Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Ilmuwan di berbagai belahan dunia terus mengembangkan teknologi bawah laut seperti sonar, LiDAR, multibeam, magnetometer, dan ROV untuk memetakan reruntuhan kota yang diyakini tenggelam ribuan tahun lalu. Di Indonesia, teknologi serupa turut dipakai untuk menelusuri hipotesis peneliti Dhani Irwanto yang meyakini peradaban legendaris Atlantis pernah berdiri di kawasan Laut Jawa, tepatnya di sekitar Pulau Bawean.
Pencarian kota yang tenggelam bukan perkara mudah. Dasar laut yang gelap, keruh, dan dalam membuat mata manusia tak banyak berguna. Sehingga para peneliti mengandalkan sejumlah instrumen canggih secara berlapis.
Sonar menjadi alat paling umum digunakan. Alat ini memancarkan gelombang suara ke dasar laut lalu menangkap pantulannya untuk membentuk gambaran kontur dan objek di kedalaman tertentu.
Deteksi dan Pengukuran Cahaya atau Light Detection and Ranging (LiDAR) bekerja dengan prinsip berbeda. Yakni dengan memanfaatkan pancaran sinar laser dari udara atau permukaan air. Teknologi ini efektif memetakan area luas dengan cepat, termasuk struktur yang tertutup vegetasi atau berada di perairan dangkal.
Multibeam echosounder merupakan pengembangan dari sonar konvensional. Alat ini mampu memancarkan banyak berkas sinyal sekaligus sehingga menghasilkan peta tiga dimensi dasar laut yang jauh lebih rinci dan akurat.
Magnetometer berperan mendeteksi anomali medan magnet yang biasanya muncul akibat keberadaan logam atau struktur buatan manusia di bawah sedimen. Sementara ROV, robot bawah air yang dikendalikan dari permukaan, digunakan untuk verifikasi visual langsung setelah lokasi potensial ditemukan.
Kelima alat itu umumnya dipakai bertahap, mulai dari pemetaan wilayah luas hingga verifikasi objek spesifik. Kombinasi inilah yang juga menjadi rujukan bila suatu saat pencarian bukti fisik Atlantis dilakukan secara serius di lapangan.
Dhani Irwanto, peneliti sekaligus insinyur teknik sipil hidro lulusan Universitas Gadjah Mada, telah mengarahkan hipotesisnya ke perairan timur laut Pulau Bawean. Ia meyakini bekas ibu kota Atlantis kini tertutup terumbu karang yang dikenal dengan nama Gosong Gia atau Annie Florence Reef.
Wilayah tersebut, menurut Dhani, sempat dipetakan secara rinci menggunakan multibeam echosounder. Dari pola terumbu karang hasil pemetaan itu, dia mengklaim masih dapat mengenali jejak struktur kota dengan ukuran yang sesuai narasi Plato.
Hipotesis ini disusun berdasarkan puluhan indikator kecocokan antara catatan Plato dan kondisi geografis Sundaland purba. Dhani menyebut wilayah dataran yang kini menjadi Laut Jawa dan sekitarnya sebagai lokasi yang paling sesuai dengan deskripsi tersebut.
Bukti yang pertama ditelusuri, kata Dhani, yakni dataran dan saluran. Luas dataran Atlantis pada 11.600 tahun lebih silam itu adalah 555 x 375 kilometer persegi. Berbentuk seperti selongsong peluru, ada pegunungan di bagian utara Atlantis serta laut di bagian selatan. “Lokasinya yang cocok dengan kondisi sekarang itu di wilayah Kalimantan Tengah,” ujarnya saat berdiskusi tentang misteri kuno di Lawang Wangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Menurutnya, Pulau Bawean berjarak sekitar 150 kilometer dari titik lokasi yang ia duga, dan di pulau itu juga ditemukan batu berwarna merah, hitam, serta putih seperti yang digambarkan dalam catatan Plato. Menurut Dhani, kawasan yang diyakininya itu tenggelam sekitar 11.600 tahun silam akibat gempa dan kenaikan permukaan laut pascaglasial.
Dhani menyusun sedikitnya 60 poin kecocokan antara narasi Plato dan kondisi Sundaland sebagai dasar teorinya, mulai dari bentuk dataran, pola sungai dan saluran, hingga iklim dua musim yang hangat sepanjang tahun. Hipotesis lokasi Atlantis sendiri hingga kini masih menjadi perdebatan terbuka di kalangan peneliti dunia, dengan sejumlah lokasi lain juga diajukan sebagai kandidat, sehingga pembuktian akhirnya tetap membutuhkan data dan verifikasi lapangan lebih lanjut. (*/ibn)












