Mekah, Jatimmandiri.id – Rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) kini tengah memasuki fase krusial.
Sejak 8 hingga 13 Zulhijjah, jutaan jamaah dari seluruh dunia berjuang menuntaskan rukun haji setelah berminggu-minggu beribadah di Tanah Suci.
Mengingat tantangan fisik dan mental yang besar selama periode ini, kesehatan dan ketenangan pikiran menjadi aset yang paling berharga bagi setiap jamaah.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr Lia Istifhama, yang saat ini juga tengah melaksanakan ibadah haji, berbagi pandangan mengenai pentingnya menjaga stabilitas psikologis dan fisik demi kelancaran ibadah. Baginya, solidaritas antar-jamaah adalah fondasi utama.
“Solidaritas dan semangat persaudaraan para jamaah, adalah kunci tumbuhnya psikologi yang nyaman dan kemudian sekaligus mendorong kekuatan fisik secara alami para jamaah untuk tetap menjalankan ibadah dengan bahagia dan ikhlas, karena kita semua sedang jauh dari keluarga yang kita cintai,” ujar Lia, Kamis, 28 Mei 2026.
Lia menambahkan bahwa adaptasi terhadap cuaca ekstrem dan lingkungan yang heterogen menuntut setiap jamaah untuk selalu memupuk pikiran positif.
Ia menekankan bahwa kebersamaan dengan rekan satu rombongan atau teman sekamar menjadi penguat moral yang sangat efektif.
“Kita semua lagi di negeri orang dengan situasi yang berbeda dengan negeri asal, terutama terkait suhu dan cuaca, dan kita bersama dengan jamaah dari berbagai belahan dunia.”
“Maka pikiran positif harus dikuatkan dan terus ditumbuhkan. Ini akan berhasil dan alami menyatu dari diri jika teman sekamar atau teman rombongan kita sama-sama saling menguatkan kebersamaan,” sambungya.
Dalam kesempatan tersebut, Lia juga membagikan pengalaman pribadinya dalam menyiasati kepadatan di sekitar Masjidil Haram.
Ia menegaskan bahwa kunci utama saat menghadapi situasi mendesak, seperti terpisah dari rombongan, adalah ketenangan dan keyakinan.
“Kebetulan saya pernah menempuh perjalanan dengan bus sholawat. Kemudian saat balik ke masjidil haram dan menuju hotel menginap, jam sudah menunjukkan waktu sholat subuh. Setelah menempuh perjalanan dari hotel tempat kloter Jatim menginap dengan bus sholawat yang cukup macet, akhirnya saya sampai di Terminal Syib Amir.”
“Kemudian karena sangat padat jamaah yang turun dari terminal menuju masjidil haram, maka saya putuskan berjalan pulang sendiri tanpa didampingi kerabat yang sempat mendampingi di bus. Saya membangun pikiran sederhana, bahwa saya harus sendiri karena tidak mungkin berjalan berdampingan, pasti terpisah juga. Maka bismillah saya pulang sendiri. Kuncinya hanya berpikir positif, bahwa pasti banyak juga jamaah yang seperti saya namun mereka juga baik-baik saja.”
Ia memberikan tips praktis bagi jamaah yang menghadapi situasi serupa. “Yang utama, selalu cari jamaah Indonesia atau jamaah dari negara asal selama kita berjalan kaki. Jadi kebetulan jamaah regular kan mengenakan ransel BSI (Bank Syariah Indonesia), maka meski saya berjalan cepat menerobos kepadatan jamaah, saya akan terus menemukan penanda ransel BSI. Dan tersenyum sekaligus menyampaikan kata afwan atau maaf jika mencoba mendahului jamaah lainnya.”
“Kemudian memilih jalan dari sisi luar, bukan memilih akses masuk ke masjidil haram, tapi akses jalan menuju sisi pelataran masjidil haram atau zam-zam tower. Jadi pasti berbeda dengan tujuan jamaah yang semula turun dari terminal, karena mereka umumnya memilih akses masuk masjid. Tapi sekali lagi tidak perlu panik, bismillah sih kuncinya. Jika tidak menemukan jamaah Indonesia lagi, maka kita fokus menuju penanda tower tempat kita menginap,” imbuhnya.
Strategi yang sama ia terapkan saat menuntaskan rangkaian ibadah Armuzna. Baginya, kepanikan hanya akan menguras energi yang seharusnya digunakan untuk beribadah.
“Misal selepas lempar jumroh, kita terpisah dari rombongan, maka bismillah jangan panik. Karena negara kita ini mayoritas jamaah, jadi harus tenang, sambil tetapi jalan ke depan menemukan jamaah yang satu rombongan. Dan alhamdulillah dalam waktu dekat dipertemukan dengan jamaah rombongan. Karena pada akhirnya rombongan juga saling mengecek siapa yang tertinggal atau terpisah. Intinya apapun tidak perlu panik, tetap fokus berjalan dan bismillah yakin dipertemukan dengan serombongan.”
Sebagai anggota Komite III DPD RI yang memiliki tugas pengawasan haji, Lia mengakui bahwa dinamika di lapangan terkadang tidak luput dari kekurangan. Namun, ia mengajak seluruh jamaah untuk bersikap bijak dan ikhlas.
“Kita harus mengakui, bahwa Kementerian Haji atau Kemenhaj sudah berusaha memberikan kemudahan kelancaran sejak jamaah haji hendak berangkat hingga di tanah suci. Namun sekali lagi, kita semua di negeri orang, berjumpa dengan jutaan jamaah lintas negara, di waktu dan tempat yang sama. Jadi pasti sangat muncul potensi kepadatan, baik perjalanan yang macet dan menempuh jarak jalan kaki belasan kilo, akses kamar mandi antrian mengular, maupun tenda di mina yang sangat padat dan hanya bisa digunakan duduk saja misalnya, maka semoga hal ini menjadi kepasrahan diri selama beribadah.”
“Apa yang kurang, semoga kita bisa ikhlas menerima, karena kita telah dipanggil di tanah suci ketika jutaan lainnya masih antri untuk berhaji. Bismillah jika ada kesulitan atau ketidaknyamanan, kita bisa melalui. Kemudian dalam hitungan jam, kita bisa menemukan kenyamanan kembali. Intinya kan apa yang kita rasakan, itu juga dirasakan dan dilalui jamaah lainnya. Jadi ketika mereka juga ikhlas, maka semoga kita juga,” pungkasnya seraya tersenyum.












