Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Setelah ribuan tahun, Atlantis belum dapat ditempatkan sebagai fakta sejarah karena belum ada reruntuhan, artefak, prasasti, atau permukiman yang terverifikasi secara arkeologis. Di Laut Jawa, sedimentasi, abrasi, kenaikan muka laut, pelapukan, dan keterbatasan riset membuat hipotesis Dhani Irwanto tetap terbuka untuk diuji.
———————————————————-
Atlantis terutama dikenal melalui dialog Timaeus dan Critias karya filsuf Yunani, Plato. Ketiadaan sumber pembanding dan bukti fisik membuat kisah tersebut masih berada di antara legenda, gagasan filosofis, dan kemungkinan sejarah.
Ketiadaan bukti tidak serta-merta menunjukkan Atlantis tidak pernah ada. Namun, kondisi itu juga tidak dapat digunakan untuk membuktikan keberadaannya. Di Indonesia, insinyur hidrologi Dhani Irwanto mengajukan Paparan Sunda sebagai lokasi Atlantis. Ia menempatkan pusat kota yang digambarkan Plato di wilayah yang kini menjadi Laut Jawa.
“Penulis mengajukan hipotesis bahwa pulau dan kota Atlantis yang hilang berada di Laut Jawa, Indonesia,” tulis Dhani dalam kajian Atlantis in Java Sea. Hipotesis tersebut mempunyai titik pijak pada sejarah geologi kawasan. Paparan Sunda memang pernah menjadi daratan luas yang menghubungkan Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.
Penelitian Communications Biology: Prehistoric Human Migration Between Sundaland and South Asia Was Driven by Sea-Level Rise oleh 13 peneliti, dengan Hie Lim Kim sebagai penulis utama menunjukkan permukaan laut global naik sekitar 135 meter sejak 26 ribu tahun lalu. Perubahan itu mengurangi luas daratan Asia Tenggara lebih dari 50 persen.
Fakta itu membuka kemungkinan adanya paleolanskap dan jejak kehidupan manusia di bawah laut. Namun, keberadaan daratan serta manusia purba belum membuktikan adanya kota dan permukiman Atlantis seperti yang digambarkan Plato.
Salah satu kendala pencarian ialah sedimentasi. Material yang dibawa sungai dan arus laut dapat menumpuk di dasar Laut Jawa selama ribuan tahun. Endapan tersebut berpotensi menutup aliran sungai purba, benda buatan manusia, atau bekas permukiman. Sebaliknya, sedimen dalam kondisi tertentu juga dapat melindungi artefak dari kerusakan.
Abrasi menghadirkan persoalan berbeda. Ketika garis pantai bergerak akibat kenaikan laut, gelombang dan arus dapat mengikis daratan, meruntuhkan bangunan, serta memindahkan benda dari tempat asalnya.
Proses itu membuat konteks arkeologis sulit dibaca. Meski demikian, abrasi belum tentu menghilangkan seluruh bukti karena material batu, alat, atau keramik masih mungkin bertahan.
Kenaikan muka laut pasca zaman es juga berlangsung dalam rentang panjang, meski terdapat beberapa periode kenaikan cepat. Kondisi tersebut berbeda dengan cerita Plato tentang kehancuran Atlantis dalam satu hari dan satu malam.
Dhani menjelaskan perbedaan itu melalui model dua tahap. Ia mengusulkan asumsi kehancuran cepat akibat gempa dan tsunami, kemudian diikuti penurunan daratan serta kenaikan laut secara bertahap.
“Model ini mengusulkan kehancuran seketika yang diikuti penurunan daratan dalam jangka panjang,” tulis Dhani dalam Sundaland Research Program.
Model itu masih harus diuji melalui bukti lapangan. Endapan tsunami, jejak gempa, perubahan garis pantai, dan artefak manusia perlu ditemukan dalam lapisan berumur sama agar rangkaian peristiwanya dapat dipastikan.
Pelapukan selama ribuan tahun semakin menyulitkan pencarian. Air laut dapat memicu korosi, penguraian bahan organik, serta pertumbuhan organisme pada benda yang terendam.
Namun, lingkungan minim oksigen dan lapisan sedimen juga dapat mengawetkan kayu, tulang, atau artefak tertentu. Karena itu, pelapukan lebih tepat dipandang sebagai tantangan identifikasi, bukan penjelasan bahwa seluruh bukti telah hilang.
Penelitian bawah laut juga membutuhkan biaya, teknologi, dan waktu besar. Wilayah Laut Jawa sangat luas, sedangkan sasaran pencarian yang didukung bukti arkeologis belum ditentukan secara pasti.
Sonar dapat memetakan permukaan dasar laut, tetapi belum tentu mendeteksi benda yang terkubur. Peneliti membutuhkan sub-bottom profiler, pengambilan inti sedimen, penyelaman, hingga penanggalan laboratorium.
Bentuk melingkar, gundukan, terumbu, atau kanal purba tidak dapat langsung disebut peninggalan kota. Setiap temuan harus diperiksa untuk menentukan apakah terbentuk secara alami atau berasal dari aktivitas manusia.
Tantangan utama hipotesis Dhani bukan hanya menemukan lokasi di bawah laut, melainkan menghadirkan artefak buatan manusia yang dapat dipastikan umur, fungsi, dan hubungannya dengan suatu permukiman.
Paparan Sunda yang tenggelam telah didukung bukti geologi. Sementara itu, Atlantis di Laut Jawa tetap menjadi hipotesis yang memerlukan penelitian lintas arkeologi, geologi, dan oseanografi.
Misteri tersebut membuka ruang penelitian baru terhadap jejak manusia di kawasan yang pernah menjadi daratan. Namun, sampai bukti arkeologis ditemukan dan diuji, Atlantis belum dapat dinyatakan pernah berdiri di dasar Laut Jawa. (*/ibn)












