Surabaya, Jatim Mandiri – Mahasiswa UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menyegel gerbang utama kampus dan mendirikan posko aksi untuk mendesak Rektor Akh Muzakki mundur dari jabatannya, Senin (21/9). Aksi tersebut merupakan lanjutan demonstrasi mahasiswa yang memasuki hari ketiga, dengan delapan tuntutan terkait kepemimpinan, tata kelola kampus, fasilitas, UKT, serta hak mahasiswa di lingkungan UINSA.
Wakil Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UINSA Fadlurrakhman Fazle Purwardana mengatakan mahasiswa meningkatkan eskalasi aksi karena tuntutan sebelumnya belum memperoleh penyelesaian yang diharapkan. “Sebenarnya ini aksi lanjutan dari kemarin. Kita tetap meningkatkan eskalasi dan menjaga esensi protes ini bertahan,” ujar Fadlurrakhman seperti dikutip Antara, Senin (21/9).
Mahasiswa menyegel gerbang utama di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, dan mendirikan posko di depan Gedung Rektorat. Sebagian mahasiswa bahkan menginap di area kampus untuk mempertahankan aksi. “Kami mendirikan posko, kita akan menginap dan tidur di sini selama Muzakki belum turun,” katanya.
Meski gerbang utama ditutup, akses kampus tidak sepenuhnya terhenti. Mahasiswa dan dosen masih dapat menggunakan akses belakang melalui kawasan Gang Dosen. “Kita tidak melumpuhkan operasional kampus secara utuh. Masih ada pintu belakang di area Gang Dosen yang bisa diakses oleh semua orang,” ujar Fadlurrakhman.
Delapan tuntutan mahasiswa mencakup desakan agar Rektor UINSA mundur atau diberhentikan, serta pembenahan tata kelola kampus dan keterbukaan informasi publik.
Mahasiswa juga meminta penanganan persoalan yang mereka soroti terkait Kopertais, keterlambatan pembagian buku, kartu tanda mahasiswa dan almamater mahasiswa baru.
Selain itu, mahasiswa menuntut evaluasi penerimaan mahasiswa baru yang dinilai berdampak terhadap kapasitas fasilitas kampus. Mereka juga meminta penghapusan kebijakan jam malam.
Tuntutan lainnya berkaitan dengan evaluasi penentuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa baru dan mekanisme peminjaman tempat di lingkungan kampus. Terkait tuntutan mengenai dugaan pelanggaran atau korupsi, mahasiswa meminta pimpinan UINSA memberikan klarifikasi dan penyelesaian sesuai mekanisme yang berlaku.
Fadlurrakhman mengatakan penyegelan akan dipertahankan selama mahasiswa menilai tuntutan mereka belum memperoleh penyelesaian. “Kalau perlu memang nanti dirasa perlu untuk menyegel lebih lama, kita akan segel seminggu, dua minggu, tiga minggu, satu bulan,” katanya.
Mahasiswa berharap aksi tersebut menjadi ruang evaluasi terhadap kebijakan kampus sekaligus mendorong penyelesaian tuntutan melalui komunikasi dengan pihak rektorat. (ant/ibn)












