Jakarta, Jatim Mandiri
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memamerkan teknologi mesin pirolisis yang mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar setara solar pada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8). Teknologi dengan rasio konversi 1:1 itu diklaim telah diterapkan di sekitar 80 desa nelayan dan menjadi salah satu inovasi yang mendukung kemandirian energi.
Dalam pemaparan kepada Presiden, peneliti BRIN menjelaskan sekitar 70 persen sampah di Indonesia merupakan plastik bernilai rendah. Sampah plastik itu berpotensi diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) setara diesel untuk mendukung kebutuhan nelayan.
Sampel solar hasil olahan tersebut diklaim telah diuji di Balai Besar Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) dengan angka setana (cetane number/CN) 48 dan 51 atau setara Pertamina Dex.
Presiden Prabowo kemudian menanyakan harga mesin pengolah sampah tersebut. Peneliti BRIN menjelaskan mesin pirolisis berkapasitas 50 kilogram dibanderol sekitar Rp150 juta. Tapi untuk versi skala kecil, harganya sekitar Rp50 juta. “Berapa harganya per unit?” tanya Presiden Prabowo.
“Iya, Rp150 juta untuk 50 kilo. Di desa nelayan ini sudah dipasang sekitar 80 unit, Pak Presiden,” jawab peneliti BRIN.
Menurut BRIN, mesin pirolisis memiliki rasio konversi 1:1, sehingga 5 kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sekitar 5 liter solar. Sedangkan 50 kilogram sampah akan menjadi 50 liter, 100 kilogram sampah menjadi 100 liter, hingga 500 kilogram sampah akan menghasilkan 500 liter secara otomatis.
Teknologi tersebut merupakan salah satu dari puluhan hasil riset yang dipamerkan BRIN kepada Presiden. Sebanyak 15 stan inovasi ditampilkan, mencakup bidang kedirgantaraan, energi dan mineral, teknologi nuklir, pengelolaan sampah, pangan, kesehatan, transportasi, pertahanan, hingga pelestarian warisan budaya.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi mengatakan pameran itu menunjukkan kemampuan riset nasional dalam menjawab kebutuhan strategis Indonesia. “Ini penanda Indonesia memiliki kapasitas nyata untuk menjawab kebutuhan strategis bangsa secara mandiri, khususnya di bidang strategis seperti pangan, energi, air, kesehatan, pertahanan, dan industrialisasi nasional,” kata Prasetyo. (ant/ibn)












