ꦧꦸꦢꦪ

Pemkab Trenggalek Gelar Jamasan Pusaka

Penulis: AyundaEditor: Ayunda
×

Pemkab Trenggalek Gelar Jamasan Pusaka

Sebarkan artikel ini
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin memimpin langsung prosesi pembersihan puluhan pusaka.
Example 468x60

Trenggalek, Jatimmandiri.id –  Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menggelar tradisi jamasan pusaka di Pendapa Manggala Praja Nugraha, Sabtu, sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya merawat warisan sejarah sekaligus memperkuat nilai kepemimpinan dan identitas budaya daerah. Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin memimpin langsung prosesi pembersihan puluhan pusaka peninggalan para pendahulu daerah, pusaka pribadi bupati, hingga pusaka pemberian Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Sejumlah pusaka yang dijamas antara lain Tombak Biring Sakembaran, Tombak Korowelang Sakembaran, Songsong Tunggul Nogo, Songsong Tunggul Praja, Pataka Jwalita Karana, serta penghargaan Parasamya Purna Karya Nugraha.

Prosesi juga mencakup gamelan Nyi Sekamti dan Prasasti Kamulan yang menjadi penanda sejarah berdirinya Kabupaten Trenggalek.

“Pusaka yang dijamas hari ini cukup lengkap. Dalam tradisi Mataram, pusaka tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga mengandung nilai spiritual dan pesan moral bagi pemimpin maupun masyarakat,” kata Bupati Arifin.

Arifin menjelaskan, sejumlah pusaka tersebut nantinya akan dikirab dalam rangkaian Hari Jadi Trenggalek. Sebelum prosesi kirab, pusaka disemayamkan di sejumlah lokasi yang menjadi bagian dari prosesi adat tahunan.

Menurut dia, peringatan Hari Jadi tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga sarana merawat memori kolektif masyarakat terhadap sejarah serta nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menambahkan, setiap pusaka memiliki filosofi yang masih relevan dengan tata kelola pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Tombak Korowelang mengandung pesan agar pemimpin mampu menyelesaikan persoalan rakyat sekaligus memberikan piwulang atau teladan yang baik kepada masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Songsong Tunggul Nogo atau payung kebesaran melambangkan kewajiban pemimpin untuk melindungi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Nilai tersebut mencakup perlindungan di bidang ekonomi, kesehatan hingga kesejahteraan sosial.

Baca Juga  Gunung Kawi: Menanti Keberuntungan Jatuh dari Langit, Seni Bersabar dan Akulturasi di Pesarean Eyang Djoega

Pemkab Trenggalek memandang pelestarian tradisi jamasan pusaka sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat karakter pelayanan publik yang berakar pada nilai sejarah dan kearifan lokal.

Rangkaian Hari Jadi ke-832 Trenggalek tahun ini mengusung tema Hambeging Bumi. Tema tersebut mengajak aparatur dan masyarakat meneladani sifat bumi yang memberikan manfaat bagi kehidupan sekaligus menjaga harmoni dengan alam.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Setelah ribuan tahun, Atlantis belum dapat ditempatkan sebagai fakta sejarah karena belum ada reruntuhan, artefak, prasasti,…