Beritaꦧꦸꦢꦪ

Mendeteksi Atlantis dengan Teknologi Bawah Laut

×

Mendeteksi Atlantis dengan Teknologi Bawah Laut

Sebarkan artikel ini
Penerapan teknologi diharapkan terus dikembangkan untuk menelusuri hipotesis peneliti Dhani Irwanto yang meyakini peradaban legendaris Atlantis pernah berdiri di kawasan Laut Jawa.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Ilmuwan di berbagai belahan dunia terus mengembangkan teknologi bawah laut seperti sonar, LiDAR, multibeam, magnetometer, dan ROV untuk memetakan reruntuhan kota yang diyakini tenggelam ribuan tahun lalu. Di Indonesia, teknologi serupa turut dipakai untuk menelusuri hipotesis peneliti Dhani Irwanto yang meyakini peradaban legendaris Atlantis pernah berdiri di kawasan Laut Jawa, tepatnya di sekitar Pulau Bawean.

Pencarian kota yang tenggelam bukan perkara mudah. Dasar laut yang gelap, keruh, dan dalam membuat mata manusia tak banyak berguna. Sehingga para peneliti mengandalkan sejumlah instrumen canggih secara berlapis.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Sonar menjadi alat paling umum digunakan. Alat ini memancarkan gelombang suara ke dasar laut lalu menangkap pantulannya untuk membentuk gambaran kontur dan objek di kedalaman tertentu.

Deteksi dan Pengukuran Cahaya atau Light Detection and Ranging (LiDAR) bekerja dengan prinsip berbeda. Yakni dengan memanfaatkan pancaran sinar laser dari udara atau permukaan air. Teknologi ini efektif memetakan area luas dengan cepat, termasuk struktur yang tertutup vegetasi atau berada di perairan dangkal.

Multibeam echosounder merupakan pengembangan dari sonar konvensional. Alat ini mampu memancarkan banyak berkas sinyal sekaligus sehingga menghasilkan peta tiga dimensi dasar laut yang jauh lebih rinci dan akurat.

Magnetometer berperan mendeteksi anomali medan magnet yang biasanya muncul akibat keberadaan logam atau struktur buatan manusia di bawah sedimen. Sementara ROV, robot bawah air yang dikendalikan dari permukaan, digunakan untuk verifikasi visual langsung setelah lokasi potensial ditemukan.

Kelima alat itu umumnya dipakai bertahap, mulai dari pemetaan wilayah luas hingga verifikasi objek spesifik. Kombinasi inilah yang juga menjadi rujukan bila suatu saat pencarian bukti fisik Atlantis dilakukan secara serius di lapangan.

Baca Juga  Menyisir Perdagangan Purba di Nusantara

Dhani Irwanto, peneliti sekaligus insinyur teknik sipil hidro lulusan Universitas Gadjah Mada, telah mengarahkan hipotesisnya ke perairan timur laut Pulau Bawean. Ia meyakini bekas ibu kota Atlantis kini tertutup terumbu karang yang dikenal dengan nama Gosong Gia atau Annie Florence Reef.

Wilayah tersebut, menurut Dhani, sempat dipetakan secara rinci menggunakan multibeam echosounder. Dari pola terumbu karang hasil pemetaan itu, dia mengklaim masih dapat mengenali jejak struktur kota dengan ukuran yang sesuai narasi Plato.

Hipotesis ini disusun berdasarkan puluhan indikator kecocokan antara catatan Plato dan kondisi geografis Sundaland purba. Dhani menyebut wilayah dataran yang kini menjadi Laut Jawa dan sekitarnya sebagai lokasi yang paling sesuai dengan deskripsi tersebut.

Bukti yang pertama ditelusuri, kata Dhani, yakni dataran dan saluran. Luas dataran Atlantis pada 11.600 tahun lebih silam itu adalah 555 x 375 kilometer persegi. Berbentuk seperti selongsong peluru, ada pegunungan di bagian utara Atlantis serta laut di bagian selatan. “Lokasinya yang cocok dengan kondisi sekarang itu di wilayah Kalimantan Tengah,” ujarnya saat berdiskusi tentang misteri kuno di Lawang Wangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Menurutnya, Pulau Bawean berjarak sekitar 150 kilometer dari titik lokasi yang ia duga, dan di pulau itu juga ditemukan batu berwarna merah, hitam, serta putih seperti yang digambarkan dalam catatan Plato. Menurut Dhani, kawasan yang diyakininya itu tenggelam sekitar 11.600 tahun silam akibat gempa dan kenaikan permukaan laut pascaglasial.

Dhani menyusun sedikitnya 60 poin kecocokan antara narasi Plato dan kondisi Sundaland sebagai dasar teorinya, mulai dari bentuk dataran, pola sungai dan saluran, hingga iklim dua musim yang hangat sepanjang tahun. Hipotesis lokasi Atlantis sendiri hingga kini masih menjadi perdebatan terbuka di kalangan peneliti dunia, dengan sejumlah lokasi lain juga diajukan sebagai kandidat, sehingga pembuktian akhirnya tetap membutuhkan data dan verifikasi lapangan lebih lanjut. (*/ibn)

Baca Juga  Hak Jawab Spiritshaus Barata Jaya

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Bank Mandiri menghadirkan rangkaian program sosial, promo, dan layanan digital di Surabaya selama Agustus 2026 untuk menyambut…

Berita

Jakarta, Jatim Mandiri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memamerkan teknologi mesin pirolisis yang mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi…

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, terus meluas hingga menghanguskan sekitar 70…

Berita

Probolinggo, Jatim Mandiri Pemerintah Kota Probolinggo akan menambah jaringan Super Koridor internet pada akhir 2026 untuk memperkuat transformasi digital dan…