Surabaya, Jatimmandiri.id – Duduk berjam-jam di depan komputer, bepergian dengan kendaraan hingga menghabiskan waktu luang bersama gawai membuat aktivitas fisik semakin berkurang. Padahal, kebiasaan minim gerak dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit serius.
Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Irmantara Subagio, mengatakan kurang aktivitas fisik tidak hanya menurunkan kebugaran, tetapi juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, hipertensi hingga stroke. Penyakit tersebut kerap disebut the silent killer karena dapat muncul tanpa gejala mencolok.
“Secara biologis, tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Ketika tubuh berada dalam kondisi tidak aktif secara terus-menerus, terjadi gangguan pada berbagai sistem tubuh,” jelasnya dalam kesempatan menyambut Hari Olahraga Nasional pada 9 September.
Menurut Irmantara, kebiasaan aktif perlu dibangun sejak dini dan disesuaikan dengan usia. Pada masa pertumbuhan, aktivitas fisik membantu memperkuat tulang dan otot serta mendukung perkembangan motorik.
Sementara pada usia produktif, gerak membantu menjaga kebugaran, berat badan, kesehatan jantung dan metabolisme. Bagi lansia, aktivitas fisik penting untuk mempertahankan kekuatan, keseimbangan, mobilitas dan kemandirian.
Gerak pun tidak harus berupa olahraga berat. Masyarakat dapat berdiri atau berjalan 2–3 menit setelah duduk 45–60 menit, berjalan cepat, bersepeda, menggunakan tangga atau berjalan saat menelepon.
Kebiasaan tersebut dapat disisipkan di tengah rutinitas tanpa harus mengubah seluruh aktivitas harian. Konsistensi menjadi kunci agar tubuh tetap aktif dan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pola hidup aktif juga sebaiknya dibarengi dengan kebiasaan sehat lainnya, seperti menjaga pola makan dan tidur. Dengan demikian, upaya menjaga kesehatan tidak hanya dilakukan ketika muncul keluhan, tetapi menjadi bagian dari keseharian. Langkah sederhana yang dilakukan secara rutin dapat menjadi investasi penting untuk menjaga kebugaran sekaligus menekan risiko penyakit kronis.
“Gerakan sederhana yang dilakukan secara konsisten tetap memberikan dampak bagi tubuh. Kegiatan tersebut dapat dikombinasikan dengan latihan penguatan otot atau latihan di pusat kebugaran,” pungkasnya.












