Beritaꦧꦸꦢꦪ

Cocok Belum Tentu Terbukti Atlantis

×

Cocok Belum Tentu Terbukti Atlantis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kondisi alam dan adat istiadat sebagaimana dijelaskan dalam manuskrip Plato memiliki kecocokan dengan Nusantara. Jatim Mandiri
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Geolog Danny Hilman Natawidjaja membandingkan bentang Sundaland dengan uraian Atlantis karya Plato dan memperkirakan kecocokannya sekitar 95 persen berdasarkan sejumlah ciri alam. Namun, ia menegaskan kesamaan itu belum membuktikan identitas lokasi dan harus diuji melalui riset.

——————

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Dalam wawancara dengan Jatim Mandiri, Danny menjelaskan kesan cocok muncul setelah unsur geografis, iklim, flora, fauna, serta kehidupan masyarakat dalam naskah Plato dibandingkan dengan karakter lingkungan Nusantara. “Dari manuskrip Plato, kondisi geografis, flora, fauna, ciri tumbuhan, musim, dan adat istiadat memiliki kecocokan dengan Nusantara,” ujarnya.

Perbandingan itu mencakup dataran luas, pegunungan, sungai, rawa, hewan liar dan ternak, gajah, kekayaan alam, serta tumbuhan yang menghasilkan buah mudah rusak. Danny juga menghubungkan uraian mengenai siklus pertanian dengan dua musim di wilayah tropis.

Berdasarkan keseluruhan ciri tersebut, ia memperkirakan tingkat kecocokannya mencapai sekitar 95 persen. Angka itu menarik perhatian. Tetapi tidak dapat dibaca sebagai peluang matematis bahwa Sundaland adalah Atlantis. Danny menyampaikannya sebagai penilaian berdasarkan perbandingan ciri, bukan hasil penghitungan statistik yang telah diterbitkan.

Naskah Critias memang memuat sejumlah unsur yang menjadi dasar perbandingan tersebut. Plato menulis tentang gajah, sumber daya alam, dataran luas, pegunungan, sungai, danau, serta hewan liar dan peliharaan.

Dalam terjemahan Critias yang dihimpun MIT Classics, wilayah Atlantis digambarkan memiliki tanah subur dengan hasil alam berlimpah. Sejumlah buah disebut tidak tahan disimpan lama.

Plato juga menggambarkan dataran yang dikelilingi pegunungan dan dialiri sungai. Air dari kawasan tinggi disalurkan melalui jaringan kanal menuju lahan pertanian dan kota. Namun, teks tersebut tidak secara langsung menyebut dua musim hujan dan kemarau merujuk pada Indonesia.

Baca Juga  Jika Atlantis Ada, Di Mana Pelabuhannya?

Naskah itu menyatakan penduduk memanen dua kali setahun. Panen musim dingin memanfaatkan hujan, sedangkan panen musim panas menggunakan air yang dialirkan melalui kanal. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa isi teks dan penafsiran modern perlu dipisahkan secara hati-hati.

Christopher Gill dalam buku akademiknya, Plato’s Atlantis Story: Text, Translation and Commentary, juga menempatkan Timaeus dan Critias sebagai teks yang memerlukan kajian bahasa serta penafsiran.

Di tingkat pertama, persamaan antara uraian Plato dan Sundaland baru berupa kemiripan deskriptif. Tahap ini mencatat ciri yang tampak sejalan tanpa menetapkan hubungan sejarah antara keduanya.

Kemiripan dapat berkembang menjadi hipotesis, apabila menghasilkan pertanyaan yang bisa diuji. Hipotesis juga harus memberikan ruang bagi temuan yang mendukung maupun menggugurkan dugaan awal.

Bukti pendukung berada satu tingkat lebih tinggi. Bukti harus memiliki hubungan yang jelas dengan klaim, dapat diperiksa secara mandiri, dan tidak sekadar menunjukkan karakter umum suatu wilayah.

Pegunungan, sungai, dataran subur, dan kekayaan alam terdapat di banyak tempat. Karena itu, ciri tersebut belum cukup kuat untuk membedakan Sundaland dari seluruh kandidat lokasi lainnya.

Keberadaan gajah mungkin terlihat lebih khusus. Namun, ciri itu tetap perlu ditempatkan dalam konteks persebaran satwa, masa keberadaan, perubahan lingkungan, dan wilayah pembanding yang digunakan.

Setiap ciri juga tidak otomatis mempunyai nilai pembuktian yang sama. Gajah, pola panen, bentuk dataran, dan buah mudah rusak memerlukan bobot serta definisi yang berbeda.

Persentase ilmiah membutuhkan daftar indikator, sumber teks, metode pemberian bobot, jumlah pembanding, dan cara penghitungan yang dapat diperiksa. Tanpa perangkat tersebut, peneliti lain mungkin menghasilkan angka berbeda.

Pengujian juga perlu mencari ketidakcocokan, bukan hanya menghimpun persamaan. Cara ini mencegah pemilihan data yang tanpa disadari hanya menguatkan dugaan awal.

Baca Juga  Mengapa Belum Ada Bukti Kota Atlantis?

Danny sendiri memberikan batas terhadap penilaiannya. Ia menegaskan kemiripan tinggi tidak boleh langsung diubah menjadi kesimpulan mengenai lokasi Atlantis. “Dengan deskripsi yang cocok secara ilmiah, tidak bisa kemudian dikatakan Sundaland itu Atlantis. Harus melalui riset,” tegas Danny.

Pernyataan serupa juga pernah disampaikan Danny ketika membahas kesejajaran geografi, gajah, sumber daya, iklim, dan bentuk daratan Sundaland dalam sebuah wawancara pada 2025.

Sikap itu membuka ruang pembahasan yang lebih produktif. Angka 95 persen dapat menjadi titik awal penyusunan pertanyaan, selama tidak disajikan sebagai kepastian yang telah mendapat pengakuan ilmiah. (*/ibn)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri DPRD dan Pemkot Surabaya membahas kekuatan fiskal RAPBD-P 2026 senilai Rp12,89 triliun melalui rapat paripurna di Gedung…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri BRI Branch Office Surabaya Jemursari memperkuat layanan personal melalui kunjungan dan dialog dengan nasabah prioritas di Surabaya….

Berita

Pasuruan, Jatim Mandiri Desa Randupitu menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Gempol, Pasuruan yang menerima program pemutakhiran data Pajak Bumi dan…

Berita

Probolinggo, Jatim Mandiri Pemkot Probolinggo menyediakan bahan pangan terjangkau melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga…