Dalam Negeri

Pertamina Bidik Jelantah MBG Jadi Bahan Bakar Pesawat

Penulis: AyundaEditor: Ayn
×

Pertamina Bidik Jelantah MBG Jadi Bahan Bakar Pesawat

Sebarkan artikel ini
Warga mengumpulkan minyak jelantah untuk diolah menjadi bahan bakar pesawat di sekitar Kilang Cilacap. Foto : DOK. PERTAMINA PATRA NIAGA.
Example 468x60

Cilacap, Jatimmandiri.id – Minyak jelantah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dibidik Pertamina untuk dikembangkan menjadi bahan baku sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat berkelanjutan. Langkah tersebut dilakukan melalui Kilang Unit IV Cilacap dengan menjajaki pengumpulan used cooking oil (UCO) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan pengumpulan minyak jelantah dari SPPG dan KDMP akan dilakukan melalui skema bisnis ke bisnis (business to business/BtoB). Minyak bekas memasak itu selanjutnya menjadi salah satu sumber pasokan bahan baku yang akan diproses menjadi bahan bakar penerbangan ramah lingkungan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“UCO (used cooking oil/minyak jelantah) nanti dikumpulkan dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), KDMP,” kata Hermawan di sela temu media nasional Pertamina Media Xpose di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026) dikutip dari Antara.

Menurut Hermawan, pengembangan sumber pasokan UCO tidak berhenti pada program MBG dan koperasi desa. Pertamina juga menghimpun minyak jelantah dari hotel, restoran, kafe, masyarakat, komunitas, hingga pemasok limbah minyak goreng, termasuk Gabungan Pengusaha/Pelaku Usaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi).

Keberadaan Gapulimgi dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung ketersediaan bahan baku. Hermawan memperkirakan pasokan UCO dari kelompok tersebut dapat mencapai 240.000 hingga 300.000 ton per tahun.

Untuk masyarakat dan rumah tangga, Pertamina membuka pengumpulan dengan skema bisnis ke konsumen (business to consumer/BtoC). Harga pembelian minyak jelantah melalui skema tersebut mencapai Rp6.000 per liter. Sementara harga pembelian UCO melalui skema BtoB diperkirakan lebih tinggi.

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF menjadi bagian dari upaya Pertamina mengembangkan bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan. Produksi perdana SAF di Indonesia dilakukan pada Juli-Agustus 2025.

Baca Juga  Bupati Yes dan Forkopimda Lamongan Simak Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo

Sebelumnya, Pertamina telah melakukan uji coba penerbangan komersial pada September 2023 menggunakan pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800. Dalam uji coba tersebut, bahan bakar dicampur dengan 2,4 persen minyak inti sawit yang telah melalui proses pemurnian, pemutihan, dan penghilangan bau atau refined, bleached, and deodorized kernel oil (RBDPKO). Pertamina menargetkan kandungan SAF dapat ditingkatkan hingga 3 persen.

SAF yang dikembangkan Pertamina juga telah memperoleh sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Bahan bakar tersebut telah digunakan sejumlah maskapai, termasuk Garuda Indonesia dan Pelita Air, serta maskapai asing untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, dan Bandara Ngurah Rai, Bali.

Dengan memperluas sumber pengumpulan UCO, termasuk dari aktivitas MBG, Pertamina sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah minyak goreng menjadi bahan bernilai ekonomi. Langkah itu menjadi bagian dari pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan sekaligus mendorong pemanfaatan limbah secara lebih produktif.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Madiun, Jatim Mandiri Sebanyak 30 siswa dan guru SDN 2 Kanigoro mendapat penanganan setelah mengalami pusing, mual, dan muntah usai…