Edu-Life & Sportꦧꦸꦢꦪ

Ketika Pohon Mati, Kehidupan Baru Menyala

Penulis: AyundaEditor: Ayn
×

Ketika Pohon Mati, Kehidupan Baru Menyala

Sebarkan artikel ini
Herman dengan karyanya yang berjudul “Post Natural Tree and Installation of Circuit and Light” di ARTSUBS, Surabaya.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Sebuah pohon berdiri dalam keadaan tak lagi utuh. Batang, akar dan kabel menjalar membentuk tubuh baru. Di antara reruntuhan itu, cahaya berkedip seperti napas. Bukan gambaran tentang kematian semata, melainkan pertanyaan tentang apa yang mungkin tumbuh setelah kehancuran.

Gagasan tersebut hadir dalam instalasi Post Natural Tree and Installation of Circuit and Light karya Herman. Melalui karya ini, Herman merespons kondisi lingkungan yang terjadi hari ini, mulai bencana alam hingga penebangan hutan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Pohon dalam karyanya tidak ditampilkan secara romantis sebagai simbol alam yang indah. Justru, Herman memilih membayangkan kondisi setelah pohon kehilangan kehidupannya.

“Saya tidak ingin meromantisasi kehancuran. Saya lebih tertarik membayangkan setelah kehancuran itu apa yang akan terjadi. Apa yang akan muncul, apakah ada sesuatu yang baru, atau mungkin spesies-spesies baru,” ujarnya kepada Jatim Mandiri.

Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui material yang tidak lazim dalam karya seni rupa konvensional. Batang dan akar dipertemukan dengan kabel serta rangkaian lampu. Cahaya yang berkelip menjadi bagian penting dari narasi.

“Lampu yang berkelip itu bisa saya bayangkan sebagai napas dari pohon. Bisa juga menjadi api, atau justru kehidupan itu sendiri,” jelasnya.

Instalasi tersebut menjadi bagian dari eksplorasi baru Herman. Sebelumnya, seniman asal Jombang yang kini menetap di Yogyakarta itu lebih banyak berkarya melalui drawing. Untuk memahami material baru, ia membutuhkan sekitar dua bulan melakukan observasi sebelum memasuki tahap pengerjaan yang juga berlangsung sekitar dua bulan.

Eksplorasi material menjadi karakter seni kontemporer yang ingin ditekuninya. Batas antara lukisan, patung, grafis, suara dan instalasi menjadi semakin cair.

“Menurut saya ini hasil dari seni kontemporer. Lebih bebas untuk mengeksplorasi. Apapun materialnya bisa dijadikan sebuah karya seni,” ujarnya.

Baca Juga  Piala Kajati Jatim 2026 Jadi Panggung Megah Pembuktian Talenta Muda Bulu Tangkis

Konsep besar tersebut juga diperluas melalui karya suara dan drawing dalam satu ruang. Setiap medium membawa bagian berbeda dari gagasan tentang alam yang rusak dan kemungkinan kehidupan setelahnya.

Bagi Herman, karya itu tidak berhenti sebagai objek visual. Ada pesan yang ingin ditinggalkan kepada penonton: kepedulian terhadap kondisi lingkungan.

“Saya ingin mengajak orang-orang kembali peduli terhadap apa yang terjadi sekarang, terutama tentang penebangan hutan. Kalau kita menebang secara berlebihan, mungkin gambaran seperti inilah yang akan terjadi,” katanya.

Karya tersebut akhirnya menjadi semacam ruang perenungan. Penonton tidak hanya diajak melihat pohon yang kehilangan bentuknya, tetapi juga membayangkan masa depan yang mungkin lahir dari kerusakan itu.

Di tengah cahaya yang terus berkedip, Herman menyisakan satu kemungkinan: alam mungkin hancur, tetapi kehidupan selalu mencari cara untuk muncul kembali.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *