Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Gelombang protes orang tua murid merebak di Kabupaten Sidoarjo.
Keresahan ini dipicu oleh melambungnya tarif kegiatan belajar luar kelas yakni, Outing Day Learning (ODL) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dipatok hingga mencapai Rp1,2 juta per siswa.
Nominal fantastis tersebut dinilai sangat memberatkan wali murid di tengah situasi ekonomi saat ini.
Polemik ini memuncak lantaran agenda ODL kerap diwajibkan menyasar destinasi luar daerah.
Alhasil ongkos transportasi dan akomodasi membengkak. Padahal esensi edukasi pada dasarnya dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan museum serta situs sejarah lokal di Sidoarjo.
Merespons gejolak tersebut, Bupati Sidoarjo Subandi bergerak cepat dengan mengambil tindakan tegas.
Ia menginstruksikan seluruh satuan pendidikan agar tidak memaksakan agenda ke luar wilayah seperti Malang yang berpotensi mencekik keuangan orang tua.
Tak hanya itu, Bupati juga menyoroti indikasi permainan pihak sekolah dalam penunjukan agen travel atau armada bus.
“Kami minta sekolah tidak bermain-main dalam penentuan vendor transportasi. Berdayakan pengusaha bus lokal Sidoarjo yang armadanya sudah teruji kelayakannya. Jangan sampai ada unsur paksaan yang merugikan wali murid,” ujar Bupati Subandi, Kamis (17/9/2026).
Langkah intervensi ini diperkuat oleh jajaran birokrasi eksekutif.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Sidoarjo, Mohammad Ainur Rahman, menegaskan bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah diperintahkan untuk segera menerbitkan regulasi pengawasan demi membendung potensi komersialisasi di lingkungan sekolah.
“Kami sudah memerintahkan Dinas Pendidikan untuk segera menerbitkan Surat Edaran (SE) sebagai pedoman baku. Regulasi ini akan mengatur batasan biaya, transparansi anggaran, serta standarisasi kegiatan agar dunia pendidikan tetap inklusif dan tidak membebani masyarakat kurang mampu,” jelas Ainur.












