Nganjuk, Jatimmandiri.id – Kawasan puncak Gunung Wilis yang membentang di perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Ponorogo kembali membara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk mencatat adanya lonjakan signifikan indikasi titik panas (hotspot) di area tersebut hingga mencapai 46 titik, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan data pemantauan satelit, sebanyak 8 titik panas terdeteksi berada di wilayah Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk.
Sementara itu, 38 titik panas sisanya tersebar di kawasan administratif Kabupaten Ponorogo, yakni di Kecamatan Pulung dan Pudak.
Hasil pengamatan visual menunjukkan kepulan asap tebal dan kobaran api terlihat jelas meluas ke arah timur serta barat mendekati wilayah Nganjuk.
Tiupan angin kencang yang berpadu dengan cuaca terik musim kemarau kian mempercepat perambatan api di tengah rimbunnya vegetasi yang mengering.
Meski menyaksikan kepulan asap membumbung tinggi di area puncak, warga Desa Ngliman yang berada di kawasan terdekat memilih tetap tenang sembari meningkatkan kewaspadaan.
“Kami melihat asap cukup tebal dari arah pemukiman. Lokasi agak jauh tapi kami tetap siaga dan waspada agar api tidak merembet ke bawah,” ungkap Rudi, salah seorang warga Desa Ngliman.
Menanggapi ancaman tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk bergerak cepat menyiagakan personel gabungan.
Meski demikian, kendala utama operasi pemadaman berada pada medan ekstrem yang terjal serta jarak tempuh yang mencapai 15 kilometer dari pemukiman warga tanpa akses kendaraan.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan warga. Kondisi di lokasi cukup sulit dijangkau dan jauh dari pemukiman, namun kami pastikan pemantauan berjalan terus agar tidak meluas,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nganjuk Sutomo.
BMKG turut mengimbau masyarakat di sekitar lereng Gunung Wilis untuk menahan diri dari aktivitas pembakaran lahan.
Sebab akan berisiko memperluas area kebakaran, mengingat dinamika arah dan kecepatan angin masih sangat dinamis.
Hingga saat ini, si jago merah masih membakar kawasan puncak.
Kendati belum terindikasi mengancam area permukiman secara langsung, tim gabungan bersama warga setempat tetap disiagakan di titik-titik pantau jalur bawah guna mengantisipasi kemungkinan terburuk.












