independen menemukan struktur buatan manusia dengan konteks stratigrafi dan umur yang konsisten, temuan itu akan memberikan dasar yang jauh lebih kuat bagi pembahasan mengenai permukiman masa lalu.
Dengan demikian, lingkaran di bawah laut bukanlah akhir dari pencarian, melainkan pintu masuk menuju pertanyaan berikutnya: Apakah kedalaman 55–60 meter itu benar-benar menyimpan jejak perubahan muka laut sekitar 11.600 tahun lalu? (*/ibn)












