Jatimmandiri.id– Elena Rybakina tampil sebagai juara baru US Open 2026 setelah menaklukkan Aryna Sabalenka dalam pertandingan final yang berlangsung sengit di Arthur Ashe Stadium, New York, Sabtu.
Rybakina mengalahkan Sabalenka dengan skor 6-4, 5-7, 6-2. Kemenangan tersebut sekaligus melengkapi pekan luar biasa bagi petenis Kazakhstan itu setelah sebelumnya memastikan diri merebut posisi peringkat 1 dunia WTA mulai pekan depan.
Datang ke New York sebagai salah satu penantang kuat, Rybakina justru membawa pulang dua pencapaian terbesar. Selain merebut takhta peringkat dunia dari Sabalenka, dia juga mengangkat trofi US Open yang dalam dua tahun terakhir selalu menjadi milik petenis Belarus tersebut.
“Sulit menemukan kata-kata saat ini. Sejujurnya, saya tidak menyangka bisa mendapatkan hasil seperti ini ketika datang ke turnamen ini,” kata Rybakina.
Petenis berusia 27 tahun itu mengaku sempat mengalami masalah cedera sebelum US Open. Namun, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk tampil maksimal hingga pertandingan terakhir.
“Saya sempat mengalami sedikit cedera, tetapi entah bagaimana semuanya berjalan sesuai dengan yang saya harapkan,” ujarnya.
Gelar Grand Slam Ketiga Rybakina
Trofi US Open 2026 menjadi gelar Grand Slam ketiga bagi Rybakina. Sebelumnya, dia menjadi juara Wimbledon 2022 dan Australian Open 2026.
Menariknya, dua gelar Grand Slam terakhir Rybakina diraih dengan mengalahkan Sabalenka di lapangan keras.
Kemenangan di New York juga menghentikan catatan impresif Sabalenka. Sebelum menghadapi Rybakina, Sabalenka telah memenangkan 19 pertandingan beruntun di US Open dan tidak pernah kalah di turnamen tersebut sejak dikalahkan Coco Gauff pada final 2023.
Rybakina juga membawa pulang hadiah uang sebesar 5,5 juta dolar AS, salah satu hadiah terbesar dalam sejarah Grand Slam. Jumlah tersebut menjadi penghargaan atas keberhasilannya merebut gelar US Open.
Dengan kemenangan tersebut, Rybakina kini mengoleksi tiga gelar sepanjang musim 2026. Jumlah itu menyamai Sabalenka dan juara French Open, Mirra Andreeva, sebagai petenis dengan koleksi gelar terbanyak di WTA musim ini.
Sabalenka Gagal Hat-Trick US Open
Sabalenka harus puas menjadi runner-up dan menerima hadiah sebesar 2,8 juta dolar AS.
Kekalahan tersebut terasa berat bagi Sabalenka. Seusai pertandingan, dia sempat menghancurkan raket setelah berjabat tangan dengan Rybakina di depan net.
Sabalenka sebelumnya berambisi menjadi petenis pertama sejak Serena Williams pada periode 2012-2014 yang mampu memenangkan US Open tiga tahun berturut-turut.
“Saya hanya berusaha bertanding dan melakukan yang terbaik dengan apa yang saya miliki hari ini. Namun, itu belum cukup,” kata Sabalenka.
Sabalenka sebenarnya mampu memberikan perlawanan kuat, terutama pada set kedua. Setelah kalah 4-6 pada set pertama, dia bangkit dan merebut set kedua dengan skor 7-5.
Namun, Rybakina kembali mengambil kendali permainan pada set penentuan. Dia tampil lebih tenang dan mampu memanfaatkan sejumlah kesalahan Sabalenka untuk menutup pertandingan dengan kemenangan 6-2.
Rybakina Tak Perlu Andalkan Servis Terbaik
Keberhasilan Rybakina semakin istimewa karena dia tidak tampil dengan servis terbaiknya.
