Malang, Jatim Mandiri
Program Pendanaan Usaha Mikro Kecil (PUMK) Pertamina membantu pelaku UMKM bertahan saat pandemi sekaligus memperluas pasar hingga mancanegara. Salah satunya usaha batik tulis di Malang yang kini menembus Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Rusia setelah memperoleh pembiayaan serta pendampingan usaha.
Pelaku usaha batik tulis Iwan Ahmad Irawan mengatakan dirinya pernah memperoleh pendanaan total Rp250 juta dalam dua tahap. Masing-masing Rp100 juta dan Rp150 juta, saat pandemi COVID-19. “Jadi itu membantu kami tetap bertahan bahkan setelah pinjaman lunas, tetap dibina dan diajak pameran,” kata Iwan di Kota Batu, sebagaimana dikutip Antara, Kamis (20/8).
Dana itu digunakan untuk modal dan operasional usaha, termasuk membayar karyawan. Setelah kondisi usaha membaik, pemasaran produknya berkembang hingga menjangkau sejumlah negara.
Meski pinjaman telah lunas, Iwan tetap mengikuti pembinaan dan pameran yang difasilitasi Pertamina. Kegiatan itu turut membuka peluang pesanan dari pemasok maupun konsumen dalam negeri.
“Kalau dulu sebelum COVID itu omzet bisa tembus Rp200 hingga Rp300 juta per bulan. Sekarang bisa tetap bertahan dan bersyukur maksimal omzet dapat sekitar Rp150 juta per bulan,” ujarnya.
Produk batiknya mengandalkan kualitas serta penggunaan pewarna alami dari daun dan kulit kayu, seperti kelengkeng dan mahoni, selain pewarna sintetis. Pendamping TJSL Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, Prina Widya, mengatakan program PUMK telah berakhir pada 2022 dan skema pendanaannya dialihkan ke Bank BRI sesuai arahan Kementerian BUMN saat itu.
Namun, Pertamina tetap memberikan pendampingan kepada UMKM potensial melalui program UMKM Akademi. “Mitra kami ini yang sudah pinjaman lunas memiliki produk yang bagus, kami bantu melalui UMKM Akademi yang kami bina untuk dilanjutkan ke pasar global,” kata Prina.
Di wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, Pertamina memiliki 362 UMKM unggulan sebagai mitra binaan. Sekitar 40 di antaranya berasal dari Bali. (ibn)












