Jatimmandiri.id – Bawang merah menjadi salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia.
Permintaan pasar yang stabil membuat tanaman ini menjadi pilihan banyak petani karena mampu memberikan keuntungan yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik.
Namun, untuk memperoleh hasil panen yang maksimal, budidaya bawang merah tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Mulai dari pemilihan bibit hingga proses panen harus diperhatikan agar produktivitas tetap tinggi dan kualitas umbi terjaga.
Berikut panduan lengkap budidaya bawang merah yang dapat diterapkan oleh petani maupun pemula.
1. Pilih Bibit Bawang Merah Berkualitas
Keberhasilan budidaya bawang merah sangat dipengaruhi oleh kualitas bibit.
Gunakan bibit yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Berasal dari tanaman sehat.
- Berumur sekitar 60–70 hari setelah panen.
- Umbi padat dan tidak keriput.
- Bebas dari hama maupun penyakit.
- Diameter umbi sekitar 1,5–2 sentimeter.
Bibit unggul memiliki daya tumbuh yang lebih baik sehingga mampu menghasilkan umbi yang besar dan seragam.
2. Siapkan Lahan Tanam
Bawang merah tumbuh optimal pada tanah yang gembur, subur, dan memiliki sistem drainase yang baik.
Langkah pengolahan lahan meliputi:
- Membersihkan gulma dan sisa tanaman.
- Menggemburkan tanah sedalam 20–30 sentimeter.
- Membuat bedengan selebar 100–120 sentimeter dengan tinggi sekitar 30 sentimeter.
- Memberikan pupuk kandang matang sebanyak 10–20 ton per hektare.
Tanah dengan tingkat keasaman (pH) sekitar 5,6–6,5 menjadi kondisi ideal bagi pertumbuhan bawang merah.
3. Penanaman yang Tepat
Sebelum ditanam, potong sedikit bagian ujung umbi untuk mempercepat pertumbuhan tunas.
Tanam bibit dengan posisi tegak dan kedalaman sekitar dua pertiga bagian umbi.
Jarak tanam yang dianjurkan yaitu:
- 15 x 15 sentimeter.
- 15 x 20 sentimeter, tergantung varietas dan kondisi lahan.
Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar bibit tidak mengalami stres akibat suhu yang terlalu tinggi.
4. Lakukan Penyiraman Secara Teratur
Pada awal pertumbuhan, bawang merah membutuhkan kelembapan tanah yang cukup.
Penyiraman dilakukan sebanyak satu hingga dua kali sehari, terutama saat musim kemarau.
Memasuki masa pembentukan umbi, intensitas penyiraman dapat dikurangi agar umbi tidak mudah membusuk.
5. Berikan Pupuk Sesuai Kebutuhan
Selain pupuk dasar, tanaman bawang merah memerlukan pupuk susulan agar pertumbuhannya optimal.
Jenis pupuk yang umum digunakan meliputi:
- Urea.
- NPK.
- ZA.
- KCl.
Pemberian pupuk dilakukan secara bertahap sesuai umur tanaman agar penyerapan unsur hara berlangsung maksimal.
6. Kendalikan Gulma dan Hama
Gulma harus dibersihkan secara rutin karena dapat bersaing dengan tanaman dalam menyerap air dan unsur hara.
Selain itu, beberapa hama yang sering menyerang bawang merah antara lain:
- Ulat grayak.
- Thrips.
- Lalat pengorok daun.
Sedangkan penyakit yang umum dijumpai meliputi:
- Busuk umbi.
- Layu fusarium.
- Bercak ungu.
Pengendalian dapat dilakukan melalui sanitasi lahan, penggunaan pestisida sesuai anjuran, serta penerapan pengendalian hama terpadu.
7. Panen pada Waktu yang Tepat
Bawang merah umumnya dapat dipanen setelah berumur sekitar 60–70 hari, tergantung varietas dan kondisi lingkungan.
Ciri-ciri tanaman siap panen antara lain:
- Daun mulai menguning sekitar 70–80 persen.
- Batang rebah secara alami.
- Umbi terlihat padat dan berwarna merah cerah.
Panen dilakukan saat cuaca cerah agar proses pengeringan berlangsung lebih cepat.
8. Lakukan Pengeringan dan Penyimpanan
Setelah dipanen, bawang merah sebaiknya dijemur selama 7–14 hari hingga daun dan leher batang benar-benar kering.
Proses pengeringan bertujuan memperpanjang daya simpan sekaligus menjaga kualitas umbi sebelum dipasarkan.
Simpan bawang merah di tempat yang memiliki sirkulasi udara baik, kering, dan tidak lembap agar tidak mudah membusuk.
Tips Agar Hasil Panen Lebih Maksimal
Untuk meningkatkan produktivitas bawang merah, petani dapat menerapkan beberapa langkah berikut:
- Gunakan varietas unggul yang sesuai dengan kondisi daerah.
- Lakukan rotasi tanaman untuk mengurangi risiko penyakit.
- Hindari genangan air di lahan.
- Rutin memantau serangan hama sejak awal.
- Gunakan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah.
- Terapkan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman.