Sebagai salah satu petenis dengan catatan ace terbanyak di WTA, Rybakina justru hanya mampu memasukkan kurang dari separuh servis pertamanya.
Namun, dia menggantinya dengan permainan pengembalian bola yang agresif. Rybakina menciptakan 12 peluang break dan berhasil memanfaatkan tiga di antaranya.
Tekanan tersebut membuat Sabalenka kesulitan mengembangkan permainan.
Kekuatan pukulan Rybakina juga menjadi salah satu faktor utama yang membuat Sabalenka kerepotan. Petenis Belarus tersebut mengakui kemampuan Rybakina dalam melakukan servis dan mengambil bola lebih awal memberikan keuntungan besar di lapangan US Open yang dikenal cepat.
“Servisnya luar biasa. Dia mampu mengambil bola lebih awal dan menekan lawan. Terlebih lagi, lapangan US Open sangat cepat sehingga itu menjadi keuntungan besar baginya,” ujar Sabalenka.
Tenang di Tengah Tekanan
Salah satu kelebihan Rybakina dalam pertandingan tersebut adalah ketenangannya.
Berbeda dengan Sabalenka yang kerap menunjukkan emosi ketika pertandingan tidak berjalan sesuai harapan, Rybakina relatif minim ekspresi dan tetap fokus pada permainan.
Coco Gauff, yang dikalahkan Rybakina pada semifinal, sebelumnya juga menyoroti ketenangan tersebut.
Rybakina memang sempat menunjukkan frustrasi ketika pukulan backhand-nya melebar pada awal set ketiga. Namun, dia segera bangkit dan kembali mengambil kendali pertandingan.
Setelah itu, Rybakina terus menekan hingga akhirnya memastikan kemenangan dan mengangkat trofi US Open untuk pertama kalinya.
Peringkat 1 Dunia Jadi Milik Rybakina
Keberhasilan Rybakina di US Open semakin lengkap karena mulai Senin dia akan resmi menduduki peringkat 1 dunia WTA.
Sabalenka sebelumnya menguasai posisi teratas selama 99 pekan berturut-turut. Namun, Rybakina sudah mengumpulkan poin yang cukup untuk menggusur Sabalenka setelah melangkah ke semifinal US Open.
Dengan keberhasilan menjadi juara, Rybakina semakin mempertegas dominasinya.
Rybakina lahir di Rusia, tetapi memilih mewakili Kazakhstan dalam karier profesionalnya. Kini, dia telah mengoleksi tiga gelar Grand Slam dan hanya membutuhkan gelar French Open untuk melengkapi koleksi Career Grand Slam.
US Open yang Dulu Sulit Kini Jadi Panggung Juara
Keberhasilan Rybakina terasa semakin spesial karena US Open sebelumnya bukan turnamen yang bersahabat baginya.
Dalam beberapa penampilan sebelumnya, Rybakina tidak pernah mampu melewati babak keempat. Tahun ini, situasinya berubah drastis.
“Saya datang ke sini selama 10 tahun terakhir dan tidak pernah mendapatkan hasil yang sukses. Bahkan tidak mendekati pencapaian seperti ini,” kata Rybakina.
Kini, New York justru menjadi tempat lahirnya salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya.
“Saya semakin jatuh cinta dengan New York,” ujarnya.
Sementara itu, kekalahan ini menjadi pukulan bagi Sabalenka yang dalam beberapa tahun terakhir menjadikan Arthur Ashe Stadium seperti rumah sendiri. Dia tercatat empat kali beruntun mencapai final US Open dan enam kali menembus semifinal.
Namun, kali ini dominasi tersebut berakhir di tangan Rybakina.
Elena Rybakina bukan hanya merebut trofi US Open 2026. Dia juga merebut takhta peringkat 1 dunia dari Aryna Sabalenka dalam satu pekan yang sama.












