Edu-Life & Sportꦧꦸꦢꦪ

Bahasa Indonesia dan Suara Gamelan Menggema di Melbourne

Penulis: AyundaEditor: Ayunda
×

Bahasa Indonesia dan Suara Gamelan Menggema di Melbourne

Sebarkan artikel ini
Jeremy Dullard, Eka Peodjiono, dan John Cheong-Holdaway bersiap untuk memainkan gamelan Bali di sanggar musik Gamelan Dananda di Thornbury, Melbourne, Australia.
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id – Hubungan budaya Indonesia dan Australia tumbuh melalui berbagai cara, termasuk dari ruang kelas dan komunitas seni. Di Melbourne, anak-anak sekolah belajar bahasa Indonesia, sementara warga dari berbagai usia memainkan gamelan Bali.

Salah satu penggeraknya adalah Kasenya Grant, guru bahasa Indonesia di Brunswick North West Primary School yang telah mengajar selama 11 tahun setelah sebelumnya mengampu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kasenya mulai mengenal bahasa Indonesia sekitar 30 tahun lalu ketika mengajar di sebuah SMA di Flores, Nusa Tenggara Timur. Saat itu ia belum bisa berbahasa Indonesia dan belajar dari buku serta murid-muridnya. Ia mengaku justru banyak belajar dari anak-anak Flores yang tidak segan mengoreksi kesalahannya tanpa membuatnya malu. Dua tahun di Flores menjadi fondasi kemampuan bahasanya.

Setelah kembali ke Australia, bahasa Indonesia sempat lama tidak digunakannya. Kerinduan itu muncul kembali ketika ia mendapat kesempatan belajar melalui program pemerintah.

Kini, murid-muridnya yang sebagian besar bukan keturunan Indonesia justru antusias mengikuti pelajaran. Mereka terutama tertarik pada budaya, termasuk nasi kuning dan pengalaman makan menggunakan tangan. Dari kegiatan itu, Kasenya mengajarkan bahwa setiap budaya memiliki kebiasaan dan tata krama berbeda.

Ia berharap murid-muridnya membiasakan diri mengamati sebelum menilai ketika bertemu budaya baru. Namun, pembelajaran bahasa Indonesia hanya mendapat waktu satu jam per pekan dan kerap terganggu kegiatan olahraga maupun ekskursi. Dalam setahun, murid hanya mendapat sekitar 32 kali pertemuan.

Gamelan Jadi Ruang Pertemuan

Budaya Indonesia juga diperkenalkan melalui Gamelan Dananda yang didirikan Jeremy Dullard pada 2011 dan resmi berorganisasi pada 2016. Anggotanya sangat beragam, mulai anak usia empat tahun hingga warga berusia 80-an. Sekitar separuh berlatar belakang Indonesia, sedangkan lainnya bergabung karena tertarik pada musik dan kehangatan komunitas.

Baca Juga  Persija Kukuh di Posisi Tiga usai Bungkam Persik Kediri 3-1

Jeremy yang kini menjadi Presiden sekaligus Musical Director mulai memainkan gamelan Bali pada 2006. Karena instrumennya tidak dijual di Melbourne, ia harus memesan langsung dari pengrajin di Bali dan menunggu berbulan-bulan hingga gamelan dikirim ke Australia melalui kapal.

Untuk memperkenalkannya kepada masyarakat, Gamelan Dananda rutin menggelar konser gratis. John Cheong-Holdaway, Creative Director komunitas tersebut, kemudian aktif mencari pendanaan pemerintah Australia agar gamelan Indonesia mendapat ruang di festival-festival besar.

John mengaku heran musik Jepang dan China kerap tampil di festival Australia, sedangkan musik Indonesia jarang mendapat kesempatan. Kini, Gamelan Dananda dapat tampil hampir 30 kali dalam setahun, mulai festival hingga upacara pemakaman warga Bali.

John berharap komunitas itu terus bertahan meski suatu saat dirinya tidak lagi terlibat. Ia ingin lahir seniman tradisional Indonesia di Australia yang meneruskan kiprah tersebut.

Eka Poedjiono, Cultural Advisor Gamelan Dananda, juga melihat gamelan sebagai bagian penting dari hubungan budaya kedua negara. Ayahnya, yang berasal dari Jawa, telah mengajar gamelan di Monash University sejak 1972.

Dibesarkan di Australia sejak usia tiga tahun, Eka awalnya hanya bisa berbahasa Bali dan kemudian belajar bahasa Indonesia. Ia hingga kini tetap berstatus Warga Negara Indonesia.

Eka heran melihat warga Australia begitu antusias mempelajari gamelan. Baginya, gamelan bukan sekadar musik, tetapi juga berkaitan dengan konsep ngayah, yakni tradisi pengabdian kepada komunitas di Bali.

Tantangan Keberlanjutan

Kelas bahasa Indonesia dan Gamelan Dananda menjadi contoh keterbukaan Melbourne terhadap seni dan bahasa dari berbagai negara. Keduanya memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia-Australia tidak hanya berlangsung melalui diplomasi resmi, tetapi juga melalui masyarakat.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengaku terharu melihat warga Australia berinisiatif menggunakan bahasa Indonesia dalam pertemuan resmi. Ia juga berterima kasih kepada Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong atas dukungan terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Baca Juga  Kirim 60 Atlet ke Kejurnas Woodball, Jatim Kejar Prestasi Terbaik

Sugiono turut mendorong pencak silat menjadi cabang eksibisi Olimpiade Brisbane 2032, seiring berkembangnya perguruan pencak silat di Australia.

Di balik antusiasme tersebut, persoalan keberlanjutan masih menjadi tantangan. Gamelan Dananda bergantung pada kerja sukarela, sementara bahasa Indonesia hanya mendapat satu jam pembelajaran setiap pekan.

Dengan dukungan pendanaan dan kebijakan yang berkelanjutan dari kedua negara, bahasa Indonesia dan gamelan diharapkan terus berkembang. Keduanya menjadi bukti bahwa hubungan Indonesia-Australia dapat tumbuh melalui suara gong, tabuhan gamelan, hingga anak-anak Melbourne yang belajar melafalkan bahasa Indonesia.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *