Jateng

Pemprov Jateng Gandeng RS Swasta Kembangkan Medical Tourism

Penulis: Habib Al Bay Haqqi
×

Pemprov Jateng Gandeng RS Swasta Kembangkan Medical Tourism

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SEMARANG, Jatim Mandiri – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mendorong pengembangan medical tourism dengan menggandeng rumah sakit swasta. Potensi tersebut dinilai semakin terbuka seiring meningkatnya kualitas layanan kesehatan dan teknologi kedokteran yang dimiliki sejumlah rumah sakit di Jawa Tengah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan pengembangan medical tourism membutuhkan kolaborasi antara rumah sakit pemerintah dan swasta. Menurutnya, kerja sama tersebut penting untuk memperkuat pelayanan sekaligus mengenalkan kemampuan rumah sakit di Jateng kepada masyarakat luas.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“‘Medical tourism’ itu kita bersama-sama berkolaborasi antar-RS pemerintah atau negeri dengan RS swasta, khususnya dalam pelayanan kesehatan,” kata Taj Yasin di Semarang, Selasa.

Pernyataan tersebut disampaikan Taj Yasin saat meresmikan Queen Latifa Hospital Semarang, rumah sakit swasta yang merupakan transformasi dari RSIA Kusuma Pradja Semarang.

Gus Yasin, sapaan Taj Yasin Maimoen, menilai kemampuan rumah sakit di Jawa Tengah dalam memberikan layanan kesehatan tidak kalah dibandingkan rumah sakit di daerah lain, termasuk rumah sakit di luar negeri.

Ia menyebut perkembangan teknologi kedokteran membuat sejumlah penyakit yang sebelumnya dianggap sulit ditangani kini sudah memiliki pilihan pengobatan yang semakin baik.

“Penyakit-penyakit kronis yang dulu ‘dianggap berat’ untuk disembuhkan, seperti kanker dan penyakit-penyakit kronis yang lain, sekarang sudah bagus pelayanannya,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan yang masih perlu diperkuat adalah kepercayaan masyarakat. Pemerintah bersama pelaku industri kesehatan harus mampu menyampaikan berbagai perkembangan layanan dan teknologi yang dimiliki rumah sakit di Jawa Tengah.

“Banyak RS di Jateng yang terus melanjutkan penelitian dan inovasinya. Nah ini yang perlu kita kampanyekan supaya masyarakat melek, enggak perlu lagi ke RS luar negeri cukup di Jawa Tengah,” kata Gus Yasin.

Baca Juga  Wapres Gibran Tinjau RSUD Raden Mattaher Jambi, Pastikan Penguatan Dokter Spesialis dan Fasilitas Kesehatan

Direktur Queen Latifa Hospital Semarang dr Alviena Bestari Savitri mengatakan pihaknya siap mendukung upaya menjadikan Jawa Tengah sebagai salah satu tujuan medical tourism. Rumah sakit tersebut menawarkan sejumlah layanan kesehatan yang dinilai belum banyak tersedia di rumah sakit lain.

Salah satunya adalah intragastric balloon, prosedur medis minimal invasif untuk membantu menurunkan berat badan tanpa melalui tindakan operasi.

“Namanya intragastric balloon. Jadi, itu bisa bikin kurus, nurunin berat badan tanpa harus operasi. Kayak bariatrik, tapi enggak pakai operasi,” katanya.

Selain itu, Queen Latifa Hospital Semarang juga menyediakan pemeriksaan genomik melalui sampel air liur. Pemeriksaan tersebut dapat digunakan untuk mengetahui kondisi tertentu, termasuk alergi terhadap zat seperti kafein dan alkohol, serta melihat kecenderungan penyakit tertentu tanpa harus mengambil sampel darah.

Direktur Utama PT Queen Latifa Husada Jaya Syaifudin mengatakan potensi pasar layanan kesehatan di dalam negeri sangat besar. Berdasarkan data yang dimilikinya, hampir satu juta warga Indonesia pergi ke luar negeri untuk berobat sepanjang 2025.

“Angka-angka ini seharusnya tidak membuat kita menyalahkan masyarakat. Justru angka ini harus menjadi tantangan bagi kita semua sebagai pelaku industri kesehatan di Indonesia,” katanya.

Pengembangan medical tourism di Jawa Tengah diharapkan tidak hanya mampu menahan masyarakat agar memilih layanan kesehatan di dalam negeri. Lebih jauh, peningkatan kualitas layanan dan teknologi kesehatan juga dapat membuka peluang menarik pasien dari luar daerah maupun mancanegara.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *